
Hari dimana pernikahan Andika dan Hafidza pun tiba. Suasana tak terlalu ramai dikediaman pak Yislam, karena yang di undang hanya pihak keluarga saja.
Perasaan bercampur aduk memenuhi isi kepala serta hati Andika. Hari ini, hari disaat ia akan resmi menjadi suami Hafidza. Lisannya tak berhenti berdoa meminta kelancaran serta berharap ini adalah jalan terbaik yang sudah disusun oleh sang pencipta melalui perantara ayahnya yang memilihkannya wanita.
Beberapa tamu sudah duduk rapi setelah mendengarkan khutbah pernikahan. Ayah Yislam sebagai wali nasab dan seseorang lain yang menjadi wali hakim.
Ayah Yislam dengan gagah menjabat tangan Andika. Hari ini, gadis kecilnya akan menjadi seorang istri dan merenyahkan tanggung jawabnya ke suaminya. Walaupun ini semua perjodohan, Tapi ayah Yislam harap Andika dan Hafidza bisa menjalani hubungan ini dengan baik di jalan Allah SWT.
Ayah Yislam bersiap, Ia menutup mata perlahan seraya menarik nafas dalam-dalam. "Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu. Putriku, Hafidza Khairun nada, dengan mahar uang tunai satu milyar dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" Ucapannya lantang.
Sekarang giliran Andika. "saya terima nikah dan kawinnya, Hafidza Khairun nada Binti Yislam Budiman, Dengan maharnya tersebut dibayar tunai" ucap Andika lancar tanpa terbata-bata. Ia menghembuskan nafas lega, lalu mengucapkan Alhamdulillah karena diberi kelancaran.
"Para saksi Sah?" tanya penghulu.
Seluruh tamu menjawab "SAHH!!"
Hafidza keluar dengan dress sederhana berwarna putih dengan hijab warna senada miliknya, bukan gaun yang dipilihkan mama Stella, gaun itu akan di pakai saat resepsi nanti malam.
Walaupun terlihat Sederhana, Dress yang membalut tubuh Hafidza terbilang sempurna.
Hafidza duduk di samping 'suaminya' lalu menyalaminya dengan perasaan campur aduk. Bahagia, gugup bercampur menjadi satu. Dibalas kecupan manis oleh Andika di dahi Hafidza.
Hari ini mereka resmi menjadi suami istri, tanpa harus takut akan mendekati perbuatan zina satu sama lain.
Setelah akad selesai, Pengantin diminta untuk langsung istirahat setelah para tamu pulang.
Hafidza yang dilanda kegugupan didalam kamarnya menunggu sang suami yang masih di luar untuk menemui Ayahnya terlebih dahulu.
'apa yang harus aku lakukan setelah ini?'
'bagaimana aku harus berlaku' Batin Hafidza.
Hafidza yang duduk di tepi ranjang menoleh ketika mendengar pintu diketuk dan terbuka memperlihatkan seorang pria tampan yang sekarang menyandang sebagai suaminya.
"Nggak mandi dulu?" tanya Andika santai.
"Emmm Mas Dika dulu aja, Fidza mau bersihin make up dulu" jawab Hafidza gugup.
Andika mendekat ke arah Hafidza sampai tinggal satu langkah saja Andika berhenti lalu berjongkok dihadapan Hafidza yang masih duduk di pinggir ranjang.
Andika mendongak untuk melihat wajah cantik yang malu-malu ini. Menatap lekat Mata coklat karamel itu, Membuat ia hanyut dalam tatapan mata sayu itu.
"Kenapa mas?" tanya Hafidza semakin membuat jantungnya makin bertambah berdegup kencang tanpa ritme.
"Enggak. cuma mau lihat Wajah cantik istriku aja" jawab Andika mulai menggodanya.
Menggoda Hafidza akan menjadi hobbynya sekarang.
"Jangan di lihat terus. nanti kalo bosen gimana?" tanya Hafidza polos.
__ADS_1
"Nggak akan bosen, kamu tuh udah jadi candu tau nggak" ujar Andika
'duuuuhhh nggak kuat aku maaas' Batin Hafidza berteriak.
"Kamu tuh kayak Le mineral, ada manis-manisnya" lanjut Andika.
"Tapi kamu kayak Kodomo, teman baikku" timpal Hafidza bercanda.
"Nggak apa-apa. Aku akan menjadi Rexona, Setia setiap saat" ujar Andika tak ingin kalah.
"Ngemil, Ngemil apa yang bikin seneng?" tanya Hafidza.
"Ngemilikin kamu. eaaaaaa" jawab Andika senang.
"Bukan" ujar Hafidza Membuat Andika menaikkan sebelah alisnya seperti bertanya 'apa?'
