
Raga yang frustrasi karena sebuah penyesalan, memilih untuk pulang. Berharap, istrinya akan memberinya maaf.
Dengan kecepatan sedang karena banyaknya pikiran yang membuat kepala semakin penat, berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar dan juga mengacak rambutnya.
Ditambah lagi mengetahui jika Ozan selaku kakaknya Rafa yang juga menyukai istrinya, semakin tidak rela jika dirinya harus bersaing. Ditambah lagi dengan perjanjian dengan orang tuanya sendiri atas ancaman uang sudah disepakati, membuat Raga pusing memikirkannya.
"Aaaaaaaa!" teriak Raga begitu kencang, dan memukul setir mobilnya cukup kuat. Untung saja, tidak membuatnya celaka.
Dengan napasnya yang terasa panas, Raga memilih menepikan mobilnya di bawah pohon besar, tepat di jembatan dengan air yang cukup deras mengalirnya.
Tidak ingin mati sia-sia karena terbawa sebuah penyesalan, Raga melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli jika harus memecah jalanan yang mulai sepi tanpa banyaknya kendaraan yang lalu lalang.
Tidak memakan waktu lama, Raga memasuki halaman rumahnya yang terlihat sudah sepi, lampu yang terang berubah menjadi redup.
Masih dengan kepalanya yang terasa penat, Raga berjalan menuju anak tangga. Kemudian, ia menyalakan lampunya dan menapaki anak tangga.
"Raga, darimana kamu? kenapa jam segini baru pulang?" panggil sang ayah memergoki putranya yang baru saja pulang.
Raga berhenti dan menoleh, lalu melihatnya ke bawah anak tangga.
"Dari rumah teman sekolah, Pa." Jawab Raga dengan lesu. Malas melanjutkan bicaranya, langsung menapaki anak tangga dan masuk ke kamarnya.
Tuan Hamas hanya menggelengkan kepalanya, lantaran mendapati putranya yang terlihat tak bersemangat.
"Pa, sudah malam ini loh, kenapa belum tidur juga?"
"Itu, si Raga baru saja pulang." Sahut Tuan Hamas dan membalikkan badannya, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Raga baru pulang? dari mana katanya?" tanya Bunda Yuna ingin tahu.
"Katanya sih, dari rumah teman sekolahnya. Ya sudah, ayo kita tidur. Bukankah besok kamu akan menemani menantu-mu pergi ke luar negri?"
"Ya, tapi ... apa Papa tidak kasihan sama Raga?"
"Kasihan untuk apa, Ma? bukankah Raga sendiri yang menolaknya. Lalu, untuk apa kasihan dengannya? biarin saja dia mengerjakan tugas kantornya."
"Ya sih, terserah Papa saja." Ucap Bunda Yuna yang tidak bisa menuntut.
"Sudahlah, tak perlu Mama pikirkan. Raga sudah dewasa, biarkan memikirkan keputusannya sendiri. Papa ingin tahu, seberapa besar penyesalan itu anak. Papa yakin jika Raga akan jatuh cinta dengan istrinya, saat itu juga akan Papa pisahkan."
"Papa seriusan nih? jangan begitu dong, Pa. Mama mohon, jangan ikut campur dengan hubungan Raga dan istrinya jika mereka saling mencintai." Ucap Bunda Yuna memohon, tidak ingin suaminya ikut campur dengan pernikahan putranya.
__ADS_1
"Tetap saja, Papa harus memberinya pelajaran." Jawab Tuan Hamas tetap pada keputusannya yang tidak bisa untuk diganggu gugat.
"Ya, Pa. Semoga saja, Raga berubah menjadi lebih baik lagi dan dapat menjaga bicaranya. Mama juga berharap, Raga menjadi orang yang bijak dan tidak lagi menyombongkan diri." Ucap Bunda Yuna.
"Doakan saja untuk Raga, semoga harapan kita bisa terwujud untuk merubah dirinya menjadi lebih baik lagi." Kata Tuan Hamas, Bunda Yuna mengangguk dan keduanya masuk ke kamar untuk beristirahat.
Sedangkan Raga yang sudah berada di dalam kamar, pandangannya tertuju pada istrinya yang tengah tidur dengan pulas.
Didekatinya, sang istri yang tidur di atas sofa, Raga meraih kursi serta menggeser meja dan duduk didekatnya.
Dipandanginya sang istri dengan wajah yang ada lukanya, Raga melihatnya sedih. Kemudian, diraihnya tangan milik istrinya.
"Maafkan aku yang sudah melukai wajahmu ini, dan juga menghancurkan masa depanmu. Maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu juga, dengan hinaan hinaan dari mulut kotorku ini." Ucapnya lirih dengan penuh penyesalan.
Leyza yang sudah tidak ingat apa-apa karena rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya, tidak dapat merespon saat suaminya bicara dan memegangi tangannya.
Rasa penasaran, Raga memegangi luka bakar darinya di masa sekolah. Begitu berat meski hanya sekedar menelan ludahnya.
