Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Mall


__ADS_3

Satu tahun berlalu Pernikahan Andika dan Hafidza berjalan dengan baik. Keluarga kecil yang harmonis, namun masih kurang dengan belum adanya buat hati dari cinta mereka berdua.


Ya, mereka belum di beri amanah oleh sang maha pencipta. Mereka hanya selalu berdoa serta berusaha jangan dilupakan.


Berusaha apa hayoo? Jadi traveling kan pikirannya.


Seperti halnya Hafidza sendiri, menyimpan semua kesedihan yang ia pikul. Sebagai seorang istri yang sudah cukup lama tapi belum juga di beri seorang anak. pasti akan ada cobaan yang terbilang bisa membuat wanita itu down. Seperti toh tetangga atau sepupu sendiri yang bicara tanpa disaring sampai menyebabkan sakit hati bagi orang itu.


Mereka belum punya momongan juga bukan keinginan mereka sendiri. tapi memang Tuhan yang belum memberi, tapi kenapa mereka yang seakan-akan di salahkan?


besok saudara jauh dari Papa Irham akan berkunjung di kediaman Wijaya, jarang sekali mereka menyempatkan diri untuk berkunjung. Karena Saudara papa irham tinggal di Turki ikut suaminya yang notabene orang Turki sendiri.


Sudah lama semenjak pernikahan Andika dan Hafidza, mereka sama sekali belum pernah berkunjung kembali, Itupun mereka tidak sempat menemui mempelai wanita karena kesibukan yang mereka miliki.


Mungkin keluarga Wijaya yang memiliki rencana untuk sekedar jalan-jalan ke Turki mengunjungi Blue Mosque. Blue Mosque merupakan masjid megah di Turki yang memiliki keunikan dan keindahan menakjubkan.


Seperti yang direncanakan, mama Stella menyiapkan jamuan untuk tamu. Dan yang pasti tinggal perintah semua pasti terpenuhi. Namun mama Stella adalah pribadi yang tidak ingin merepotkan orang lain. Jadi, ketika pekerjaan itu bisa di handle sendiri oleh mama Stella, ia akan mengerjakannya sendiri.


"fidza?" panggil mama Stella.


Wanita cantik yang merasa namanya di panggil pun seketika panik karena ia berada dalam posisi yang sangat intim dengan sang suami. Hafidza duduk di pangku oleh paksu dengan kepala paksu (pak suami) di ceruk leher Hafidza.


"Mas, lepas dulu" ujar Hafidza mencoba mendorong pelan bahu lebar Andika.


Sedangkan Andika yang dalam mode manja dengan istrinya pun merengek gemas di telinga Hafidza yang tertutup kain hitam.


"Bentar lagi sayang" Jawab Andika semakin mempererat pelukannya. Tidak semudah ini membuat Hafidza menurut, lagi enak-enaknya malah di ganggu' batin Andika kesal.


Mama Stella yang gemas sendiri langsung membuka pintu kamar anaknya. karena ia tahu pasti itu semua ulah anaknya, Dan Hafidza tidak pernah terlambat ketika di panggil. Siapa lagi kalau bukan anak laki-lakinya yang sangat manja dengan menantunya.


Brak.


anggap aja pintu di dorong dengan sedikit keras hehe.


Hafidza yang terkejut pun mendorong kuat bahu Andika refleks berdiri dengan raut wajah terkejut seraya menampilkan mata bulatnya yang lucu membuat mama Stella tertawa terbahak-bahak. Melihat itu, Hafidza merasa malu dan menundukkan kepalanya


"Duh kamu lucu banget sih, masih aja malu sama mama" ujar mama Stella menghampiri menantunya, lalu mengelus Surai Hafidza yang tertutup kain hitam.


"Mama ih. ganggu aja" ucap Andika seraya memayunkan bibirnya maju.


"Apa?" tanya mama Stella galak.


Andika hanya tersenyum geli melihat mamanya dalam mode sama-sama kesalnya karena putranya.


"Hehe nggak jadi ma. Ada apa panggil istri Dika?" tanya Andika seraya merangkul kembali bahu kecil Hafidza.

__ADS_1


Mama Stella yang melihat kebucinan putranya hanya menampilkan ekspresi julidnya. 'mama juga pernah muda kali' batin mama Stella kesal.


"Mama mau ajak menantu kesayangan mama belanja" jawab mama Stella ketus sambil menarik pelan lengan Hafidza.


"Dika ikut yh?" ujar Andika dengan nada manja.


"Nggak usah. ini urusan perempuan, kmu nggak usah ikut" jawab Mama Stella.


"Tapi...


"Pokoknya nggak usah. titik!" potong mama Stella tidak mau mendengar rengekan dari putranya. Dan Andika tahu, ia tidak akan bisa menang dengan mamanya.


Ditengah-tengah mereka berdua, ada Hafidza yang tersenyum tulus.


'Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberikan orang-orang yang baik di sekitar hamba mu ini' Batin Hafidza


"Yuk Fidza" ajak mama Stella.


"Fidza izin yha mas" ujar Hafidza meminta izin pada suaminya seraya menyodorkan tangannya.


"Iyha kmu hati-hati sama mama. jangan sampai hilang" ujar Andika menyambut tangan istrinya.


