Istri Pilihan Ayah

Istri Pilihan Ayah
Meminta waktu


__ADS_3

Karena sebuah permintaan, Bunda Yuna tidak dapat menolaknya.


"Nak Ozan, Raga, kalian berdua boleh masuk kedalam. Tapi ingat, tidak untuk berdebat ataupun menimbulkan percekcokan diantara kalian." Ucap Bunda Yuna.


Raga yang mendengarnya, pun langsung masuk ke dalam ruang rawat istrinya. Kemudian, disusul oleh Ozan, karena sudah tidak sabar ingin melihat kondisinya.


"Ley, bagaimana keadaan kamu? maafkan aku yang membuatmu seperti."


"Baru nyadar, kamu? sampai-sampai istrinya sendiri tergeletak di pinggir jalanan tidak dipedulikan. Suami macam apa, taruh dimana otakmu itu."


Raga langsung menoleh pada Ozan, tatapannya terlihat seperti ingin memangsa musuh dan ingin rasanya melayangkan sebuah tinjuan padanya. Tetapi niatnya diurungkan, lantaran tak ingin menambah gaduh di dalam ruangan tersebut.


"Leyza, kamu tak pantas bersuamikan seperti Raga. Aku sarankan secepatnya kamu tinggalkan Raga, itu jauh lebih baik daripada kamu hidup harus tersiksa karena ulahnya." Ucap Ozan yang merasa gerah dengan sosok Raga.


Ley mengarahkan pandangannya pada sang suami. Terlihat jelas tengah menahan kekesalannya saat mendapatkan ejekan serta tuduhan dari Ozan.


"Aku pamit keluar, silakan kalau kalian berdua ingin bicara atau mengobrol. Aku tidak akan mengganggunya, dan aku akan menunggunya di luar." Ucap Raga yang lebih memilih keluar dari ruangan tersebut, daripada harus mendengar cemoohan dari Ozan, lelaki yang menjadi pesaingnya.


Ley mengangguk, kemudian Raga langsung keluar dengan perasaan dongkol dan juga tidak karuan.


Kini, tinggallah Ozan dan Leyza yang berada di dalam ruang rawat pasien.


"Ley, mau sampai kapan kamu akan terus bertahan dengan pernikahanmu? lihatlah suami kamu, sedikitpun tidak ada perhatian untukmu."


"Karena aku yang menolaknya, bukan dia yang tidak mau memberi perhatian kepadaku, dan kesalahan ini memang salahku, tidak seharusnya aku mengatakannya langsung saat keadaan masih panas-panasnya."


"Maksud kamu itu apa, Ley?"

__ADS_1


"Aku yang meminta untuk berpisah dengannya setelah aku melakukan pengobatan pada wajahku ini, tentunya karena sesuatu hal juga." Jawab Ley mengakui.


"Aku masih belum mengerti, sesuatu hal apa yang kamu maksudkan."


"Aku hanya ingin mengetahui, seberapa besar dia mempertahankan pernikahannya, hanya itu. Pernikahanku berawal dari sebuah perjodohan, dan lukaku ini juga karena ulahnya, dan awalnya aku ingin membalaskan dendam-ku padanya, tetapi aku urungkan niatku."


"Apa! jadi ..."


"Ya. Aku minta maaf, jika aku tidak pernah jujur dari awal dengan Kak Ozan. Aku mengaku salah, dan pada akhirnya aku terjebak dengan pernikahanku sendiri." Ucap Leyza yang pada akhirnya berterus terang.


"Apakah pada akhirnya kamu akan menerimanya sebagai suami kamu dan akan mempertahankan pernikahanmu?" tanya Ozan ingin mendapatkan jawaban dari mulut Leyza sendiri.


"Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiranku, dan juga memulihkan kembali perasaanku. Tentu saja aku akan kembali ke rumah ibu yang sudah mengasuhku selama aku ingin sendirian, dan tak ada yang menggangguku." Jawab Leyza dengan keputusannya.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Pilihan yang kamu pilih, semoga menjadi penentu untuk kebahagiaan kamu nantinya." Ucap Ozan yang tidak penuh dengan paksaan, pasrah dengan pilihan perempuan yang disukainya.


Bagi Ozan, cinta tak harus dimiliki. Setidaknya masih berhubungan dengan baik, itu sudah lebih dari cukup, pikir Ozan.