Tidak ingin badan istrinya sakit karena tidur di sofa, Raga memindahkan posisi tidurnya ke tempat tidur. Kemudian, dengan hati-hati agar tidak terbangun dari tidurnya, Raga menyelimuti tubuh istrinya. Sedangkan dirinya sendiri yang memilih untuk tidur di atas sofa.
Sambil menatap langit-langit, perlahan Raga memejamkan kedua matanya. Menginginkan untuk bisa tidur dengan pulas, meski pikirannya sendiri masih tidak karuan.
Ditambah lagi besok adalah hari berangkatnya sang istri untuk liburan ke luar negri ditemani ibundanya dan adiknya sendiri.
Tak ingin sang istri mendapati dirinya tidur di sofa, Raga bangun lebih awal dari istrinya.
Setelah terbangun dari tidurnya, Raga memilih untuk membersihkan diri agar badannya terasa lebih segar.
Sedangkan Leyza masih tidur dengan pulasnya, hingga tak sadar jika suaminya sudah bangun lebih awal.
Selesai membersihkan diri, Raga keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar di taman belakang.
Raga yang sudah tidak ada didalam kamar, Leyza terbangun dari tidurnya. Alangkah terkejutnya saat tubuhnya sudah terbaring di atas tempat tidur.
Berkali-kali Leyza mengucek kedua matanya, tetap masih berada di atas tempat tidur.
"Perasaan aku tidur di sofa, kenapa bisa ada di tempat tidur ini? apakah Raga yang memindahkan aku? mungkinkah? apakah ini hanya modus saja, agar aku memaafkan dirinya? tidak! aku tidak akan memberinya kata maaf dengan mudah." Gumamnya, dan bergegas bangkit dari posisi tidurnya.
Usai membereskan tempat tidur, Leyza masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
__ADS_1
.
.
Di dapur, Raga tengah sibuk membuat teh hangat tawar untuk temani paginya.
"Tehnya untuk siapa, Tuan?" tanya Mbak Yana ingin tahu karena penasaran karena melihat majikannya yang tidak biasa masuk ke dapur membuat teh hangat dengan dua cangkir.
"Untukku, kenapa?"
"Tapi itu dua cangkir, Tuan? oh ya, untuk Nona Leyza ya, Tuan?"
"Sok tahu, nih! beresin mejanya." Jawab Raga dengan ketus dan tak lupa memberi perintah untuk Mbak Yana selaku asisten rumah yang sudah menjadi kepercayaan keluarga Dirwagana.
"Jangan-jangan Tuan Raga bucin nih sama Nona Leyza, sepertinya begitu." Ucap Mbak Yana dengan ekspresi senyum yang tidak jelas.
"Aw! ngagetin aja kamu, ini. Tidak lihat orang sedang senang apa, kamu ini."
"Senang? senang apanya? hem."
"Telat, tadi ada iklan romantis banget, ya ... walaupun tidak nyata."
"Romantis tapi tidak nyata, lagi ngigau kamu itu."
"Serius, aku tidak sedang mengigau, ini beneran. Hanya saja, belum sempurna iklannya." Kata Mbak Yana, sedangkan temannya sama sekali tidak mengerti dan juga tidak nyambung dengan ucapan dari Mbak Yana.
"Hem, terserah kamu Yan, Yan. Sudahlah, aku mau lanjutin kerjaku, bisa-bisa aku dapat teguran dari Tuan Hamas." Ucapnya dan memilih untuk melanjutkan kerjanya.
Sedangkan Raga yang baru saja masuk ke kamar, dirinya melihat sang istri yang sedang mengeringkan rambutnya.
Leyza yang kebetulan sudah selesai mengeringkan rambutnya, segera menguncir rambutnya. Kemudian menoleh ke belakang, dikarenakan telan mendengar suara pintu yang dibuka.
Raga berjalan mendekati istrinya dengan membawa dua cangkir teh hangat di tangannya.
"Aku buatkan teh tawar hangat untukmu, terimalah." Ucap Raga sambil menyodorkan secangkir teh pada istrinya.
"Maaf, aku tidak terbiasa minum teh hangat tawar maupun manis." Jawab Leyza menolaknya dengan mengatupkan kedua tangannya.
Raga yang mendapat penolakan dari istrinya, tak bisa membentak atau mengumpat dengan kalimat kasarnya.
Raga membuang napasnya dengan kasar, dan meletakkan secangkir tehnya di atas meja, sesekali meny*esap minuman tehnya sambil memperhatikan sang istri tengah mengemasi barang bawaannya.
__ADS_1
Berpikir dan berpikir, Raga merasa ingin pergi bersama istrinya ke luar negri.
'Aku kan, suaminya. Ini kesempatan emas untukku ikut ke luar negri, agar aku bisa terus bersamanya dan meminta maaf.' Batin Raga yang mana dirinya telah mendapatkan ide untuk mendekati istrinya, agar dapat mendapatkan kata maaf.