
Beberapa hari telah dilewati oleh Leyza, perempuan yang memilih untuk tidak tinggal di rumah suaminya, lantaran karena sesuatu hal untuk memenangkan pikirannya.
Hari-hari yang dijalani oleh Leyza, sangatlah berbeda dengan hari-harinya ketika di rumah yang sangat sederhana. Kini, sosok Leyza berubah drastis. Bahkan kecantikannya sangat jauh dengan perempuan yang pernah menyandang statusnya sebagai kekasih Raga Dirwagana.
Tidak cukup hanya sebagai Nona serta nyonya di rumahnya, Leyza juga duduk di kursi pimpinan di perusahaan mendiang orang tuanya.
Sebelumnya, Leyza mempercayakan kepada Tuan Hamas, selaku ayah mertuanya. Dan kini, sudah di ambil alih oleh Leyza. Tentunya, karena tidak ada lagi masalah dan menuntut tanggung jawab atas perbuatan dari suaminya.
Di dalam kantor, kini tengah di hebohkan oleh sosok karyawan baru yang akan mendaftarkan diri menjadi seorang sekretaris.
"Lihatlah karyawan baru itu, sok cantik dan juga sok segalanya. Mentang-mentang pernah menjadi sekretaris, sekarang mau menjabat sekretaris lagi. Aku yakin tidak akan diterima, secara pemilik perusahaan ini bukan orang sembarangan." Ucap seorang karyawan lama yang tengah membicarakan karyawan baru yang akan mendaftarkan diri menjadi sekretaris.
"Ya tuh, sok banget orangnya. Padahal ya, cantik aja pas-pasan. Lihat tuh, sebenarnya juga karena operasi plastik, aslinya juga entah seperti apa." Sahut karyawan yang ada di sebelahnya.
"Ngapain kalian lihat-lihat, tidak pernah lihat perempuan secantik dan se se*ksi aku, ya. Duh! kasihan banget, makanya kalau mau cantik tuh modal. Cari pacar tuh yang kaya, bila perlu si Bos dijadikan batu loncatan." Ucapnya dengan percaya diri.
"Jual obral gitu, maksudnya kamu? maaf ya, biar kita kalah cantiknya sama situ, kita ini perempuan baik-baik. Emangnya kamu, yang suka goda Bos." Jawabnya yang tidak mau kalah.
"Eh! punya mulut tuh dijaga, jangan jadi ember." Ucapnya dengan tatapan sinis.
"Sudah, sudah, sudah. Ini kantor, bukan tempat untuk berdebat. Sekarang juga, kembali ke ruang kerja kalian masing-masing."
"Ya, Pak Bubud." Jawab beberapa karyawan, termasuk yang mau mendaftarkan diri menjadi sekretaris.
Setelah diusir oleh Pak Bubud selaku orang kepercayaan di kantor, Beliau juga selalu mengawasi karyawan-karyawan yang lainnya.
Karena pemilik perusahaan akan datang untuk memilih sekretaris baru, semua karyawan dibuatnya kembali heboh.
Penasaran, itu sudah pasti bagi karyawan yang ingin mengetahui sosok pemilik perusahaan. Lelaki atau perempuan, tidak ada satupun yang mengetahuinya.
Kabar yang sudah beredar, adalah seorang lelaki tampan dan banyak pengagumnya. Selain itu juga, kabar miringnya adalah seorang perempuan yang sangat cantik.
__ADS_1
Issue yang di dapati oleh para karyawan, semuanya masih simpang siur. Tetap saja, semua menerka-nerkanya.
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di kediaman keluarga Hamas Dirwagana. Sudah beberapa hari berpisah dengan istrinya, tak ada semangat sedikitpun untuk menjalani kesehariannya.
"Raga, kamu mau makan atau mau mainan sendok? perasaan dari tadi kamu hanya membolak-balikan makanan saja, dan tidak memakannya."
"Ya nih, Kak Raga kenapa? kangen ya, sama kakak ipar?" timpal Lindan ikut bicara.
Raga langsung menoleh pada adiknya. Kemudian, ia bangkit dari posisi duduknya dan menyambar tas kerjanya tanpa menjawab pertanyaan dari sang ibu maupun adiknya, si Lindan.
"Kak Raga." Panggil Lindan, takut ucapannya telah menyinggung saudara laki-lakinya.
