
Ley hanya menatap wajah suaminya, lalu menggelengkan kepalanya pertanda tidak mengizinkan sang suami untuk menghubungi ibunya.
"Aku sudah mengatakannya pada Lindan, kalau kita ini baik-baik saja." Ucap Leyza.
Dan tiba-tiba hujan turun deras dan disertai angin kencang, Raga maupun Leyza sama paniknya. Tidak mungkin juga jika harus berteduh di taman, karena tempatnya yang hanya untuk berteduh ketika panas terik matahari dan gerimis, tidak untuk hujan lebat dan angin kencang.
Raga tidak bergeming, tetap berdiri dan merentangkan kedua tangannya sambil menyambut hujan hingga membasahi rambut dan pakaian yang ia kenakan.
Ley yang melihat suaminya tak juga pergi dari taman, ia langsung menarik tangannya.
"Apa kamu sudah gi*la? ha! ayo kita pergi dari taman ini, kalau sampai ada angin topan, bisa bahaya untuk keselamatan kita. Lihatlah, pohonnya besar-besar." Bentak Leyza sambil menarik tangan suaminya dengan kuat untuk mengajaknya pulang.
"Untuk apa? aku masih ingin berasa di taman ini, bila perlu mati sekalian."
PLAK!
Raga meringis kesakitan, ketika sebuah tamparan dari sang istri mendarat pada pipinya. Raga mengusapnya, dan menatap wajah istrinya.
Merasa geram dengan sikap suaminya yang sudah membuatnya kesal, Ley langsung pergi dan meninggalkan raga dengan guyuran hujan yang sangat deras.
Raga terus mengejar, tapi tak dapat mengejar istrinya, dikarenakan kehilangan jejak akibat angin kencang.
Bahkan, Ley sampai melupakan ketakutannya dengan hujan deras, angin kencang dan juga petir yang mulai bersahutan walau tidak begitu menggelegar.
Kedua tangan yang sudah mengkerut karena kedinginan dengan wajah yang pucat, dan juga tubuh gemetaran, Ley berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi orang.
Ozan dan Lindan berpencar untuk mencari keberadaan Leyza maupun Raga. Seketika, Ozan melihat sesuatu di jalanan. Secepatnya ia meminta seorang supir untuk menambahkan kecepatan, ingin mengetahui apa yang ada di pinggir jalanan.
Tak peduli dengan hujan yang sangat deras dan angin bertiup kencang, Ozan langsung turun dari mobil untuk memastikannya langsung.
"Leyza ....!" teriak Ozan saat mendapati tubuh perempuan yang dicintainya itu jatuh pingsan dengan wajah yang sangat pucat.
Secepatnya, Ozan langsung mengangkat tubuhnya dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan pertolongan.
Karena takut terjadi sesuatu pada Leyza, Ozan melepaskan jaketnya.
"Raga, keterlaluan kamu. Jangan harap kamu akan memiliki Leyza. Aku tidak akan pernah melepaskannya, walaupun kamu berstatus suaminya sahnya." Ucapnya dengan penuh amarah.
Sampainya di rumah sakit, Ozan yang membawanya untuk dilakukan penanganan.
Sedangkan di tempat lain, Raga baru saja sampai di rumah dengan keadaan basah kuyup.
Raga langsung menekan tombol bel pintu, dan terbuka oleh Bunda Yuna.
__ADS_1
"Ma, Leyza mana?"
"Leyza, bukankah tadi bersama kamu?"
Bunda Yuna tanya balik pada putranya.
"Ya, tapi kita berpencar saat hujan deras." Jawab Raga dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Apa! berpencar? apa kamu sudah gila? ha! Leyza takut hujan, angin kencang, dan juga petir. Kalau terjadi sesuatu dengannya, bagaimana? ini bukan negara kita, Raga."
Tak menjawab pertanyaan apapun dari ibunya, Raga langsung masuk ke kamar dan segera menggantikan pakaiannya karena kehujanan.
Setelah itu, Raga langsung bergegas keluar dari kamar.
Saat baru saja sampai di anak tangga, telpon rumah telah mengagetkan Bunda Yuna dan juga Raga.
Secepatnya, Bunda Yuna menerima panggilan telponnya.