"ini kita mau belanja di mall, bukan pergi ke hutan" sindir mama Stella pada anak-anaknya yang membuatnya iri dan flashback dengan masa lalu bersama suaminya wkwkwk.


"iya-iya ma" Timpal Andika tersenyum.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai tujuan dengan di antar supir pribadi Mama Stella yang di khususkan papa irham untuk istri tercintanya, eaaak.


Dan yang kalian belum ketahui, mama Stella mempunyai bodyguard yang mama Stella sendiri tidak mengetahuinya karena papa irham yang memerintah anak buahnya untuk menjaga keluarganya ketika di luar rumah. bukan hanya satu atau dua, namun empat. menggunakan satu mobil hitam dengan baju seperti orang biasa. karena bisa membuat semua orang curiga. papa irham juga tidak sebod*h itu.


Ketika Mama Stella dan Hafidza masuk, semua pegawai di mall yang mengenal sosok dari mama Stella berbaris menyambut kedatangan istri tuannya. Dan di terima baik oleh mama Stella dengan senyuman yang terpancar di wajah cantiknya yang tidak muda lagi.


Mama Stella memulai berbelanja. bukan hanya bahan dapur, ia berinisiatif ingin membelikan hadiah untuk menantu dan suaminya. Untuk putranya? NO. Mama Stella masih kesal dengan putranya.


"Kamu kalau mau beli sesuatu, beli aja yh sayang" ujar mama Stella lembut pada Hafidza.


Hafidza tersenyum dan mengangguk. Yha. Hafidza bisa membeli semua yang ia mau. suaminya memberinya sebuah blackcard untuk membeli semua yang ia inginkan.


"mama mau beliin dasi buat ayah. kamu ikut apa mau kemana?" tanya Mama Stella.


"Emm fidza mau lihat-lihat dulu aja ma" ujar Hafidza.


"kalo gitu mama ke sini duluan yh. nanti ketemuan di kafe itu aja" ujar mama Stella seraya menunjuk kafe di lantai tiga yang sangat cantik.


"iyha ma" jawab Hafidza.

__ADS_1


Mama Stella masuk ke toko jas dan dasi meninggalkan Hafidza yang masih bingung ingin kemana terlebih dahulu.


Akhirnya Hafidza berjalan pelan melihat-lihat apa yang bisa ia beli? di rumah besar milik suaminya ia tinggal sudah di sediakan semua tanpa adanya kekurangan.


tanpa melihat depannya, Hafidza yang fokus dengan baju muslim yang terpampang di balik kaca yang sederhana tapi indah itu tidak menyadari akan menabrak seseorang di depannya ketika orang tersebut berjalan terburu-buru.


Bruk.


Anggap aja barang-barang jatuh di ikuti panta* yang beradu dengan lantai.


"Aduuuuuh kalo jalan lihat-lihat dong" omel seseorang tersebut.


"Aduh maaf mbak. saya nggak sengaja, tadi mbaknya juga buru-buru banget" jawab Hafidza menunduk seraya membantu wanita yang belanjaannya terjatuh.


"Nggak usah pegang-pegang. Nanti kotor lagi" sarkas wanita itu menepis tangan Hafidza yang berusaha membantunya.


Hafidza hanya bisa menunduk tanpa mengeluarkan suara.


"Kalo nggak punya uang nggak usah sok-sokan pergi ke mall deh. Merusak suasana aja." Ujar wanita itu dengan nada meremehkan.


"Saya minta maaf mbak" jawab Hafidza lagi.


"Ini juga bukan kesalahan saya sepenuhnya. mbaknya tadi juga terlihat buru-buru jadi nggak lihat jalan" lanjut Hafidza masih dengan nada lembut khasnya.


"Ooooh lo nyalahin gue?" tanya wanita itu geram.


Tanpa aba-aba Wanita itu menarik hijab yang di kenakan Hafidza. dan beruntung Hafidza sudah mengambil ancang-ancang. Hafidza tidak melawan namun mencoba mempertahankan kehormatannya sebagai seorang wanita yang menjaga auratnya.


Orang-orang yang berlalu lalang hanya sekedar menonton dan melirik tanpa adanya yang ingin membantu.


Hafidza yang merasa kualahan dengan tenaga wanita itu hanya berusaha untuk melepaskan cengkraman yang kuat dari wanita itu yang terlihat seperti kesetanan.


Hafidza mencoba merogoh tas kecilnya berusaha menghubungi suaminya. dan kebetulan nama yang paling atas adalah nomor suaminya, jadi mempermudahnya untuk segera menghubungi suaminya.


*memanggil ........dan yah..... Berdering


"Halo*?" Suara di seberang membuat Hafidza lega.


"Ha-halo mas. tolong fidza.........." Ujar fidza lalu tidak sadarkan diri.


"Halo? sayang? sayang?" Panggil Andika namun tidak ada jawaban kembali, Andika meremas ponselnya dan berlari keluar.


Andika yang gercap (Gerak cepat) langsung meninggalkan kediamannya menuju tempat mama dan istrinya berada.


@Uthfia30115

__ADS_1


Mampir ke karya ke-2 author "All about Love"


__ADS_2