
Masih berada di kantor, semua sudah siap untuk menyambut kehadiran Bosnya. Tidak ada satupun yang mengabaikan kehadiran sosok yang dinanti-nantikan kehadirannya.
Dengan wajah ayunya, Leyza berjalan hanya seorang diri tanpa yang ada menemani.
Berawal dari karyawan laki-laki yang begitu terpesona ketika melihat kecantikan Bosnya yang baru saja datang, sungguh sangat-sangat menarik hati.
Selanjutnya karyawan perempuan yang juga kagum dengan kecantikan Bosnya, sungguh diluar dugaan.
"Kan, benar kataku. Bos kita itu perempuan, karena aku sangat mengenali kantor ini siapa pemilik sebenarnya." Bisik seorang karyawan didekat teman-temannya.
"Kamu tahu darimana? kalau Bos kita itu perempuan, siapa tahu aja, istrinya yang diminta untuk datang duluan."
"Tahu dari Pak Bubud, waktu sedang berbicara dengan seseorang."
"Hu ... kamu ini, kirain mengenal Bos cantik." Ucapnya dengan greget.
Sampainya berada di ruang kerja, Leyza duduk di kursi kerjanya. Baru saja dapat bernapas lega, tiba-tiba dirinya dikagetkan dengan suara panggilan telpon di ponselnya.
Ley segera meraih tas kecilnya dan merogoh ponselnya.
"Siapa lagi yang menelpon ku pagi-pagi gini, perasaan aku tidak mempunyai janji apapun." Gumamnya sambil merogoh ponselnya.
Setelah itu, Leyza dapat melihat siapa orangnya yang tengah menelponnya.
"Lindan? tumben tumbennya dia menelpon-ku." Gumamnya lagi dan segera menerima panggilan dari adik iparnya.
"Ya, Lin, ada apa?" sahut Leyza lewat panggilan telpon dan bertanya.
Dengan serius, Leyza mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Lindan, adik iparnya.
"Apa! kecelakaan? baik, kalau akan segera datang. Kamu tidak perlu jemput, biar nanti berangkatnya diantar supir saja." Ucap Leyza yang tidak ingin merepotkan.
__ADS_1
Karena khawatir, Leyza langsung memutuskan panggilan telponnya dan segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi suaminya.
Sebelum berangkat, Leyza memanggil Pak Bubud selaku orang kepercayaannya.
"Permisi, Nona."
"Silakan masuk aja, Pak. Maaf, saya terburu-buru. Jadi tidak saya persilahkan untuk duduk."
"Tidak apa-apa, Nona. Mungkin sangat penting, silakan jika ingin yang mau disampaikan oleh Nona." Jawab Pak Bubud.
"Begini, Pak, suami saya kecelakaan. Jadi, saya harus meninggalkan kantor ini. Tolong penyeleksian untuk sekretaris baru untuk saya, carikan yang perempuan. Nanti akan saya kabari lagi kalau saya sudah siap untuk kembali lagi ke kantor, bisa jadi butuh beberapa hari untuk menjaga suami saya. Yang jelas, saya percayakan semuanya kepada Bapak." Ucap Leyza memberi sebuah amanah kepada Pak Bubud.
"Baik, Nona. Saya doakan, semoga Tuan Raga tidak kenapa-napa."
"Semoga aja, Pak. Ya sudah kalau begitu, saya pamit pergi." Ucap Leyza sekaligus berpamitan.
Setelah itu, Leyza segera keluar dari ruang kerjanya. Kemudian, ia keluar lewat jalan pintas karena dirinya tidak ingin menjadi bahan bicara semua karyawannya. Jadi, Leyza keluar lewat jalur pintas yang terhubung langsung di samping pintu utama untuk masuk.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, terlintas di pikiran Leyza saat dirinya tengah berangkat ke kantor. Tentu saja dengan insiden kecelakaan di jalan yang dilewatinya.
Jangankan untuk saling memberi kabar, keduanya sama sekali tidak pernah saling memberi kabar atau hanya sekedar menyapa.
"Maaf, Nona, saya tetap harus hati-hati untuk memikirkan keselamatan Nona. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Nona." Jawab Pak Supir yang tetap dengan tugasnya untuk mementingkan keselamatan majikannya.
