Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Perpisahan di bandara


__ADS_3

Persiapan untuk pulang ke tanah air, tidak ada satupun yang tertinggal. Semua sudah siap untuk berangkat ke bandara, termasuk Rafa yang baru sampai dan harus pulang kembali.


"Sini, biarkan aku yang menarik kopernya." Ucap Raga sambil meraih koper yang hendak dibawa oleh Ley.


Setelah semuanya sudah siap dan tidak ada lagi yang kurang, satu persatu masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan, tidak ada satupun yang bersuara. Diam, dan semuanya diam tanpa ada yang berucap.


Sampainya di bandara, Raga, Bunda Yuna, dan juga yang lainnya segera turun dari mobil dan memasuki bandara.


Langkah demi langkah, akhirnya semua duduk di ruang tunggu jadwal penerbangan. Hanya beberapa menit saja untuk menunggu, akhirnya tiba waktunya untuk meninggalkan negri orang.


Saat sudah berada didalam pesawat, Ley duduk ditemani sang suami. Sedangkan Bunda Yuna duduk bersebelahan dengan Lindan, putra bungsunya. Begitu juga dengan Ozan, duduk ditemani Rafa adiknya.


Sesekali Ozan menoleh ke samping, dan dilihatnya sepasang suami istri tengah duduk bersebelahan yang terlihat begitu jelas.


Selama berada didalam pesawat, Ley duduk dan bersandar diatas pundak suaminya. Tentu saja, membuat orang yang menyukainya akan merasa cemburu saat melihat kedekatannya.


Karena tidak ingin serasa lama dalam perjalanan pulang, Raga dan Leyza memilih untuk memejamkan kedua matanya agar dapat tidur dengan pulasnya.


Dan benar saja, keduanya telah tertidur dengan pulas, dan sampai tidak sadarkan diri jika sudah waktunya untuk makan, keduanya sama-sama mengabaikan jadwal untuk makan siang hingga tidak terasa sudah sampai di bandara tanah air.


Raga yang terbangun dari tidurnya, ia baru menyadari jika sudah waktunya untuk keluar dari pesawat.


"Ma, seriusan nih, kita sudah sampai?" tanya Raga seperti dibius saat bangun-bangun sudah sampai di tanah air.


"Ya lah, kita sudah sampai. Ayo, kita turun. Oh ya, bangunin istri kamu." Jawab Bunda Yuna.


Kemudian, Raga segera membangunkan istrinya yang begitu terlelap dalam tidurnya.


"Bangun, Ley, bangun, kita sudah sampai nih." Ucap Raga berusaha untuk membangunkan istrinya yang kelihatan kecapean.


Ley seketika terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Sudah sampai ya?" tanya Leyza sambil membenarkan pakaiannya.


Raga mengangguk.


"Maaf, aku tadi sangat mengantuk. Sampai-sampai aku ketiduran selama perjalanan." Ucap Ley merasa malu, lantaran sedari dalam perjalanan pulang untuk tidur.


"Tidak apa-apa, aku juga ketiduran tadi. Ayo, kita turun." Jawab Raga dan mengajak istrinya untuk segera turun.


Dengan hati-hati, Raga siap siaga selalu berada di dekat istrinya.


Ketika sudah tidak lagi berada didalam pesawat, Raga mengajaknya untuk menyusul ibunya dan juga yang lainnya.


Tidak harus menunggu lama, supir pribadi masing-masing sudah siap menjemput.


Raga yang melihat seorang supir yang tidak dikenalinya, pikirannya teringat akan keputusan yang sudah menjadi pilihan istrinya.


Sedih, itu sudah pasti tengah dirasakan oleh Raga. Harus berpisah di bandara, semua tak seperti mimpinya saat dalam pesawat.


Sebelum berpisah, Ley berjalan mendekati ibu mertuanya.


"Ya, Nak, tidak apa-apa. Mama tidak akan memberatkan atas keputusan kamu, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kamu dan Raga. Mama hanya bisa berharap, semoga kamu dapat memilih keputusan yang baik untukmu dan juga untuk masa depan kamu." Jawab Bunda Yuna menerima keputusan dari menantunya.


