
Raga maupun Ozan yang mendengarnya, pun hanya bisa menerima keputusan yang sudah menjadi pilihan dari Leyza.
Setelah menjadi keputusan yang sudah ditentukan oleh Leyza sendiri sebagai pemilik yang lebih besar dari kepunyaan orang tua Ozan dan milik orang tua Raga sendiri, tak bisa menentangnya, apalagi untuk mempertahankan, itu sangat mustahil.
"Jadi, fix ini ya." Ucap Beliau sebagai orang kepercayaan.
Tiga penerus dari keluarga masing-masing, mengangguk dan menjawab dengan serempak, bahwa ketiganya saling menyetujui.
Selesai rapat mengenai keputusan, semua saling berjabat tangan. Hanya Ozan dan Raga yang masih menjalani hubungan kerja sama, sesuai perjanjian yang sudah disepakati satu sama lain.
Karena tidak ada yang perlu di bahas karena sudah menandatangani kerja sama, Ozan dan Raga tidak dapat mengubahnya kembali.
'Maafkan aku, aku harus melakukan ini semua demi kebaikan. Lebih baik aku tidak ada keterikatan dengan kalian berdua, walau pada akhirnya entah apa yang akan menjadi keputusan aku nantinya.' Batin Ley sambil berjalan dengan penuh lamunan.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu mertua membuyarkan lamunan menantunya.
"Mama," panggil Ley dengan senyum tipis.
"Kamu dilema?" tanya ibu mertua sambil memperhatikan menantunya lewat tatapan wajahnya.
Leyza mengangguk, kemudian Bunda Yuna memeluknya sebentar dan melepaskannya kembali. Lalu, ditatapnya wajah milik menantunya.
"Apakah kamu terpaksa menikah dengan Raga?" tanya ibu mertua langsung pada topik utamanya.
Leyza menggelengkan kepalanya, memberi isyarat sebagai jawaban.
"Terus, kenapa? apakah kamu sebenarnya mencintai Ozan? jawab dengan jujur, sebelum semua berjalan lebih jauh lagi hubungan pernikahan kamu dengan Raga."
"Tidak, Ma. Leyza tidak mencintai Kak Ozan, hanya menganggapnya sebagai kakak, tidak lebih." Jawab Ley dengan jujur.
"Terus, bagaimana dengan Raga?"
Bunda Yuna kembali bertanya mengenai hubungannya dengan putranya sendiri.
"Leyza tidak tahu, Ma. Rasa ini masih terasa sakit, Leyza masih merasa kecewa dengan suami sendiri." Jawab Leyza berterus terang, tidak ada yang dititipi darinya.
"Mama tidak bisa memberimu jawaban apapun. Maafkan Mama, jika awalnya kami harus menikahkan kamu dengan Raga karena keegoisan kami." Ucap Bunda Yuna yang merasa bersalah, lantaran sudah mempersatukan putranya dengan Leyza lewat perjodohan dari suaminya.
__ADS_1
"Mama tidak bersalah, begitu juga dengan Papa. Mungkin benar, pilihan orang tua pasti untuk kebaikan anak-anaknya, hanya saja diantara kami tidak ada yang bisa memahami, termasuk Leyza sendiri." Jawab Leyza yang memang benar-benar dilema untuk memberi keputusan.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Ozan dan suami kamu pasti sudah menunggu, kita bisa selesaikan di rumah." Ucap Bunda Yuna mengajaknya untuk pulang, Ley mengiyakan.
Selama dalam perjalanan pulang, Leyza dan Raga sama-sama diam. Bukan tidak enak dengan Ozan, tetapi dengan perasaannya masing-masing.
Sampainya di rumah, semuanya beristirahat di kamarnya masing-masing.
Ley yang memang merasa sangat penat, dirinya langsung membersihkan diri dan beranjak beristirahat. Begitu juga dengan Raga, sama halnya yang dilakukan oleh istrinya.
Karena tidak ingin mengganggu tidurnya, Raga memilih istirahat dan tidur di lantai beralaskan kasur khusus dilantai. Sedangkan Ley tidur di atas tempat tidur.
Sama seperti Ozan, dirinya langsung istirahat setelah membersihkannya diri. Berharap, ketika bangun semuanya akan baik-baik saja.
Berbeda dengan Lindan, dirinya yang baru saja akan pergi keluar untuk mencuci matanya agar tidak terasa jenuh di dalam rumah.
