Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Pertemuan


__ADS_3

Di kantor, Raga baru saja duduk di ruang kerjanya sambil menunggu waktu pertemuan dengan penerus sahabat ayahnya.


"Persiapkan diri kamu dengan baik, Papa serahkan semuanya padamu. Ingat, yang sedang kamu hadapi bukan musuh kamu, melainkan seseorang yang sangat penting untuk kesuksesan kamu ke depannya." Ucap sang ayah berpesan, Raga mengangguk.


"Papa tenang saja, semua akan beres." Jawab Raga, pandangannya kembali tertuju pada komputernya.


Tuan Hamas yang tidak ada lagi sesuatu yang penting, Beliau pamit pergi dan pindah kantor.


Berbeda dengan Raga, justru sedari tadi tengah disibukkan dengan komputernya.


"Cie ... yang mau ada pertemuan dengan lawan." Ledek Doni yang tiba-tiba saja sudah masuk ke ruang kerja Bosnya.


Raga mendongak dan melihat siapa yang datang, tentu saja membuatnya kesal, lantaran harus menerima ledekan dari sekretarisnya. Siapa lagi kalau bukan Doni, teman sekaligus orang suruhan dan juga sekretaris.


"Nggak usah ngeledek, diam kamu." Sahut raga sambil memainkan mouse-nya.

__ADS_1


"Ini, coba di cek ulang, takutnya aku salah mempelajarinya." Ucap Doni sambil menyodorkan sebuah map yang berisi hal penting mengenai pekerjaan di kantor.


Raga menerimanya, dan tak lupa untuk mengoreksi hasilnya. Dengan teliti, tidak ada satu kalimat yang tertinggal.


"Sempurna, tidak ada yang salah. Sekarang juga, lebih baik kamu kembali ke ruang kerjamu. Boleh datang kemari, jika semua sudah berada di ruang rapat." Ucap Raga dan tak lupa memberinya pesan untuk sekretaris Doni.


"Baik, Tuan." Jawab Doni, dan segera kembali ke ruang kerjanya seperti yang diperintahkan oleh Bosnya.


Mengerti dengan apa yang sedang dialami Raga, Doni tidak ingin menggangunya dan memilih untuk menghindar.


"Permisi, Tuan. Bahwa Tuan Ozan sudah datang, dan semuanya sudah menunggu di ruang rapat." Ucap Doni langsung pada pokok intinya.


"Baiklah, aku akan segera datang." Jawab Raga, sedangkan Doni bergegas untuk keluar.


Terasa malas untuk bertemu, sedari tadi Raga hanya bolak-balik kesana-kemari seperti setrikaan. Doni yang malu di hadapan orang-orang penting, dirinya kembali memanggil Bosnya.

__ADS_1


"Tuan Raga yang terhormat, apakah pertemuan hari ini kita tolak?"


Karena geram, Doni akhirnya angkat bicara, tak peduli jika Bosnya akan marah padanya. Yang terpenting, rasa malunya dapat ditutupi, pikirnya.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Doni, Raga langsung keluar dari ruang kerjanya dan menuju ruang rapat.


Sampai di dalam ruangan, rupanya sudah dipenuhi oleh orang-orang yang penting. Saat itu juga, pandangan Raga tertuju pada lelaki yang tidak kalah ketampanannya.


Dengan ramah, Raga menyapa semua yang ada di ruangan tersebut. Kemudian, ia duduk dengan sopan. Tetap saja, Raga terus memperhatikan Ozan, lelaki yang katanya telah menyukai istrinya sendiri.


'Kalau aku sampai menceraikan istriku, maka akan ada kesempatan Ozan untuk mendapatkan Leyza. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, dan juga tidak akan menceraikannya. Apapun caranya, aku akan mempertahankan pernikahanku.'


Batin Raga sambil melamun, serta memikirkan tentang pernikahannya sendiri mau dibawa kemana hubungannya dengan sang istri.


Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Doni segera membuka rapat pertemuan Bosnya dengan orang-orang penting sudah direncanakan sebelumnya.

__ADS_1


Awal Doni membuka suara ditengah-tengah keheningan, semua terdiam dan tidak ada yang berucap maupun berbisik ketika Doni memulainya.


__ADS_2