Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Berterus terang


__ADS_3

Leyza, pun berdehem.


Raga menoleh dan mendongak ke atas, tepatnya pada Leyza istri istrinya. Tatapannya, pun masih menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sang istri.


"Ley, duduklah. Karena malam ini, adalah malam terakhir kita untuk menikmati makan malam bersama." Ucap Bunda Yuna mempersilakan menantunya untuk duduk.


Ley mengangguk, dan duduk disebelah suaminya.


"Makan malam terakhir, maksud Mama?"


"Besok, kamu dan Mama, juga Lindan, akan menemani kamu liburan ke luar negri." Jawab ibu mertua, Leyza sendiri masih bingung dan menoleh pada suaminya.


"Jangan kepedean, aku tidak akan ikut liburan bersama kamu." Ucap Raga dengan tatapan tidak suka.


Bukannya takut atau bersedih, justru Ley tersenyum pada suaminya.


"Ngapain kamu senyum-senyum tidak jelas, dih."


"Tidak apa-apa jika kamu tidak mau ikut, lagi pula aku tidak mengharapkan kamu untuk ikut menemani aku liburan." Kata Leyza yang kini mulai berani menjawabnya, tidak peduli baginya jika suaminya begitu kesal terhadap dirinya. Tetap saja, Ley berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Raga yang mendengarnya, pun merasa dongkol saat istrinya berani menjawab.


"Mentang-mentang semua berpihak denganmu, mau seenaknya saja menghakimi diriku." Ucap Raga yang merasa tidak terima.


"Raga, diam. Yang dikatakan istri kamu itu memang benar, Leyza tidak mengharapkan kamu untuk ikut, jadi kamu jangan kepedean bahwa isti kamu membutuhkan kamu." Timpal sang ayah ikut bicara.


Raga mendesis, dan memilih untuk mengambil porsi makan malamnya dari pada harus berdebat dengan orang tuanya sendiri.


Begitu juga dengan Leyza, dirinya juga memilih untuk diam dari pada harus berdebat dengan suaminya yang menurutnya tidak mempunyai hati baik, pikirnya.


Semua diam, tidak ada satupun yang bersuara, hanya terdengar suara sendok yang saling beradu di atas piring hingga selesai menikmati makan malamnya.


Sesudah itu, Raga maupun Lindan, masuk ke kamarnya masing-masing, tetapi tidak untuk Leyza.


"Memangnya ada apa sih, Ma?" tanya Ley saat dirinya ditahan untuk tidak kembali ke kamar dulu.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin Mama dan Papa bicarakan sama kamu, tetapi tidak untuk di ruang makan. Kita akan membicarakannya di ruang privasi, ayuk." Jawab ibu mertua, dan mengajak Leyza untuk pindah tempat.


"Ya, Ma." Jawab Ley, dan ikut mertuanya menuju ruang privasi keluarga.


Ketika sudah masuk, Tuan Hamas menguncinya.


"Duduklah, kamu tidak perlu takut dan juga tegang." Ucap Tuan Hamas kepada menantunya.


Saat sudah duduk berhadapan dengan ayah dan ibu mertua, Leyza berusaha untuk bersikap tenang tanpa harus tegang.


"Begini Nak, Mama dan Papa ada niat baik untuk kamu." Ucap ibu mertua, Leyza masih fokus untuk menyimak.


Bunda Yuna yang sedikit ragu, Tuan Hamas mengangguk, seraya memberi kode pada istrinya.


Dengan tekadnya yang sudah bulat, Bunda Yuna meyakinkan bahwa menantunya tidak akan menolaknya.


"Maksud Mama dan Papa meminta kamu untuk mengobrol di ruang privasi ini, tidak lain untuk meminta persetujuan dari kamu." Ucap Bunda Yuna, Leyza mencoba untuk mencernanya, tetap saja belum juga mengerti dan tidak dapat menebaknya.


"Kalau Leyza boleh tahu, memangnya persetujuan apa ya, Ma?" tanya Leyza yang benar-benar penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh ibu mertuanya.


Diraihnya kedua tangan milik menantunya, kemudian menatapnya dengan fokus.


"Mama dan Papa menginginkan kamu untuk melakukan operasi wajah."