Dengan berani, Ley akhirnya mengungkapkan apa yang seharusnya dia ucapkan. Takut, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


"Ya, tidak apa-apa. Aku doakan, semoga kebahagiaan segera menjemputmu. Pikirkan baik-baik untuk kedepannya, jangan sampai berakhir dengan sebuah penyesalan." Ucap Ozan tak lupa untuk mengingatkan, Ley tersenyum dan mengangguk.


"Ya sudah, aku panggilkan suami kamu. Mungkin saja ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan atau ada yang lebih penting lagi." Sambungnya lagi sekaligus pamit untuk keluar, lagi-lagi Ley kembali mengangguk.


Tidak ingin masalah berlarut-larut, Ozan segera memanggil Raga untuk menemui istrinya.


"Raga, silakan kalau kamu ingin masuk untuk menemui istrimu. Barangkali aja ada yang sesuatu yang ingin kamu sampaikan dan bicarakan dengan istrimu."

__ADS_1


"Yang dikatakan Ozan itu ada benarnya, temui istrimu dan bicarakan baik-baik. Jangan seperti anak ABG, yang mengandalkan emosi, bukan pada penyelesaian masalah." Sambung Bunda Yuna ikut bicara.


"Benar itu Kak, cepatlah temui kakak ipar. Setidaknya selesaikan masalah kakak dengan kepala dingin, dan jangan mengandalkan emosi." Sahut Lindan ikut menimpali.


"Ya, Ma." Jawab Raga dan segera masuk ke dalam ruang pasien istrinya.


Dengan hati-hati, Raga membuka pintunya dan kembali ditutup.


Dilihatnya sang istri yang sudah duduk sambil bersandar dengan tangannya yang terpasang infus.


"Maaf, jika aku sudah mengganggu."


Ucap Raga dan menarik kursi yang tidak jauh darinya, lalu duduk didekat sang istri. Hanya saja, Leyza duduk berada di ranjang pasien, sedangkan Raga duduk di kursi yang tingginya lebih tinggi istrinya.


"Bagaimana keadaan kamu? apakah ada sesuatu yang kamu rasakan? sakit, atau yang lainnya."


"Tidak ada, aku baik-baik aja, mungkin besok juga sudah diperbolehkan untuk pulang." Jawab Leyza tak lupa dengan anggukan.


"Syukurlah jika kamu baik-baik saja, dan tidak ada sesuatu yang dikhawatirkan. Maafkan aku, jika aku sudah membuatmu seperti ini." Ucap Raga penuh penyesalan.


"Namanya juga dalam keadaan emosi, aku tidak menyalahkan kamu atau yang lainnya. Mungkin saja ini musibah untukku, wajar jika aku jatuh pingsan karena kondisiku yang kurangnya kekebalan tubuh saat badan diguyur dengan air hujan, serta dengan angin yang cukup kencang." Jawab Leyza.


"Katakan padaku, apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan untukku? katakan saja, aku siap untuk menerimanya." Ucap Raga yang akhirnya membuka topik pembahasan.


"Sebelumnya aku mau minta maaf, jika ucapan dariku akan membuatmu kecewa."


"Aku siap menerimanya, katakan saja. Aku sadar diri, semua kesalahan berawal berawal dariku. Jadi, aku tidak akan memaksa kamu untuk hidup bersamaku atau menjalani pernikahan denganku."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengatakannya langsung padamu. Bahwa mulai besok setelah dirasa badanku tidak ada kendala apapun, aku akan melangsungkan pengobatan pada wajahku. Setelah sembuh dari pengobatan, aku akan pulang ke rumah ibu yang sudah mengasuhku. Aku akan menenangkan pikiranku di sana, aku ingin pikiran dan hatiku kembali selaras. Tidak ada emosi dan juga paksaan untuk diriku nantinya saat menentukan pilihanku antara bertahan dalam pernikahan atau harus melepaskan. Aku minta maaf, jika keputusanku ini membuatmu kecewa." Ucap Leyza dengan panjang lebar.


"Tidak apa-apa. Jika memang cara seperti itu yang bisa membuatmu tenang untuk berpikir dan menentukan pilihan kamu, aku sama sekali tidak melarang-mu. Yang kamu lakukan itu ada benarnya, tenangkan pikiranmu dulu. Setelah pilihan yang kamu tentukan sudah yakin, kamu bisa menemui aku kapanpun." Jawab Raga dengan perasaan tenang dan tidak gegabah.


__ADS_2