"Apa! Leyza di rumah sakit? baik, Tante akan segera ke sana." Jawab Bunda Yunda dan langsung mematikan panggilannya.
"Apa, Leyza di rumah sakit?"
"Kamu sudah melakukan kesalahan berapa kali dengannya, Raga? istrimu akan bertambah membencimu dan lebih memilih seseorang yang selalu memberi perhatian dan tidak pernah berbuat kasar dengan istrimu." Ucap sang ibu dengan terang-terangan memberi ancaman kepada putranya.
"Ma, ayo kita berangkat." Panggil Lindan yang baru saja masuk rumah.
"Kamu sudah tahu?"
"Ya, Ma. Tadi Kak Ozan yang menghubungiku, kalau kakak ipar berada di rumah sakit." Jawab Lindan sambil melirik ke arah Raga dengan sinis, lantaran sudah kelewatan pada istrinya sendiri.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Bunda Yuna yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan menantunya.
"Ma, aku ikut."
Bunda Yuna maupun Lindan tak menanggapinya, dan memilih untuk segera berangkat daripada harus menyahutnya.
Tidak memakan waktu lama, telah sampai d rumah sakit yang di tuju.
Dengan kekhawatiran, Raga langsung berlari dan mencari ruang rawat istrinya.
Saat menemukan ruang rawat istrinya, rupanya sudah ada Ozan yang berdiri di depan pintu.
"Minggir, aku mau melihat keadaan istriku." Ucap Raga yang meminta dirinya untuk masuk.
__ADS_1
BUG!
Raga hanya meringis kesakitan saat mendapatkan serangan dari Ozan, tepatnya pada sudut bibirnya hingga pecah dan mengeluarkan darah.
Sedikitpun, Raga tak membalasnya.
"Suami macam apa, kamu. Membiarkan istrinya jatuh pingsan dan diguyur hujan. Dan sekarang, kamu mau mengakuinya sebagai suami, cih." Ucap Ozan dengan tatapan penuh kebencian.
"Cukup! hentikan perdebatan kalian berdua, memalukan."
"Ingat, Raga. Setelah ini, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk menemui istrimu."
"Aku tidak takut, mau bagaimanapun aku ini suami sahnya. Tentu saja sangat mudah untukku menemui istriku."
"Sudah! cukup, hentikan perdebatan kalian."
Bentak Bunda Yuna yang begitu geram mendengar perdebatan putranya.
Setelah mendapatkan izin untuk masuk, Bunda Yuna yang lebih dulu menemui menantunya.
"Leyza sayang, kenapa bisa begini, Nak?"
"Ma-Mama, maafkan Leyza yang sudah merepotkan dan juga sudah membuat Mama khawatir." Jawab Leyza yang sudah sadarkan diri dari pingsannya.
"Kak Ozan mana, Ma?" tanya Leyza yang justru mencari keberadaan Ozan, bukan suaminya.
"Di luar, Ozan yang sudah membawamu ke rumah sakit. Maafkan anak Mama, si Raga yang sudah menyakiti kamu berkali-kali." Jawab Bunda Yuna merasa malu ketika menantunya terabaikan oleh putranya sendiri.
"Tidak apa-apa kok, Ma. Ini semua juga salah Leyza, yang sudah membuat suami Leyza kecewa." Ucap Leyza yang menyadari akan kesalahannya yang sudah memberi keputusan yang tidak tepat pada waktunya.
"Kak Ozan mana, Ma? Leyza mau ucapin terimakasih padanya, karena sudah menyelamatkan nyawa Leyza."
"Ozan ada di depan bersama suami kamu, apa kamu yakin akan bertemu dengannya? bukannya Mama melarang, takut akan ada masalah lagi."
"Asalkan ada Mama yang menemani, tidak apa-apa kan, Ma?"
"Baiklah, Mama akan panggilkan Ozan." Jawab Bunda Yuna dan menuruti permintaan menantunya.
"Juga Raga ya, Ma."
Bunda Yuna langsung menoleh ke belakang saat hendak keluar.
"Kamu yakin?" tanya Bunda Yuna memastikan, takutnya akan ada perdebatan sengit diantara putranya dan juga Ozan, pikir Beliau yang masih dihantui rasa ketakutan.
__ADS_1