Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Ada yang cemburu


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Ley segera keluar dengan pakaian santainya.


"Kemana dia? apakah keluar dari kamar? aku rasa tidak mungkin. Dia kan, belum cuci muka dan juga mandi." Gumamnya sambil mencari keberadaan suaminya yang tidak terlihat di dalam kamar.


Karena ingin merasakan sensasi rasa dingin di kepalanya pada rambutnya yang basah, Ley sengaja mengeringkannya dengan handuk saja.


"Sepertinya mencari udara segar di balkon sangat menyegarkan, keluar ah." Kata Ley sambil mengusap rambutnya dengan handuk.


"Aw! maaf, aku tidak sengaja." Pekik Ley saat membuka pintu dan menabrak suaminya yang hendak masuk ke kamar.


"Tidak perlu meminta maaf, karena kita sama-sama tidak tahu. Oh ya, sudah selesai mandinya? kok, rambutnya tidak di keringkan."


"Lagi pingin merasakan sensasi dingin di kepala, itu saja."


"Oh, kirain ada yang rusak dengan alat pengering rambut. Ya sudah kalau begitu, aku mandi dulu." Ucap Raga, Ley mengangguk dan menuju balkon.


Karena ada kepentingan yang harus diselesaikan, cepat-cepat Raga segera mandi dan melanjutkan aktivitasnya. Ditambah lagi sudah berjanji untuk melakukan pengobatan pada wajah istrinya, Raga tidak ingin membuang waktunya dengan sia-sia.


Begitu juga dengan Ozan, tengah sibuk untuk mempersiapkan diri ketika berhadapan dengan Leyza dan juga Raga. Tentunya untuk membicarakan hal penting sesuai perjanjian dari orang tua masing-masing.


Saat mengenakan baju, Ozan di kagetkan dengan ketukan pintu. Kemudian, ia membukanya.


"Lindan, ada apa kamu menemui-ku?" panggil Ozan saat mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Ini, berkasnya. Hari ini aku tidak ikut dalam rapat, karena sudah di wakilkan oleh Kak Raga. Jadi, aku hanya memeriksa semua berkas yang diperintahkan oleh Papaku. Satu lagi, keputusan apapun yang akan ditentukan, Papaku meminta untuk bisa menerimanya dengan lapang." Ucap Lindan tak lupa untuk memberi penjelasan, takutnya akan salah paham nantinya.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menerima pesan yang sudah menjadi keputusan." Jawab Ozan sambil menerima berkas yang diberikan oleh Lindan.


"Kalau begitu, aku pamit mau istirahat. Karena semalaman aku bergadang untuk memeriksa satu per satu, permisi." Ucap Lindan berpamitan.


"Ya, silakan." Jawab Ozan, Lindan mengangguk dan pergi dari hadapan Ozan.


Tidak hanya Ozan saja yang mendapatkan pesan dari orang tuanya, Lindan juga diminta untuk menyampaikan pesan dari ayahnya kepada sang kakak.


Dengan hati-hati karena takut mengagetkan kakaknya, Lindan mengetuk pintunya dengan pelan.


"Hem. Kamu, ada apa?" tanya Raga saat melihat adiknya yang sudah mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


Lindan memperhatikan kakaknya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, menatapnya dengan pikiran kotornya.


Raga yang merasa diperhatikan oleh adiknya, ia ikut memeriksa penampilannya sendiri yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya saja.


Seketika, Raga dapat menangkap apa yang sedang dipikirkan oleh adik laki-lakinya.


"Jangan berpikiran me*sum, aku tidak melakukan apapun dengannya. Cepat katakan, apa yang ingin kamu sampaikan."


"Dih, sapa yang memikirkan sampai ke situ? hem. Aku menemui Kak Raga itu, ada pesan dari Papa untuk Kakak dan Kakak ipar."


"Pesan apaan? awas ya, kalau kamu ada niat untuk mengerjai aku."


"Siapa juga yang mau mengerjai Kak Raga, kek tidak ada kerjaan yang lainnya saja."


"Sudah cepat kamu katakan, apa yang ingin kamu sampaikan, Lindan?"


