Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Khawatir


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin untuk pulang, Ley merasa senang dan tidak harus berada di dalam ruangan yang membuatnya bosan untuk menunggu kebebasan.


"Kita beneran pulang nih, Tante?" tanya Rafa takutnya hanya candaan, pikirnya.


"Ya, kita pulang sore ini. Nanti malam akan ada acara kecil-kecilan sebelum kita meninggalkan negri orang, Raf. Kalau kamu masih ingin berlibur, juga tidak apa-apa. Bukan haknya Tante untuk mengajakmu pulang." Jawab Bunda Yuna sambil membereskan tas bawaannya.


"Ya loh Raf, mumpung lagi disini. Puas-puasin dulu liburannya, entar nyesel loh." Kata Ley ikut menimpali.


"Nggak ah, gak seru kalau cuman sendirian. Lagian kamu juga pulang, males akunya." Ucap Rafa ikut membantu membereskan ruangan yang ditempati oleh Leyza.


"Sudah dulu ngobrolnya, kita lanjut lagi nanti di dalam mobil. Sekarang, ayo kita keluar. Kasihan yang ada di rumah, sudah menunggu kita." Timpal Bunda Yuna mengajaknya untuk segera pulang.


"Ya, Tante." Jawab Rafa dan membantu membawakan bawaan milik Leyza dan Bunda Yuna.


Dalam perjalanan pulang, Rafa dan Leyza berbagi cerita selama tidak pernah bertemu. Bunda Yuna hanya sebagai pendengar setia, dan tak ada yang mencurigai diantara keduanya membicarakan waktu yang sudah dilewati oleh satu sama lainnya.


Sedangkan di rumah, Raga tidak begitu bersemangat untuk menyambut kehadiran istrinya pulang. Perasaannya masih terasa bersedih, lantaran harus berpisah dengan istrinya, seperti yang dijanjikannya pada sang ayah.


Duduk termenung dibawah anak tangga, Raga melamun dengan segala penuh penyesalan. Takut, yang pastinya Raga begitu takut jika harus kehilangan istrinya.


'Apa jadinya jika Leyza benar-benar meminta untuk berpisah selamanya? sanggupkah aku menerima keputusannya nanti? jika benar Leyza menginginkan berpisah, Ozan lah yang akan menjadi pemenangnya. Aku harus apa? sanggupkah aku?' batin Raga dengan segala kecemasan yang tengah menghantui pikirannya.


"Hei! ngelamun aja, mikirin apaan lagi? Leyza? jangan terlalu banyak untuk dipikirkan, yang ada kamu akan pusing sendiri." Ucap Ozan yang mulai mengajak Raga layaknya teman dekatnya sendiri.


"Aku tidak yakin, dan aku merasa bahwa kamulah pemenangnya. Kamu yang akan dipilih Leyza. Selain tidak pernah menyakitinya, kamu selalu ada waktu untuknya, dan penyelamat untuk dirinya." Jawab Raga dengan lesu, terlihat sekali jika tidak lagi bersemangat.


"Kamu ini ngomongin apaan sih, belum juga dilewati, kamu sudah pesimis begitu. Leyza sepenuhnya masih istri kamu, masih ada waktu untukmu memberi perhatian untuknya. Sudahlah, kamu harus yakin dengan diri kamu sendiri." Ucap Ozan menyemangati dan tak lupa untuk mengingatkan.


"Kamu hanya bicara, pasti tidak sulit. Berbeda denganku, aku yang menjalani dan aku yang merasakannya. Tentu saja, aku selalu memikirkan istriku." Jawab Raga dan menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar ke sembarangan arah.


"Sudah aku bilang, buat santai aja. Kalau benar si Leyza itu jodoh yang ditakdirkan untuk kamu, tak akan pernah lepas walau badai menghadang sekalipun." Ucap Ozan yang tak bosan untuk mengingatkan.


Raga hanya mengangguk, meski pikirannya benar-benar merasa kacau.

__ADS_1


"Tuh, sepertinya istri kamu beneran sudah pulang. Ayolah, sambut kedatangan istri kamu dengan damai, jangan sampai istri kamu merasa canggung di dekatmu." Sambung Ozan saat mendengar pintu terbuka oleh Lindan.


