
Waktu yang dilalui di negara orang, tidak terasa waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Raga yang sudah tidak sabar ingin melihat wajah ayu istrinya, ia bersabar untuk menunggunya.
Tidak hanya Raga saja yang penasaran dengan perubahan wajah Leyza. Ozan, Lindan, dan Bunda Yuna, pun juga ikutan penasaran.
Sambil menunggu, semua berdoa dan berharap tidak ada kendala apapun. Berharap, semua akan baik-baik saja.
Karena sudah tidak sabar ingin melihatnya, pelan-pelan wajah Leyza diperlihatkan sedikit demi sedikit dan terlihat dengan sempurna.
Raga benar-benar terkejut ketika melihat wajah istrinya dengan nyata, bahkan terpesona dengan ayunya wajah sang istri.
Begitu juga dengan Bunda Yuna maupun Ozan dan Lindan, ikut terkagum melihatnya.
"Sayang, kamu cantik sekali, Nak." Puji Bunda Yuna sambil meraba kulit mulus pada bagian wajah menantunya.
Ley tersenyum pada ibu mertuanya.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, Ma. Mana juga cantik." Jawab Ley yang juga ikut tersenyum.
'Kecantikan-mu tidak pernah berubah, Leyza. Kamu masih seperti dulu, yang aku kenal. Tapi kenyataannya, kamu milik lelaki lain. Entah apa yang harus aku doakan untukmu, sedangkan aku sendiri masih mengharapkan kamu. Salahkah jika aku masih mengharapkan kamu untuk menjadi bagian hidupku? jujur, aku merasa berat untuk kehilangan kamu.' Batin Ozan yang masih penuh harap untuk mendapatkan cinta dari perempuan yang disukainya sejak dulu.
Raga yang selaku suaminya, ia berjalan mendekati sang istri.
"Akhirnya, semua berjalan dengan baik, dan wajahmu sudah kembali sedia kala, sangat cantik." Ucap Raga tak lepas ikut memuji kecantikan istrinya.
"Terima kasih, ini semua berkat dukungan dari semuanya. Aku menganggap, bahwa kita tidak ada lagi masalah maupun untuk menuntut kamu mengenai luka pada wajahku, aku anggap semuanya sudah selesai. Hanya satu yang belum aku anggap selesai, keputusan yang terakhir. Setelah ini, aku tidak lagi pulang di rumah orang tua kamu, tetapi rumah ibu yang sudah mengasuhku."
Ucap Ley yang menyudahi masalah tanggung jawab mengenai luka pada wajahnya, tetapi belum pada keputusan yang terakhir mengenai hubungan pernikahannya.
Raga mencoba untuk tersenyum, walau senyumnya terasa garing.
"Terima kasih banyak karena akhirnya aku mendapatkan kata maaf darimu, dan aku tidak dihantui dengan rasa bersalahku padamu. Untuk keputusan terakhir soal pernikahan kita, semua ada pada dirimu. Aku tidak akan pernah memaksamu, semua keputusan ada padamu."
__ADS_1
Jawab Raga berusaha untuk berlapang dada ketika menyelesaikan masalah dan menerima keputusan dari sang istri.
Raga menyadari, jika pernikahannya berawal dari sebuah perjodohan. Banyak sekali kendala saat hari pernikahan akan ditentukan, tentunya banyak masalah yang harus dilewati oleh keduanya.
"Karena sudah tidak ada perdebatan, kalian bertiga boleh pulang. Biar Mama yang akan menemani Leyza, kalian siapkan acara makan malamnya. Karena nanti malam adalah waktu kita yang terakhir disini. Jadi kita gunakan waktunya sebaik mungkin, ok."
"Asiap ... ok, deh." Jawab Lindan lebih dulu.
"Sayangnya tidak ada Rafa, pasti akan bertambah seru jadinya nih." Sahut Raga ikut menimpali.
"Tara ...! aku datang ...."
Semua terkejut saat melihat siapa yang datang, siapa lagi kalau bukan Rafa orangnya.
"Rafa ...!" semua memanggil namanya.
"Hai, Leyza. Apa kabarnya? waw! cantik dengan sempurna."
"Ah reseh Lu, mentan-mentang udah beristri sendiri, hem."