"Begini, berkasnya sudah aku berikan kepada Kak Ozan. Jadi, apapun keputusannya nanti, Kak Raga dan Kakak ipar bisa lapang menerimanya." Ucap Lindan.


"Hanya itu saja kah?" tanya Raga ingin memastikan.


"Ya, hanya itu dan tidak ada yang lain. Waktu kita tidak lama, satu jam lagi kita harus sampai di tempat tujuan. Jadi, bersiap-siaplah untuk berangkat setelah sarapan pagi."


"Tidak, aku tidak ikut, badanku sangat capek. Soalnya semalaman aku bergadang sampai pagi. Jadi, aku mau istirahat saja di rumah." Jawab Lindan.


"Ya sudah, sana pergi." Usir Raga pada Lindan, adiknya.


"Ya, ya, Kak." Jawab Lindan dan pergi dari hadapan sang kakak.


Ketika Lindan sudah pergi dari hadapannya, Raga menutup pintu kamarnya.


"Tadi siapa?" tanya Ley karena mendengar suara dari luar meski kedengaran samar-samar.


"Lindan yang kemari, kenapa? bukan Ozan." Jawab Raga sambil berjalan menuju lemari pakaiannya.


"Kenapa menuju ke Kak Ozan, aku hanya tanya siapa tadi?"


"Terserah aku mau menjawabnya seperti apa, yang jelas apa yang aku jawab itu, benar dan tidak salah." Kata Raga yang terlihat jelas jika menunjukkan kecemburuannya.

__ADS_1


"Ya, memang benar. Sayangnya tidak nyambung dan dipaksa disambungkan."


Raga tidak menanggapinya, memilih fokus untuk mengenakan pakaiannya. Bahkan tanpa malu untuk melepaskan handuknya untuk mengenakan baju dan yang lainnya.


Ley yang tanpa disengaja telah melihatnya dan langsung membuang muka ke sembarangan arah.


Raga yang dapat menangkap ekspresi istrinya lewat pantulan cermin, hanya bisa tersenyum tanpa sepengetahuan istrinya.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Raga menuju tempat untuk menyisir rambutnya.


"Mana sisirnya, berikan padaku." Ucap Raga yang sudah berdiri di belakang istrinya yang sedang duduk di depan cermin.


Ley langsung memberikan sisirnya dan segera menyingkir dari posisinya.


Saat berdiri, Raga langsung mengambil kesempatan. Tangan kirinya menahan tengkuk lehernya dan tangan satunya menahan tangan kanan milik istrinya. Kemudian, Raga langsung menc*ium bibir istrinya dengan penuh nafsu"su.


Ley tak mampu memberontak, lantaran tenaga suaminya jauh lebih kuat darinya. Tentu saja, Ley kualahan dan tak mampu melepaskan diri dan akhirnya terpaksa menikmatinya.


"Ayo kita keluar, waktunya untuk sarapan pagi." Ajak Raga dengan santai, dan tidak terlihat sedikitpun rasa bersalahnya terhadap sang istri.


Ley masih menatap kesal wajah suaminya, ingin rasanya menampar wajahnya, terpaksa ia urungkan.


Tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya, Ley segera menyingkir dan segera keluar dari kamar. Sedangkan Raga segera menyisir rambutnya dan menyusul sang istri yang sudah keluar lebih dulu.


Saat sudah berada di ruang makan, Ley memilih tempat duduk dengan asal.


"Raga mana?" tanya ibu mertua.


"Masih di kamar, Ma. Sebentar lagi juga turun." Jawab Ley.


"Oh kirain Mama, Raga sedang tidak enak badan."


"Tidak kok, Ma." Jawab Ley.


Setelah itu datanglah Lindan dan Ozan, keduanya duduk dan di susul Raga yang baru saja turun dari anak tangga.


Ketika sudah berada di ruang makan, satu persatu mengambil porsinya masing-masing. Ley yang sadar dengan statusnya sebagai sang istri, tak lupa melayani suaminya.

__ADS_1


Meski pemandangan itu menyakitkan bagi yang merasa cemburu, Ley tidak memperdulikan jika dirinya mengetahui jika Ozan cemburu besar dengan suaminya.


Mau bagaimana lagi, dirinya tak ada rasa cinta apapun pada Ozan, dan tidak membuatnya takut.


__ADS_2