
Ley yang sudah mendapatkan izin dari ibu mertua, dengan semangat untuk berangkat.
"Tunggu!"
Tiba-tiba entah ada angin apa, Raga menghentikan langkah kaki istrinya yang hendak pergi dari rumah.
Ley langsung memutar balikkan badannya dan mengarahkan pandangannya pada sang suami, tentunya dengan tatapan dengan rasa penasaran.
"Aku tidak mengizinkan kamu keluar dari rumah ini, titik." Ucap Raga yang tiba-tiba mencegah istrinya pergi.
Bunda Yuna mengernyit, lantaran merasa ada yang aneh dengan istrinya. Berawal dari tidak peduli, seakan mulai mengatur dan melarang istrinya.
"Kenapa? bukankah tadi tidak mau peduli denganku, benarkah?"
Tanpa malu kepada ayah mertua dan ibu mertua, Ley bertanya pada suaminya.
"Jangan kepedean, aku melarang kamu keluar, bukan berarti aku peduli denganmu. Aku hanya tidak ingin akan ada berita buruk menjatuhkan nama baikku, paham." Jawab Raga yang tetap membela dirinya agar terlepas dari tuduhan yang dapat merusak citranya.
"Apa salahku? kenapa sampai menuding ku seperti itu? oh, karena wajahku yang buruk rupa ini."
Dengan terang-terangan, Ley menebaknya.
"Itu tahu, kembalilah ke kamar. Kamu bisa melakukan apa saja di dalam rumah ini, sekalipun harus memanggil guru privat." Ucap Raga dengan entengnya, seakan istrinya adalah penyebab kesialan untuknya.
"Raga, jaga ucapan kamu dihadapan istrimu. Ingat, di rumah ini tidak ada larangan apapun untuk keluar rumah, termasuk istri kamu sendiri." Timpal ibunya yang tidak ingin putranya semakin menjadi untuk berpendapat.
"Yang dikatakan oleh ibu kamu itu, benar adanya. Jaga bicaranya kamu, dan hormati istri kamu juga." Ucap sang ayah yang tiba-tiba sudah menunggu yang jaraknya tidak diketahui oleh suaminya.
Tanpa menjawab, Raga langsung meraih tangan milik kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan milik Raga.
Tidak ada angin ataupun hujan, Raga mendadak bersikap tidak biasanya.
Begitu juga dengan Ley, ikut berpamitan dan tak lupa untuk menc*ium punggung tangan milik kedua mertuanya.
"Ma, Pa, Ley berangkat dulu." Ucap Ley berpamitan.
Bunda Yona dan Tuan Hamas sendiri tidak dapat melarangnya, tetap saja akan menyetujui menantunya pergi keluar.
Sedangkan Ley yang tidak mau tertinggal oleh suaminya, ia segera cepat-cepat mengejarnya yang hendak keluar dari rumah.
Bunda Yuna dan Tuan Hamas, pun tersenyum saat melihat anak dan menantunya.
__ADS_1
"Semoga saja, Raga akan menyadari bahwa istrinya adalah perempuan yang pantas untuk diberinya cinta dan juga perhatian." Ucap Bunda Yuna sambil melihat bayangan putra dan menantunya tak terlihat lagi.
"Ya, semoga mereka berdua segera baikan dan menjalani rumah tangga yang penuh kebahagiaan dan saling cinta." Sahut Tuan Hamas penuh harap saat melihat anak dan menantunya keluar dari rumah, Bunda Yuna mengangguk dan tersenyum tanpa harus menatap pada suaminya.
Sedangkan Ley yang begitu gesit ketika mengejar suaminya, ternyata sudah berada di sebelahnya.
Raga yang mengetahui istrinya membuntuti dari belakang, langsung menoleh pada istrinya.
"Sudah aku bilang, kamu tidak perlu keluar rumah." Ucap Raga menatap istrinya dengan tajam, tetap tak membuat seorang Leyza ketakutan.
"Aku punya hak untuk keluar, tidak untuk di kekang dengan sesuka hatimu. Meski aku tak mempunyai wajah yang rupawan seperti kekasihmu, bukan berarti kamu bisa melarang-ku dan menghinaku dengan sesuka hatimu." Jawab Ley dengan berani dan tanpa ada rasa takut menatap wajah suaminya.
Raga yang semakin terasa dongkol, dirinya segera masuk ke dalam mobil tanpa peduli dengan istrinya.
Ley yang tidak mau tertinggal, dirinya langsung ikut masuk dan duduk didepan, tepatnya di sebelah pengemudi.
Raga yang tidak ingin berlama-lama duduk bersebelahan dengan istrinya, langsung mempercepat laju kendaraannya dan tidak peduli dengan kendaraan yang lalu lalang.
Ley yang tidak ingin ditertawakan suaminya saat mobilnya melaju sangat kencang, sebisa mungkin untuk menahan kekesalannya dan juga tidak memperlihatkan jika dirinya ketakutan.