"Ya, Pak, saya hanya khawatir saja dengan keadaan suami saya." Ucap Leyza.
"Saya dapat mengerti, Nona. Bersabarlah, nanti kita juga akan sampai di rumah sakit." Jawab Pak Supir dengan fokus pada setir mobil.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Leyza sampai juga di rumah sakit.
Dengan terburu-buru karena sudah tidak sabar, Leyza segera mencari keberadaan ruang rawat suaminya. Mau bagaimanapun, suami tetaplah suami.
__ADS_1
"Ma, Pa." Panggil Leyza sambil berjalan mendekati ayah mertua dan juga ibu mertua.
Bunda Yuna langsung memeluk menantunya sambil menangis, tentu saja membuat Leyza semakin panik.
Leyza yang penasaran dengan kondisi suaminya, langsung melepaskan pelukan ini mertuanya untuk menanyakan keadaan sang suami.
"Ma, bagaimana keadaan suami Leyza? baik-baik saja, 'kan? kenapa Mama dan Papa masih ada di luar?" tanya Leyza dengan berbagai macam pertanyaan kepada ibu mertua.
"Mama belum mengetahuinya, sekarang Raga sedang ditangani oleh dokter. Doakan, semoga suami kamu baik-baik saja. Mama sangat khawatir dengan keadaannya." Jawab Bunda Yuna dengan wajah yang terlihat sembab.
Tidak nyaman untuk bicara sambil berdiri, Leyza mengajak ibu mertuanya untuk duduk. Kemudian, Ley maupun Bunda Yuna mengatur pernapasannya.
"Kalau boleh tahu, apa penyebab suami Leyza kecelakaan, Ma?" tanya Leyza karena penasaran.
Terasa berat bagi Bunda Yuna untuk berterus terang mengenai putranya yang mulai tidak bersemangat saat jauh dari istrinya.
Tapi, Bunda Yuna juga tidak mungkin untuk berbohong. Sedangkan putranya benar-benar sangat membutuhkan sosok Leyza sebagai istrinya.
"Sejak berpisah rumah, Raga tidak mempunyai semangat apapun. Bahkan untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak becus, yang dijalani hari-harinya hanyalah bekerja dan makan tidur, tidak lebih dari itu. Raga sendiri tidak peduli lagi dengan penampilannya, makan saja paling sekali dalam sehari. Badannya semakin kurus, rambut yang semakin gondrong."
Jawab Bunda Yuna dengan jujur, tidak ada yang ditutupi soal putranya dimulai saat berpisah dengan istrinya.
Leyza kemudian tertunduk sedih, dirinya merasa bersalah atas keputusannya itu.
"Mama tidak mempunyai hak untuk memintamu pulang ke rumah, kami hanya bisa memberi nasehat untuk Raga, diterima atau tidaknya, kita tidak ada paksaan apapun untuk Raga." Sambung Bunda Yuna kembali melanjutkan bicaranya.
"Maafin Leyza ya, Ma. Karena keegoisan dan keangkuhan, suami sendiri yang menjadi imbasnya. Seharusnya tidak seperti ini, semua ini salah Leyza." Kata Leyza merasa bersalah atas perbuatannya yang begitu lamanya untuk memberi keputusan kepada suaminya.
"Tidak apa-apa, Mama hanya mengikuti keputusan kamu, karena tidak ada hak bagi Mama untuk memaksakan kamu untuk menerima Raga menjadi suami kamu." Ucap Bunda Yuna, Leyza kembali memeluk ibu mertuanya dengan segala penyesalannya karena sudah membuat hidup suaminya menjadi berantakan.
'Tidak seharusnya aku membalaskan dendam-ku pada suamiku sendiri, hingga aku lupa jika aku adalah istrinya.' Batin Ley yang juga merasa bersalah atas perbuatannya karena keegoisan yang sudah menguasai dirinya, hingga menjadikan suaminya terabaikan.
__ADS_1
Saat itu juga, Tuan Hamas menghampiri istri dan menantunya yang tengah duduk bersama.
"Raga sudah dipindahkan di ruang rawat, tapi belum sadarkan diri. Jika ingin masuk, mungkin hanya satu orang saja. Terserah, siapa yang mau menemuinya duluan." Ucap Tuan Hamas pada istri dan menantunya.