
Raga, Ozan, Leyza, ketiganya sama-sama diam tanpa bersuara.
"Tidak ada apa-apa, Tante. Biasa, masa kebersamaan dulu." Jawab Ozan yang akhirnya membuka suara.
"Yakin nih?" tanya Bunda Yuna sambil melirii ke arah putranya.
"Yakin, Tante." Kata Ozan untung mendinginkan suasana yang tengah memanas, antara dirinya dengan Raga.
"Ya sudah kalau tidak ada apa-apa, sebentar lagi gelap, kalian segera mandi dan lanjut makan malam. Waktu kita berada disini tidak lama. Setelah semuanya beres, kita akan langsung pulang." Ucap Bunda Yuna, Leyza mengangguk, bingung harus menjawabnya apa.
Ozan yang tidak ingin menambah suasana menjadi memanas, memilih untuk kembali ke kamar.
Kini, tinggal Raga dan Leyza yang belum ke kamarnya. Sedangkan Lindan sudah lebih dulu sebelum Ozan.
"Leyza, sudah sore dan waktunya untuk mandi." Ucap Bunda Yuna, Leyza mengangguk dan sekaligus berpamitan.
"Dan kamu Raga, Mama ingin berbicara denganmu." Sambungnya lagi mengarah pada putranya.
"Ya, Ma." Jawab Raga.
__ADS_1
Kemudian, Raga meletakkan secangkir kopi panasnya dan menarik kursi, serta duduk berdekatan dengan ibunya.
"Kamu itu sudah dewasa, tidak perlu bersikap layaknya anak remaja, Raga. Kamu sudah beristri, seharusnya kamu bisa lebih bijak lagi untuk menghadapi siapapun orangnya." Ucap ibunya, Raga mengangguk sambil menunduk.
"Mama tebak, niat kamu datang kesini itu, tidak lain hanya ingin meminta maaf, 'kan? bukan untuk suatu tujuan yang lain."
"Maaf, Ma. Yang dikatakan Mama itu, memang benar adanya."
"Seharusnya kamu itu lebih bijak lagi untuk meminta maaf dengan istrimu, tidak harus mengandalkan emosi kamu. Ingat, semakin kamu brutal, istrimu bukannya tertarik denganmu, justru ingin rasanya menjauh darimu. Jadi, Berhati-hatilah jika kamu ingin meminta maaf yang tulus dengan istrimu. Tahan emosi kamu, dan tanamkan kesabaran." Ucap ibunya, lalu menepuk punggung putranya.
Raga mengangguk dan menoleh pada ibunya.
"Kamu pasti bisa, buktinya kamu bisa berubah seperti sekarang ini. Dulunya, kamu selalu di bully, dan Sekarang giliran kamu untuk meminta maaf dengan tulus, atas perbuatan kamu pada istri kamu sendiri. Sudah malam, kembalilah ke kamar kamu." Ucap Ibunya.
"Ya, Ma." Jawabnya, dan bergegas kembali masuk ke kamarnya.
Saat sudah berada di depan pintu kamarnya, seakan terasa enggan untuk masuk ke dalam. Bukannya tidak berani, Raga merasa jika istrinya tidak menerima kehadirannya.
Ingin melihat tanggapan dari istrinya, Raga mencoba untuk mengetuk pintunya.
__ADS_1
Leyza yang hendak masuk ke kamar mandi, langkah kakinya terhenti. Segera, ia membukakan pintunya.
Ketika melihat siapa yang mengetuk kamarnya, Leyza tidak berbicara sepatah katapun, dan mengabaikannya.
"Tutup pintunya, aku tidak jadi masuk." Ucap Raga yang berdiri di ambang pintu.
Leyza langsung menoleh ke belakang, lalu memutar balikkan badannya.
"Kenapa tidak jadi masuk?"'tanya Leyza sambil berjalan mendekati suaminya.
"Untuk apa aku masuk? kalau kamu sendiri tidak mempersilahkan aku masuk."
"Memangnya aku harus bagaimana? berikan contohnya."'
Tak peduli bagi Raga, ia langsung menutup pintu, serta mengunci dan membuangnya asal.
Raga yang sudah hilang kendali, tidak peduli baginya dengan sang istri yang akan memberinya berbagai macam umpatan untuknya.
Ley yang tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu, pikirannya semakin tidak karuan.
__ADS_1