Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Mendapat sial


__ADS_3

Cukup lama menempuh perjalanan menuju negara yang dituju, akhirnya telah sampai di Bandara.


Raga maupun Ozan menggunakan jasa masing-masing, keduanya memilih untuk berpisah dan tidak dalam satu perjalanan, meski pada akhirnya satu tempat yang di tuju.


"Semoga saja, nantinya aku dan Ozan tidak dalam satu tempat tinggal. Jika ya, lihat saja nanti, aku bakal membuatnya seperti terbakar api cemburu." Gumamnya sambil melihat pinggir jalanan yang di padati pejalan kaki, sedang untuk kendaraan roda dua atau empat, benar-benar terlihat sepi.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, Raga telah sampai di halaman rumah yang dulunya dijadikan tempat singgah ketika liburan. Pada akhirnya, Ozan juga baru saja sampai setelah Raga turun dari mobil.


Saat itu juga, Ozan bergegas keluar dari mobil dengan satu koper bawaannya. Raga yang tidak ingin didahului Ozan, buru-buru dirinya untuk masuk kedalam rumah yang cukup besar. Hanya saja, didalam rumah hanya ada dua asisten saja.


"Raga, kamu sudah datang? Ozan juga." Panggil sang ibu dan sekaligus kepada Ozan, yang kebetulan juga berjalan di belakang putranya.


Raga langsung menoleh ke belakang dengan tatapan tidak suka.


"Istriku dimana, Ma? kok tidak kelihatan."


"Ada di belakang. Tapi sebelumnya, masukkan dulu koper kamu itu. Untuk kamar kamu ada di nomor satu." Jawab sang ibu.

__ADS_1


"Ya, Ma." Jawab Raga dan cepat-cepat masuk ke kamarnya dengan membawa satu koper miliknya.


Sedangkan Ozan berjalan mendekati dan memberi salam santun kepadaBunda Yuna dengan mencium punggung tangannya.


"Akhirnya kamu yang datang, Rafa tidak ikut? kan, sekalian liburan."


"Rafa sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal, Tante. Jadi, Ozan yang berangkat." Jawab Ozan.


"Oh, Tante kira tidak mau. Oh ya, kalau mau istirahat, kamar kamu ada di lantai atas, nomor tiga dari kamar pertama." Ucap Bunda Yuna, Oza mengangguk.


"Ya, Tante. Kalau begitu, Ozan pamit dulu. Permisi, Tante." Kata Ozan sekaligus berpamitan, Bunda Yuna mengangguk.


Sedangkan di belakang rumah, Leyza dan Lindan baru saja memeriksa surat berharga milik Leyza.


"Kak Ley," panggil Lindan di sela-sela kakak iparnya tengah sibuk dengan laptopnya.


"Ya, ada apa?" sahut Leyza tanpa mendongak pandangannya.

__ADS_1


"Mau aku buatin kopi pahit, atau teh tawar?" tanya Lindan.


"Teh pahit aja, takutnya nanti susah tidur kalau harus minum kopi." Jawab Leyza masih fokus dengan bendanya.


"Baiklah, aku akan pergi ke dapur sebentar." Kata Lindan dan bergegas pergi ke dapur.


Naas, saat hendak menuju dapur, Raga dan Lindan tengah berpapasan.


"Kamu, dari mana? dan itu, apa?" tanya Raga saat mendapati adik laki-lakinya tengah membawa dua cangkir yang sudah kotor.


"Oh ini, bekas minum Kakak ipar dan punyaku." Jawab Lindan apa adanya.


Raga langsung memasang muka kesalnya. Ingin rasanya marah, statusnya adalah adiknya dan tanpa bukti apapun untuk menyalahkannya.


"Buatkan sekalian untukku, kopi pahit." Perintah Raga yang lupa akan sebuah nasehat kecil dari Doni.


Raga yang tidak ingin ada yang mendekati istrinya, lebih dulu untuk menemuinya. Namun, belum juga menemui sang istri, tiba-tiba perutnya terasa sakit dan juga nyeri.

__ADS_1


"Sia*lan! kenapa juga harus sakit perut segala, aw!"


Ujarnya akan menemui sang istri, harus gagal gara-gara perutnya yang tidak bisa untuk diajaknya kompromi. Mau tidak mau, Raga kembali masuk ke kamarnya demi menyelamatkan perutnya yang mendadak sakit.


__ADS_2