Dengan cepat, Leyza melepaskan tangan milik ibu mertuanya. Bunda Yuna terkejut.


"Mama dan Papa tidak ada maksud apapun, Nak. Mama hanya tidak ingin jika Raga selalu mencemooh kamu, tidak lebih dari itu." Ucap Bunda Yuna merasa bersalah atas ucapannya.


"Ya, Nak. Papa juga sependapat dengan Mama, jika kami mau melakukan yang terbaik untuk kamu. Bukan berarti kita ini tidak bisa menerima kehadiran kamu, bukan, bukan itu." Timpal Tuan Hamas ikut bicara, Leyza sendiri masih tidak menjawab.


"Benar, Nak ... Mama tidak ada maksud apapun." Ucap Bunda Yuna yang terus berusaha untuk merayu menantunya.


"Tidak, Ma, Pa. Ley belum siap untuk melakukan operasi, Ley belum siap." Jawab Ley berusaha untuk menolak.


"Kenapa, Nak? apa alasannya, sampai-sampai kamu tidak mau. Ini semua demi kebaikan kamu, agar tidak terus-terusan mendapatkan hinaan dari Raga, suami kamu." Ucap Bunda Yuna tetap terus membujuk menantunya, Leyza menggelengkan kepalanya, seraya tidak bisa menerima permintaan ibu mertuanya maupun ayah mertua.

__ADS_1


Ley mengatupkan kedua tangannya dan bangkit dari posisi duduknya, seraya memohon pada ayah dan ibu mertua untuk tidak terus membujuk dirinya.


"Kenapa kamu tidak mau, Nak? katakan sama Mama."


Ley, justru menangis saat mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya. Ingin berterus terang, tetapi hatinya terasa berat untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah sekian lamanya ia pendam.


Bunda Yuna ikut bangkit dari posisinya, dan meraih tangan menantunya.


"Katakan sama Mama, ada apa denganmu? apakah Raga sudah menyakiti kamu? katakan, katakan sama Mama."


Leyza masih diam, hatinya terasa sakit saat ibu mertuanya bertanya.


"Leyza tidak akan pernah melakukan operasi pada wajah, Ma. Percuma, jika pelakunya belum juga menyadari atas perbuatannya." Jawab Leyza.


"Maksud kamu, yang mulukai wajah kamu ini belum bertanggung jawab? katakan sama Mama motifnya, dan siapa pelakunya, biar Mama akan melaporkannya ke polisi."


"Motifnya, lelaki itu melemparkan kain yang dibakar tepat ke wajah dan membentuk sebuah goresan yang begitu banyak. Ley sendiri tidak tahu maksud dan tujuannya, yang jelas lelaki itu pengecut dan tidak bertanggung jawab. Percuma jika Mama melaporkannya ke polisi, tidak akan bisa." Jawab Ley menjelaskan.


"Aw!" pekik Raga cukup keras, lantaran jari tangannya terjepit pintu karena posisi tangannya berada dibelakang, tepatnya di pintu yang tanpa sengaja terdorong oleh badan Raga sendiri.


Seketika, tubuh Raga berubah menjadi lemas setelah mendengar penjelasan dari istrinya.


Bahkan, kedua kakinya terasa berat untuk menyangga berat badannya sendiri.


Wajahnya saja berubah pucat dan detak jantungnya berdegup tidak karuan. Bunda Yuna, pun heran melihat putranya yang terlihat aneh dan seperti maling tertangkap basah.


"Maaf, aku salah masuk." Ucap Raga dan langsung keluar dari ruang privasi.


Bunda Yuna sendiri merasa heran atas sikap putranya yang tiba-tiba terlihat seperti menyimpan sesuatu yang disembunyikan.


Karena pembicaraannya dengan Leyza belum mendapatkan keputusan yang menurut Beliau belum tepat, Bunda Yuna masih berada di ruang privasi dengan menantunya ditemani oleh Tuan Hamas.


Leyza yang hendak berpamitan untuk keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba tangannya diraih oleh ibu mertuanya lagi.


"Katakan sama Mama, siapa yang sudah melukai wajah kamu, Nak?"

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa kok, Ma. Mungkin, karena hatinya Leyza belum bisa menerimanya, jadi ikut terbawa suasana." Jawab Leyza beralasan.


__ADS_2