Setelah itu, kaki Leyza menggeser didekat suaminya.


"Maafkan aku, jika kita harus berpisah untuk sementara waktu, hingga aku dapat memberikan keputusan yang tepat. Aku tidak bisa berjanji, yang jelas aku tidak akan lari dari janjiku. Setelah aku mendapatkan pilihan yang menurutku itu yang terbaik, aku akan datang menemui kamu." Ucap Leyza sebelum pulang.


Raga masih terdiam, sebisa mungkin untuk menguatkan diri sendiri agar tidak terlihat lemah di hadapan istrinya.


"Itu hak kamu, aku tidak akan menghalanginya. Keputusan kamu, semoga pilihan yang terbaik untuk kamu. Terima kasih, karena kamu masih bersedia memberi kata maaf untukku. Aku siap untuk menanti kehadiran kamu, walau yang kamu bawa itu keputusan yang terpahit untukku sekalipun." Jawab Raga yang berusaha untuk berlapang dada saat menerima keputusan dari sang istri.


"Aku pulang, jaga diri kamu baik-baik." Ucap Leyza berpamitan.


"Tunggu sebentar."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Bolehkah aku menc*ium kening-mu, sekali saja." Jawab Raga dengan satu permintaannya.


Ley, mengangguk. Hanya sekedar ci*um kening, pikir Leyza dengan sadar, karena mau bagaimanapun, dirinya adalah istri sahnya Raga.


Karena sudah mendapatkan izin dari istrinya, pelan-pelan Raga mendaratkan kec*upan lewat kening istrinya dengan lembut dan disaksikan oleh Rafa maupun Ozan, dan juga Bunda Yuna serta Lindan.


"Terima kasih, silakan jika kamu mau pulang. Hati-hati dalam perjalanan." Ucap Raga, Leyza mencium punggung tangan milik ibu mertuanya sebelum masuk kedalam mobil.


Dengan berat hati harus merelakan istrinya pulang, Raga melambaikan tangannya dengan tidak bersemangat.


Setelah itu, Ozan dan Rafa berpamitan pulang.


Tidak ada lagi siapa-siapa, Raga bersama ibu dan adiknya segera pulang ke rumah.


Sampainya di rumah milik kedua orang tua Leyza yang sudah sekian lama tidak pernah ditempati sejak perginya orang tua untuk selama-lamanya, Leyza tak pernah kembali.


Usai rencananya dapat dilewati dengan baik, Leyza kembali ke rumah utama yang penuh dengan kenangannya bersama ayah dan ibunya.


Saat para pelayan dan beberapa asisten rumahnya menyambut kepulangan sang pewaris tunggal, Leyza meneteskan air matanya.


Sebuah kerinduan yang teramat sangat dalam, dan tidak mungkin juga untuk kembali lagi seperti dulu.


"Selamat sore, Nona Leyza. Mari, silakan masuk." Ucap seorang pelayan memberi salam hormat kepada majikannya.


Leyza mengangguk, terasa berat baginya jika harus membuka suaranya.


"Nak Leyza, bagaimana kabar kamu, Nak?" sapa ibu pengasuhnya yang juga sudah berada di rumah utamanya, sesuai janji Leyza setelah berhasil membuat orang yang sudah melukainya mengakui kesalahannya.


"Ibu Mala, kabarku baik. Hanya saja, aku tidak bisa pulang ke rumah mertuaku." Jawabnya sambil menunduk, merasa malu dengan pernikahannya sendiri.


"Tidak apa-apa, Nak. Ibu tahu, kamu pasti membutuhkan waktu untuk memenangkan pikiran kamu. Jadi, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Lebih baik, buatlah diri kamu se happy mungkin. Lupakan rasa penat, dan nikmati hari-hari Nak Leyza sebaik mungkin. Biarkan perasaan Nak Ley sendiri yang mengungkap atas perasaan sesungguhnya untuk Tuan Raga." Ucap Ibu Mala.

__ADS_1


"Ya, Bu. Kalau begitu, aku mau membersihkan diri dulu. Habis itu, aku mau langsung istirahat." Kata Leyza karena sudah merasa gerah, lantaran menempuh perjalanan yang cukup jauh.


__ADS_2