"Ngemilin jajan lah. ngemilikin kamu kan biasa aja hehe" Ujar Hafidza cengengesan.
"Ooooh gituuuu" Ucap Andika pura-pura merajuk.
Andika yang senang menggoda Hafidza. berbeda dengan Hafidza yang lebih suka membuat Andika kesal, karena itu terlihat lucu. Walaupun sedikit takut kalo misal Andika beneran marah, tapi itu semua menyenangkan menurut Hafidza.
Andika Berdiri dari jongkoknya, Membuat Hafidza kecewa. Apa benar suaminya marah?.
"Kamu marah yha mas?" tanya Hafidza memastikan.
"Terus mau kemana?" tanya Hafidza yang masih terlihat kecewa.
"Mau mandi. ikut?" tawar Andika.
"Eh nggak ah. mas Dika dulu aja" jawab Hafidza kembali gugup.
"Mas Dika" panggil Hafidza membuat Dika menoleh.
"Mie, mie apa yang enak?" tanya Hafidza.
"Apa?" tanya Andika kembali senang. karena ia berfikir kalau Hafidza akan memberinya gombalan.
"Mie ayam. miekirin kamu kan bikin jengah hehe" jawab Hafidza menampilkan watadosnya.
"hiiih kamu gemesin banget siiih, pengen ku gebuk deh" ujar Andika kembali melangkah ke arah Hafidza yang masih di posisi yang sama.
Andika memulai aksinya menggelitiki perut Hafidza sampai Hafidza tertidur di atas ranjang. Andika yang sudah berada di atas Hafidza belum menyadari akan keintiman antara jaraknya dengan istrinya.
Sampai-sampai Hafidza memohon dan meneteskan air matanya karena tertawa sangking lemasnya. Andika yang pertama kali menyadari bahwa Mereka dengan jarak dekat terdiam menatap lekat mata Hafidza, turun ke bawah pink tipis milik Hafidza yang sedikit terbuka.
Tanpa sadar Andika mencium singkat bibir pink itu, Membuat sang empu terkejut membulatkan matanya.
"First kiss huh!" ujar Andika.
__ADS_1
Hafidza yang masih dalam keterkejutannya hanya mengangguk tanpa sadar.
"Masih permulaan, nanti kalo udah siap baru ke intinya hehe"
Hafidza yang tidak mengerti hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Mau mandi bareng?" tawar Andika lagi.
"Enggak mas. mas dika dulu aja" ujar Hafidza mendorong pelan dada Andika yang masih di atasnya.
"Udah mas. mandi terus istirahat ah, nanti malam masih ada acara resepsi." Lanjut Hafidza mengingatkan.
"Ya udah".
Hafidza yang melihat suaminya sudah memasuki kamar mandi pun menyiapkan pakaian yang dibawa suaminya tadi, lalu ia membersihkan make up tipis yang di poleskan di wajahnya.
Setelah itu ia berpindah ke Dress-nya yang ber resleting belakang itu, namun ia tidak bisa menggapainya.
apa ia harus meminta tolong bundanya? tapi apa harus keluar terlebih dahulu. Kalau misal meminta tolong ke suaminya ia pasti akan malu.
Dan benar saja, orang yang baru di batin keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk batas pinggang menampilkan dada bidangnya serta perut six pack tanpa tertutup benang satu pun. dan itu membuat Hafidza panas dingin, susah untuk menelan ludahnya sendiri. Akhirnya Hafidza memalingkan wajahnya agar tidak melihat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Melihat istrinya yang terdiam, Andika tersenyum tipis melihat istrinya yang masih malu-malu kucing.
"Mau pegang?" tanya Andika seraya menunjuk perut roti sobeknya.
"Eh, enggak. apa sih mas Dika ih" jawab Hafidza.
"ya udah mandi dulu sana. kenapa masih di sini?" tanya Andika lembut.
"Emm itu mas....... ituuu" ujar Hafidza ragu-ragu.
"Itu apa hm?"
"Resletingnya nggak bisa buka" ujar Hafidza menunjukkan punggungnya.
"oooh sini biar mas buka"
Hafidza berjalan menuju Andika yang masih bertelanjang dada dengan gugup. Andika Menurunkan resleting dress Hafidza menampilkan punggung mulus putih milih Hafidza. Ia harus cepat-cepat melakukannya, ia tidak ingin melewati batas. ia hanya ingin istrinya menerimanya apa adanya.
Hafidza merasa geli ketika nafas Andika menerpa leher jenjangnya membuat ia merinding.
''Sudah!"
"Makasih mas" ujar Hafidza berjalan ke kamar mandi dengan jantung yang masih berpacu
'Ya Allah, senam jantung' batin Hafidza.
'Kuatkan iman hambamu ini ya Allah' batin Andika
__ADS_1