Cukup lama beristirahat, tidak terasa sudah hampir sore. Raga terbangun dari tidurnya, sedangkan Leyza sudah tidak ada didalam kamar.
"Sudah jam empat sore?" gumam Raga saat melihat jam pada ponselnya.
Dengan terburu-buru menuruni anak tangga, Raga menuju dapur. Dan benar saja, Leyza tengah disibukkan dengan alat masaknya dan ditemani salah satu asisten rumah.
'Aku kira pergi dengan Ozan, rupanya sedang memasak.' Batin Raga bernapas lega.
"Aw!" pekik Raga saat pipi kanannya mendapatkan tepukan yang terasa cukup kuat.
Raga langsung menoleh, dan dilihatnya sang ibu yang sudah menepuk pipinya.
"Lihat itu, temani istri kamu. Ngelamun aja, kepergok, baru tahu rasa, kamu." Ucap ibunya.
"Iya, Ma." Jawab Raga, kemudian masuk ke ruang dapur.
Bunda Yuna tersenyum dan pergi ke ruang bersantai, meninggalkan putranya yang akan menemani sang istri memasak untuk makan malam.
"Kenapa kamu yang memasak? kan, sudah ada asisten rumah yang akan mengerjakan semuanya." Ucap Raga sambil meraih benda yang akan diambil istrinya.
"Sudah menjadi kebiasaan aku menyibukkan diri di dapur, walaupun di rumah ada asisten sekalipun." Jawab Leyza sambil mengupas bawang.
__ADS_1
"Tapi kan, ini bukan di rumah, kalau kamu kecapean, bagaimana?"
"Kalau hanya untuk memasak, tidak akan menjadi masalah untukku." Jawab Leyza sambil mengambil beberapa sayuran di dalam kulkas.
Raga yang hatinya belum terasa tenang, ia menahan tangan istrinya yang hendak memotong sayuran.
"Lepaskan tanganmu, aku sedang memasak." Ucap Leyza sambil menyingkirkan tangan suaminya yang sudah menahannya.
"Aku tidak akan melepaskan tanganku ini, sampai kamu memberi jawaban kepadaku." Kata Raga yang benar-benar tidak sabar jika harus menunggu.
Seperti itulah sifat Raga, yang tidak mempunyai kesabaran jika rasa penasarannya sudah memuncak ke ubun-ubun.
"Aku sedang memasak, dan tentunya aku tidak berkonsentrasi untuk memberikan jawaban untukmu. Kalau kamu terus meminta jawaban dariku, yang ada aku akan mengatakan sesuai dengan emosiku." Ucap Leyza yang semakin lama merasa geram dengan sebuah pertanyaan dari sang suami yang berkali-kali meminta jawaban.
"Terus, kapan?"
"Bukankah aku sudah memberi jawaban yang sangat jelas, jika kita akan berpisah setelah pengobatan wajahku."
Seketika, Ozan kaget mendengarnya saat masuk ke dapur. Begitu juga dengan Raga, hatinya terasa sakit mendengarnya.
Raga yang melihat keberadaan Ozan yang jelas-jelas mendengarnya, membuat Raga semakin kesal ketika di suguhkan wajah lelaki yang menurutnya menjadi pesaingnya.
Ley langsung menggebrak meja, perasaan kesal, geram, benci, kini telah menjadi satu. Tidak seharusnya mengatakannya di ruangan terbuka, yang kapan saja bisa didengar oleh yang lain.
Ozan yang mendengarnya, pun langsung mendekati Leyza.
"Kamu serius akan berpisah dengan Raga?" tanya Ozan yang ingin mendengarnya langsung dihadapannya.
"Ya." Jawab Leyza dan meninggalkan dapur, lalu kembali ke kamarnya.
"Ley, Ley, tunggu." Panggil Ozan berusaha mengejar Leyza yang pergi begitu saja dari hadapannya.
"Nak Ozan, biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri." Ucap Bunda Yuna mencoba mencegah Ozan yang hendak mengejar Leyza.
"Ya, Tante. Tapi ... apa benar, mereka berdua akan berpisah? karena aku mendengarnya secara langsung saat keduanya tengah berdebat."
"Tante tidak tahu, biarkan mereka memilih keputusannya masing-masing." Jawab Bunda Yuna.
__ADS_1