
Tidak ingin ketahuan oleh istrinya, Raga membenarkan posisinya dengan memejamkan kedua matanya walau sebenarnya masih terjaga kesadarannya.
Ley yang sudah selesai mengeringkan rambutnya, ia menoleh pada sang suami yang terlihat tengah tidur dengan pulas-nya tanpa selimut yang menutupi anggota tubuhnya.
Merasa ada yang kurang, Leyza mendekati suaminya dan tak lupa menyelimuti tubuhnya. Raga yang merasakan sesuatu yang menutupi bagian anggota tubuhnya, dirinya tetap berpura-pura tidur tanpa sepengetahuan sang istri.
Sadar dengan pernikahannya yang tidak dianggap sebagai istri dari Raga, Leyza memilih tidur di sofa tanpa ada yang menyuruhnya.
Menghindari dan tidak membuat masalah itu, jauh lebih baik daripada harus berdebat, pikir Leyza mencari titik aman.
Tanpa berselimut, Leyza merebahkan tubuhnya di atas sofa, meski terasa sempit dan nyaman untuk beristirahat.
Sambil membenarkan posisi tidurnya, tiba-tiba teringat dengan kedua orang tuanya. Bayang-bayang masa lalunya kembali teringat, dan tentunya tidak dapat dilupakan begitu saja.
Tidak ingin menambah pikiran hanya karena memikirkan sesuatu yang sudah lama dijalani, Ley berusaha untuk menepisnya.
Karena badan sudah terasa capek dan juga sangat mengantuk, Leyza memejamkan kedua matanya. Berharap, dirinya dapat beristirahat dengan cukup.
Sedangkan Raga yang tidak bisa tidur, langsung bangkit dari posisinya dan menyibak selimutnya.
__ADS_1
Tidak ada kerjaan karena sudah waktunya untuk beristirahat, Raga memilih pindah ke ruang kerjanya. Bahkan, dirinya sama sekali tidak peduli dengan istrinya yang tengah tidur di sofa tanpa selimut.
Entah hati dan jantungnya terbuat dari apa, sampai-sampai rasa pedulinya saja tidak tampak pada diri Raga. Sungguh sangat berbeda dengan sang adik, yakni Lindan.
Kedua lelaki yang usianya tidak begitu jauh jarak diantara keduanya, mereka berdua memiliki sifat yang sangat berbeda. Yang satu begitu keras, dan yang satunya sebaliknya.
Raga yang sudah duduk di kursi santainya, menyibukkan diri dengan layar lebarnya sambil mengoperasikan sesuatu yang dikerjakan.
"Doni, kemana itu anak, dari kemarin tidak pernah muncul sejak aku memberinya perintah untuk menyelidiki perempuan si buruk rupa itu." Gumamnya sambil memainkan mouse- nya.
Karena rasa tidak sabar, akhirnya Raga menghubungi Doni ditengah malam.
Dengan serius, Raga benar-benar mendengarkan dengan seksama dan tidak ada yang terlewatkan.
["Serius kamu? jadi, perempuan buruk rupa itu sudah pernah dipacari oleh Aizan?"]
Raga yang mendengar penjelasan dari Doni sebagai anak buahnya begitu sangat detail dan tidak ada yang terlewatkan, dirinya benar-benar semakin penasaran dibuatnya.
Tidak ingin ambil pusing, Raga segera meraih ponselnya untuk menghubungi kekasihnya yang bernama Karin. Berharap, malamnya dapat ditemani oleh pujaan hatinya.
__ADS_1
Cukup lama melepas penat dan kerinduan, Raga dapat bernapas lega. Kemudian, ia memutus panggilan dengan kekasihnya.
Saat itu juga, dirinya tiba-tiba teringat saat mendapatkan peringatan dari sang ayah. Peringatan apa lagi kalau bukan untuk memecat sekretarisnya yang bernama Karina.
Kesal, tentu saja tidak terima jika dirinya harus berpisah dengan perempuan yang sangat dicintainya itu.
Tidak mempunyai hak apapun dengan keputusan dari orang tuanya, Raga hanya bisa nurut.
"Sial! kalau aku berani menentang, bisa-bisa aku diusir dari rumah ini dan dijadikan gelandangan." Gumamnya dengan penuh kekesalan, lantaran dirinya tak mampu berkuasa.
"Kenapa kamu masih juga belum tidur, Raga?" tanya sang ayah yang tiba-tiba sudah berada didalam ruang kerjanya.
Tentu saja, membuat Raga terkejut ketika mendapati sosok ayahnya yang sudah berdiri dihadapannya.
"Papa." Ucap Raga menyebut ayahnya.
"Kembali ke kamarmu, karena besok kamu harus menyeleksi sekretaris baru." Perintah sang ayah sekaligus memberi pesan untuk putranya.
"Ya." Jawab Raga sangat singkat dan pergi begitu saja dari hadapan orang tuanya.
__ADS_1