Karena memang memiliki sikap dingin, Raga kesulitan untuk membuat suasana menjadi ramai.


"Sini, biar aku yang membawa tasnya." Ucap Raga pada Rafa, sambil meraih tas milik istrinya yang berada di tangan Rafa.


Kemudian, Raga mendekati istrinya.


"Ayo, aku antar kamu ke kamar." Ajak Raga dengan berani, meski sedikit ada rasa canggung dengan sikapnya pada sang istri.


Ley mengangguk dan mengantarkan istrinya sampai ke kamar. Ozan yang melihatnya, segera mengalihkan pandangannya agar tidak merasa cemburu.


"Silakan masuk." Ucap Raga setelah membukakan pintu untuk istrinya.


"Terima kasih." Jawab Ley saat masuk ke dalam kamar.


Raga kembali menutup pintunya.


"Kalau kamu capek, istirahat saja. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk makan bersama, aku bisa ambilkan makan malam untukmu." Ucap Raga tanpa ada senda gurauan, dingin dan tetap seperti dulu tak ada perubahan.


"Baiklah, silakan. Jangan lama-lama, setelah itu segeralah turun."


"Ya." Jawab Ley dengan singkat.


'Sesakit inikah rasanya memiliki istri yang harus berakhir dengan perpisahan? yang hanya bisa bertegur sapa, itupun jika ada perlunya.' Batin Raga sambil meninggalkan istrinya berada didalam kamar sendirian.


Ley yang dapat menangkap ekspresi dari suaminya, hatinya ikut terasa terenyuh sakit. Berstatus suami-istri, tetapi seperti tak saling mengenal.


'Kenapa aku merasa sesak, saat suamiku bersikap dingin seperti itu? apakah karena keputusan dariku, hingga membuatnya dingin dan juga terlihat lesu? ada apa denganku?' batin Leyza yang mulai memikirkan suaminya.


Karena tidak ingin larut dalam kepenatan, Leyza segera mengganti pakaiannya, takutnya akan membuat yang lain lama menunggu.


Di ruang makan, semua tengah duduk rapi, termasuk Raga yang terlihat tidak bersemangat. Bahkan, badannya terlihat pucat.

__ADS_1


"Raga, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Bunda Yuna yang mendapati putranya terlihat lesu dan tidak bersemangat.


"Tidak apa-apa kok, Ma. Mungkin kurang tidur aja, Mama tak perlu cemas." Jawab Raga beralasan.


"Tapi bener loh Kak, wajah Kak Raga pucat." Timpal Lindan ikut bicara.


"Ya, Rag. Wajah kamu terlihat pucat, kamu sakit?"


Rafa juga ikut berkomentar mengenai Raga yang menurutnya terlihat pucat.


"Sebaiknya kamu istirahat saja, aku akan panggilkan dokter." Timpal Ozan.


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu mencemaskan aku, percaya saja denganku." Jawab Raga yang tidak ingin makan malam bersama istrinya terlewatkan.


Saat itu juga, Leyza sudah datang dan duduk di sebelah suaminya.


"Ada apa ini?" tanya Leyza yang merasa aneh.


Kemudian, Ley menoleh pada suaminya.


"Wajah kamu pucat sekali, kamu sakit?"


Ley yang khawatir dengan kondisi tubuh suaminya, ia langsung memegang area wajahnya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin karena semalam aku kurang tidur, jadi wajahku terlihat pucat." Jawab Raga sambil memegangi tangan milik istrinya yang tengah memeriksa suhu badannya.


"Kak Ozan, cepat hubungi dokter. Badannya sangat panas." Perintah Leyza pada Ozan.


"Ya, aku akan segera menghubungi dokter." Jawab Ozan, dan langsung menghubunginya.


Bunda Yuna yang begitu khawatir dengan keadaan putranya, langsung mendekati dan ikut memeriksa suhu badannya.


"Benar, kamu pasti demam. Sekarang juga kamu istirahat dulu di kamar, biar Mama yang akan membawakan makan malam untukmu. Dan kamu Leyza, ajak suami kamu ke kamar dan temani Raga."

__ADS_1


"Ya, Ma." Jawab Leyza dan segera mengajak suaminya kembali ke kamar.


__ADS_2