"Sudah-sudah, kalian bertiga cepetan pulang. Lakukan tugas yang sudah diberikan kepada kalian, cepat pulang." Perintah Bunda Yuna pada Raga, Lindan, dan juga Ozan.
"Ma, Rafa kok tidak di suruh pulang?" tanya Lindan protes.
"Rafa baru aja datang, masa harus di usir? hem." Jawab Bunda Yuna.
"Ya nih. Aku kan, baru aja datang, Lin. Masa ya, aku ikutan pulang." Kata Rafa membela diri.
"Ya, ya, ya, deh, ya." Kata Lindan sambil memainkan bibirnya dibuat manyun dan lainnya.
Bukannya ada yang jengkel, justru semua tertawa saat melihat ekspresi Lindan yang terkesan sangat lucu dengan ekspresi bibirnya.
Dengan paksa, Raga dan Ozan langsung menarik tangan Lindan agar segera keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Dan kini, tinggal Rafa dan Bunda Yuna yang menemani Leyza. Mau bagaimanapun, tetap belum diperbolehkan untuk langsung pulang, meski sudah selesai pengobatan pada wajahnya.
"Rafa, Tante titip Leyza dulu ya. Tante mau keluar sebentar, tidak lama kok." Ucap Bunda Yuna sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Ya, Tante, tidak apa-apa." Jawab Rafa dibarengi anggukan.
"Ley, gimana hari-harimu disini? ditemani dua cowok yang sama gantengnya. Eh, salah ya, tiga cowok ganteng."
Awalnya tanya kabar, berlanjut tak lupa untuk meledek Leyza, seperti itulah tingkah Rafa para Leyza. Keduanya mempunyai kedekatan sama halnya dengan kakaknya yang bernama Ozan. Tetap saja, Rafa selalu menjaga jarak, lantaran sang kakak yang diketahui ada rasa pada Leyza.
"Apa-apaan sih kamu ini, ada-ada saja. Oh ya, bagaimana kabarmu? lama juga ya, kita sudah lama tidak pernah bertemu." Kata Leyza sedikit mendorong Rafa, dan yang pasti tidak membuat Rafa terjatuh.
"Kabarku seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Oh ya, beneran nih besok kamu mau langsung pulang?"
Jawab Raga dan balik bertanya.
"Ya Raf, aku mau langsung pulang. Itupun aku tidak pulang ke rumah mertuaku, tapi rumah ibu yang sudah mengasuhku." Jawab Leyza dan berterus terang.
"Kamu seriusan? memangnya apa masalahnya?" tanya Rafa seperti tidak percaya.
"Aku ingin menenangkan pikiranku dulu, Raf. Aku takut, aku menjalani hubungan pernikahanku dengan keangkuhan dan keegoisan. Jadi, aku membutuhkan waktu untuk meyakinkan diriku ini ketika menentukan pilihanku." Jawab Ley berterus terang atas alasan yang membuatnya harus memilih untuk sendiri dulu beberapa waktu.
"Ya juga sih, yang kamu katakan itu memang benar. Setidaknya kamu tidak gegabah untuk menentukan pilihan kamu, dan tidak berujung penyesalan. Aku doakan, semoga kamu dapat memilih sesuai pilihan kamu dengan tepat." Ucap Rafa yang juga ikut mendukung atas keputusan yang diberikan oleh Leyza, teman sekolahnya dulu.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau menyemangati-ku." Kata Leyza dengan senyumnya yang terlihat manis.
"Terus, Kak Ozan bagaimana? apakah dia masih terus mengatakan cinta kepadamu?" Rafa bertanya kembali, lantaran penasaran dengan kakaknya sendiri.
"Ya. Tapi aku tetap menolaknya, dengan alasan, karena aku akan menentukan pilihanku. Kamu tidak perlu khawatir, kita tetap baikan." Jawab Leyza dengan sejujurnya.
"Syukurlah jika Kak Ozan menerima keputusan yang mutlak dari kamu, aku takutnya akan ada dendam diantara Raga dengan kakakku, hanya itu saja." Ucap Rafa yang diam-diam mengkhawatirkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Semoga saja tidak, kita doakan saja." Jawab Leyza berusaha untuk meyakinkan.
__ADS_1