"Lindan, duduklah. Biarkan saja, jangan ganggu kakak kamu." Perintah ibunya, Lindan hanya bisa nurut.
Raga yang merasa penat di kepalanya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli baginya dengan jalanan yang dipadati banyaknya kendaraan yang lalu lalang. Raga terus melajukan mobilnya dan menambahkan kecepatannya.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Raga dan tak sadarkan diri.
Setelah, di ambillah kartu nama yang dapat ditemukan identitas korban, segera untuk dihubungi.
"Apa! kecelakaan?"
Seketika sekujur tubuh Bunda Yuna tak lagi berdaya, saat mendapatkan sebuah kabar dari pihak rumah sakit, bahwa putranya yang bernama Raga Dirwagana telah mengalami kecelakaan tunggal.
"Ada apa, Ma?" tanya Lindan langsung menangkap tubuh ibunya yang hampir saja terjatuh ke lantai saat dirinya mendengar ibunya berteriak.
"Kakak kamu, Raga." Jawab Bunda Yuna dengan suara yang lirih.
"Kenapa dengan Mama, Lindan?" tanya Tuan Hamas yang baru saja keluar dari kamar.
"Raga, Pa, Raga." Jawab Bunda Yuna dengan tubuhnya yang lemas.
__ADS_1
"Ya, Ma, ya. Kenapa dengan Raga? dimana anak itu?"
"Raga kecelakaan, Pa. Sekarang, dia ada di rumah sakit. Ayo kita susul ke rumah sakit, hubungi Leyza." Jawab Bunda Yuna dan juga meminta suaminya untuk menghubungi menantunya.
"Ya, Ma. Sekarang, ayo kita berangkat. Biar Lindan yang menjemput Leyza." Ucap Tuan Hamas, Raga mengangguk.
"Ya, Ma, Lindan yang akan menjemput kakak ipar. Mama lebih baik berangkat duluan saja sama Papa, Raga nanti menyusul." Jawab Lindan, dan segera berangkat untuk menjemput kakak iparnya.
Sedangkan dalam perjalanan, Leyza begitu fokus dengan melihat jalanan yang dipadati banyak orang-orang yang terlihat seperti habis berkerumunan.
"Rame banget, ada apa ya, Pak?" tanya Leyza sambil melihat jalanan.
"Sepertinya habis terjadi kecelakaan deh, Nona. Lihatlah, mobilnya sampai hancur seperti itu." Jawab Pak Supir, sedangkan Leyza tengah mengamati mobil yang baru saja terjadi insiden kecelakaan.
'Sepertinya aku mengenali mobil itu. Bukankah sangat mirip dengan mobil suamiku?' batin Leyza bertanya-tanya pada diri sendiri ketika merasa mengenali mobil yang mengalami kecelakaan.
Karena tidak ingin bertambah pusing untuk memikirkan sesuatu yang tidak jelas, Leyza menepis pikiran buruknya.
Cukup lama dalam perjalanan karena arus macet, akhirnya telah sampai di depan kantor. Semua karyawan dibuatnya deg-degan, lantaran penasaran dengan sosok yang akan menjadi Bosnya.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap Pak Supir, Ley tersadar dari lamunannya.
"Ya, Pak, terimakasih sudah mengantarkan saya sampai di kantor dengan selamat." Ucap Leyza, dan segera melepaskan sabuk pengamannya.
Belum juga turun dari mobil, semua karyawan dan staf lainnya sudah siap untuk menyambut Bosnya dengan hangat. Berharap, tidak memiliki Bos yang super angkuh dan juga dingin. Mau perempuan ataupun laki-laki sekalipun.
"Ayo tebakan, Bos kita ini, perempuan atau laki-laki? aku tebak nih ya, pasti perempuan." Ucap salah satu karyawan saat sudah siap siaga untuk menyambut Bosnya.
"Sok tahu kamu itu. Kalau menurutku nih ya, yang namanya Bos itu, kebanyakan laki-laki. Kalaupun perempuan, yang ada juga suaminya yang diminta untuk menggantikannya." Sahutnya dengan berani.
"Tebakanku, sama seperti Ruri, Bos kita sosok perempuan yang sangat cantik." Ucapnya yang tetap dengan tebakannya sendiri, tidak akan goyah, pikirnya.
__ADS_1