Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Makan bersama


__ADS_3

Pertemuan yang dilakukan oleh Tuan Hamas melalui putranya, kini sudah selesai. Raga dan Ozan telah keluar dari ruang rapat.


"Sudah waktunya untuk makan siang, bagaimana kalau aku mentraktir kamu? hitung-hitung mewakili persahabatan orang tua kita." Ajak Raga sambil berjalan beriringan.


"Boleh juga, dimana?" jawab Ozan dan menanyakan tempat.


"Di Restoran, kebetulan hari ini jadwalku tidak begitu padat. Jadi, aku menyempatkan untuk mengajak kamu makan siang, bagaimana?"


"Ya, aku setuju." Jawab Ozan dibarengi dengan anggukan kepala sambil berjalan beriringan.


Semua karyawan dibuatnya terpukau saat sosok Ozan tengah berjalan beriringan dengan Bosnya, bahkan nampak lebih tampan dari Raga karena postur tubuhnya lebih tinggi dan badan yang juga lebih besar.


Tidak cuma terpesona, tetapi juga berbisik dengan membicarakan pria yang berjalan disebelah Bosnya, siapa lagi kalau bukan Ozan.


Sampainya di depan kantor, Raga langsung menghubungi supir mobilnya. Ozan yang mendengar pembicaraan Raga di telpon genggamnya, langsung mencegah dengan memberi kode.


"Kamu tidak perlu meminta jasa supir untuk berangkat ke Restoran, kamu bisa naik mobilku." Ucap Ozan.


"Tapi, aku yang mengajakmu makan siang. Masa ya, aku harus naik mobil kamu."


"Tidak masalah, kamu yang mentraktir, dan aku yang mengantarkan ke Restoran."


"Bisa aja kamu ini, baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat." Ajak Raga yang mulai bisa tersenyum, meski hanya seulas.


Dalam perjalanan, keduanya nampak diam dan tidak ada yang berbicara.


"Kamu tidak ikut ke luar negri?" tanya Ozan membuka suara sambil menyetir mobilnya.


Raga langsung menoleh, berusaha menahan emosinya, lantaran mendapatkan pertanyaan dari rekan kerja barunya.

__ADS_1


"Tahu dari mana jika istriku pergi ke luar negri?"


Bukannya menjawab, Raga balik bertanya pada Ozan.


"Dari Leyza, istri kamu." Jawab Ozan dengan santai, sedangkan Raga sudah siap memasang tanduknya bak siap menyeruduk.


"Bukan, tetapi dari Papa kamu. Semalam Tuan Hamas menghubungiku, katanya si Lindan tidak bisa melakukan pertemuan denganku, dikarenakan harus menemani kakak iparnya dan Tante Yuna untuk liburan." Sambung Ozan kembali.


"Oh, ya. Memang benar, jika istriku ada urusan dengan Mamaku di luar negri. Sedangkan Lindan mempunyai urusan sendiri, karena ada sesuatu hal penting. Makanya, meminta Lindan untuk menemani mereka berdua, sedangkan aku ada kesibukan yang jauh lebih penting daripada liburan." Ucap Raga beralasan, meski didalam dadanya serasa bergemuruh menahan cemburu.


"Oh, begitu."


Jawab Ozan dan tersenyum sambil menyetir mobilnya, dan tak terasa sudah sampai di Restoran yang dijanjikan sebelum berangkat.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Ozan sambil melepaskan sabuk pengamannya, begitu juga Raga yang ikut bergegas keluar dari mobil.


"Raga!" panggil seseorang sambil berlari kecil untuk menghampirinya.


"Karin!" sebut Raga pada mantan kekasihnya.


"Sayang, aku kangen. Lelaki ini, siapa?"


Masih seperti yang dulu, Karin bergelayut manja pada Raga tanpa malu jika harus di hadapan laki-laki lain.


"Raga, aku duluan." Ucap Ozan yang lebih memilih untuk mencari tempat duduk.


"Lepaskan! jangan membuatku malu, pergi dari hadapanku sekarang juga." Bentak Raga sambil melepaskan tangan mantan kekasihnya.


"Sayang, kamu itu kenapa sih? aku kangen sama kamu."

__ADS_1


"Maaf, kamu bukan siapa-siapa aku lagi, paham." Ucap Raga dengan tatapan tajam dan pergi meninggalkan Karina begitu saja.


"Lihat saja, aku bakal membuatmu jera, Raga." Gumamnya dengan kedua tangannya yang mengepal dan penuh kesal.


Raga yang tidak ingin membuang waktunya hanya meladeni mantan kekasihnya, lebih memilih untuk makan siang bersama Ozan. Yang mana ada banyak pertanyaan yang akan dilemparkan kepada Ozan, pikirnya yang terus berjalan mencari keberadaannya.


"Raga, aku disini." Panggil Ozan sambil melambaikan tangannya, Raga pun menoleh dan berjalan menghampirinya dan langsung menarik kursinya untuk duduk.


"Maaf, jika sudah mengabaikan kamu."


"Tidak apa-apa, mungkin saja penting."


"Jangan salah paham dulu, perempuan tadi bukan pacarku, melainkan hanya mantan." Ucap Raga yang tidak ingin mendapatkan sangkaan yang tidak baik oleh siapapun.


"Itu urusan pribadi kamu."


"Ya, aku tahu itu. Hanya saja, aku tidak ingin kamu memiliki anggapan jika aku mempunyai selingkuhan atau apalah. Karena aku tahu, kamu teman dekatnya istriku."


"Tahu dari mana kalau istriku teman dekatku?"


"Dari Rafa, dan kamu menyukainya, 'kan?"


"Kamu percaya gitu, sama Rafa? kamu sudah dibohongi."


Tidak ingin membuat rumah tangga orang lain hancur, Ozan terpaksa memberinya banyak alasan. Tetap saja, seorang Raga tidak mudah untuk dibohongi.


"Karena Rafa orang yang pertama aku percaya sebelum sekretaris-ku, dan aku percaya jika Rafa tidak akan pernah membohongi diriku." Jawab Raga yang tetap pada pendiriannya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu membahasnya. Sekarang Leyza sudah menjadi istri kamu, jangan banyak prasangka apapun terhadap dirinya. Leyza perempuan baik-baik, jangan kamu sia-siakan." Ucap Ozan dan berpesan pada Raga layaknya sudah mengenal dengan dekat.

__ADS_1


__ADS_2