
Karena penasaran dan ingin mengetahui seperti apa wajah dan sosok suami temannya, Ozan dan Reni mengantarkan sahabatnya sampai di depan pintu.
Terlihat hanya punggung milik Raga, Reni benar-benar ingin mengetahui seberapa tampan suami sahabatnya itu. Dan benar saja, saat itu Raga membalikkan badannya.
Sungguh tidak menyangka, jika suami sahabatnya sangatlah tampan dan penuh pesona. Tetapi tidak dimata Leyza, justru suaminya terlihat begitu angkuh dan dingin, serta sangat kasar dalam bicara.
Sedangkan Ozan yang melihat sosok Raga, dirinya merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suami temannya. Meski terlihat berbeda dari segi penampilan, Ozan tidak kalah tampannya jika berpenampilan yang sama.
Reni yang ikut terpesona dengan suami temannya, memulai membisikkan sesuatu didekat daun telinganya.
"Ley, itu beneran suami kamu?" tanya Reni sambil berbisik, Ley mengangguk.
"Ya, Raga namanya." Jawab Ley sambil mengarahkan pandangannya kepada sang suami.
Raga mendekati.
"Sudah waktunya untuk pulang, ayo kita pulang."
Seketika, Reni dan Ozan menjadi bengong saat mendengar ajakan dari suami temannya tanpa terlihat ramah sedikitpun. Bahkan, terlihat jelas sikap angkuh ada pada diri Raga, suami Leyza.
"Leyza, nggak mau ngenalin suami kami nih, sama kita berdua?"
__ADS_1
Reni yang penasaran dengan suami teman dekatnya, mencoba untuk melihat reaksinya.
"Ah ya, aku sampai lupa. Perkenalkan, suamiku bernama Raga." Ucap Leyza memperkenalkan suaminya kepada kedua temannya.
Ozan mengulurkan tangan kanannya, seraya mengajaknya berkenalan.
"Ozan, teman Leyza dan sekaligus satu pekerjaan." Ucap Ozan memperkenalkan diri pada Raga.
"Raga." Jawab Raga dengan sombongnya tanpa menerima uluran tangan dari Ozan.
Merasa geram dan sangat dongkol, ingin rasanya Ozan melayangkan sebuah tinjuan pada Raga, suami temannya.
Ozan mengangguk.
"Ya, hati-hati dijalan." Jawab Reni, sedangkan Ozan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Tanpa berpamitan dengan sopan dan ramah, Raga langsung memutar balikkan badannya dan berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Leyza yang sebenarnya merasa kesal dan juga malu dengan kedua temannya, terpaksa segera mengejar suaminya.
Ozan yang melihatnya, pun merasa curiga dengan hubungan pernikahan Leyza.
"Sepertinya Leyza tidak bahagia dengan pernikahannya, aku dapat melihat dari sikap suaminya yang terlihat begitu sombong dan juga angkuh." Ucap Ozan sambil memperhatikan bayangan Leyza tak terlihat lagi.
__ADS_1
"Jangan berburuk sangka dengannya, siapa tahu aja, suaminya cemburu dengan kamu. Bukankah cowok itu juga pencemburu? ya, 'kan? positif thinking aja deh, Zan."
"Tapi aku dapat melihatnya, bahwa Ley tidak bahagia." Ucapnya dan memutar balikkan badannya masuk kedalam.
"Bilang aja kalau kamu juga cemburu, ya 'kan?"
Ozan menoleh.
"Cemburu? tentu saja aku cemburu melihatnya, karena sebenarnya aku sendiri menyukainya."
"Makanya, kalau cinta itu di perjuangkan. Kamu sih, selalu mengalah. Begini kan, jadinya. Sekarang Leyza sudah menjadi istri orang, sedangkan kamu hanya bisa menghayal saja." Ucap Reni mengingatkan.
"Mana aku tahu, jika Leyza hanya dimanfaatkan Aizan." Jawab Ozan yang tidak begitu mencari tahu siapa Aizan sebenarnya, lelaki yang hanya memanfaatkan Leyza karena penghasilannya yang cukup lumayan.
"Sudahlah, mungkin memang kenyataannya kamu bukanlah jodohnya Leyza. Jadi, sudah saatnya untuk mencari penggantinya."
"Ngomong mah gampang, tapi tidak untuk menjalaninya. Kalau begitu, aku juga mau pamit pulang. Aku sudah tidak bersemangat untuk ikut praktik. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa minta tolong dengan Mbak Nela, ok." Ucap Ozan yang langsung berpamitan pergi.
"Ya ya ya, bilang aja kalau sedang patah hati." Ledek Reni, Ozan langsung menoleh pada Reni.
"Terserah, aku pulang." Ucap Ozan dan langsung meraih tas kecilnya.
__ADS_1