Ssssttt!!
"Aw!" pekik Leyza meringis kesakitan saat keningnya terbentur.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk duduk didepan? pindah, sekarang juga kamu pindah dan duduk di belakang. Perempuan sepertimu tidak pantas duduk di sebelahku, paham." Usir Raga sambil mengibas tangannya, seraya mengusir istrinya untuk berpindah tempat duduknya.
"Aku tidak mau, titik." Jawab Ley tetap menolak perintah suaminya.
"Baiklah, aku akan tetap memaksamu." Ucap Raga dan segera turun dari mobil.
Seketika, pandangan Ley langsung mengekor kemana arah suaminya.
Ley begitu terkejut ketika melihat sosok perempuan yang baru saja keluar dari pintu gerbang dan langsung memeluk suaminya.
Begitu juga dengan Raga, menerima pelukan dari kekasihnya yang bernama Karina. Tak hanya membalas pelukan, bahkan tak ada rasa malunya mencium pipi milik kekasihnya.
Ley yang melihatnya, pun langsung membuang muka ke sembarangan arah. Saat itu juga, Ley merasa merugi menjadi istrinya.
Sambil memejamkan kedua matanya, Ley menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Cepat kamu keluar." Usir Raga ketika sudah membuka pintunya.
__ADS_1
Leyza langsung membuka kedua matanya dan menoleh. Dilihatnya sosok perempuan yang sudah berdiri didekat suaminya sambil memasang muka sok cantiknya.
"Aku istri kamu, tentunya punya hak untuk duduk dimana saja. Jadi, perempuan ini yang harus duduk dibelakang." Jawab Leyza dengan berani.
"Memangnya siapa yang menganggap kamu itu istrinya Raga? tidak ada, 'kan? jangan mimpi deh. Jadi, cepatlah kau keluar dan pindah duduk dibelakang." Ucap Karin ikut berbicara dan tak lupa untuk mengejek serta mengusirnya.
Leyza yang tetap bersikukuh, dirinya tetap tidak juga turun dari mobil. Apapun yang terjadi, cukuplah diam dan mempertahankan diri walaupun dipandang hina sekalipun.
"Baiklah, aku akan berteriak sangat kencang dan memanggil orang-orang untuk menangkap pelakor seperti kamu." Kata Leyza yang tidak mau kalah.
Bahkan, dengan beraninya, Leyza memberi ancaman untuk Karina. Meski awalnya merasa ragu, tetap saja untuk mencobanya.
"Sudahlah, lebih baik kamu duduk di belakang. Lagi pula, tidak lama lagi dia turun dari mobil." Ucap Raga untuk tidak membuat kekasihnya marah besar.
Karina yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau duduk dibelakang kemudi.
Merasa kesal dan juga dongkol, Karina hanya mendengus kesal. Mau bagaimana lagi, statusnya yang bukan siapa-siapa, tidak mempunyai hak apapun dengan istri sahnya.
Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia karena hari ini adalah hari terakhirnya seorang Karina bekerja menjadi sekretaris Raga, segera menambahkan kecepatannya agar istrinya cepat sampai di tempat tujuan.
Dan benar saja, Leyza sudah sampai di tempat yang dituju, Raga segera menepikan mobilnya.
"Cepat turun, kamu sudah sampai." Usir Raga dengan terang-terangan, Ley menoleh pada suaminya. Kemudian, menoleh ke belakang yang rupanya sudah bersiap-siap untuk menggantikan tempat duduknya.
"Sudah sana kamu turun, bikin mataku sepet aja."
Dengan percaya dirinya, Karina ikut mengusir Leyza tanpa melihat statusnya sendiri yang bukan siapa-siapanya Raga.
"Tenang saja, aku akan segera turun. Sudah panas ya, duduk di belakang." Sahut Ley dan menyempatkan diri menatap suaminya dengan sekilas dengan tatapan yang terlihat cukup sadis, seakan memberi ancaman dengan cara memberi kode.
Raga tak menggubris, pandangannya kini mengarah lurus ke depan dan sama sekali tidak menole pada istrinya.
Leyza yang merasa diacuhkan, sepatah katapun tak terucap lewat mulutnya. Secepatnya, Leyza segera turun.
Rupa-rupanya, sudah ada seorang laki-laki yang juga tidak kalah tampannya dari Raga tengah menyambut Leyza dengan ramah.
Raga yang sempat melihatnya, tiba-tiba memiliki rasa kesal saat istrinya di sambut baik oleh seorang laki-laki yang tidak kalah tampannya.
'Siapa laki-laki itu? kelihatannya sangat dekat.' Batin Raga sambil memperhatikan istrinya yang hendak masuk ke dalam.
"Sayang, kamu itu kenapa sih? sudahlah, ayo kita berangkat. Aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan kejutan dari kamu, tau."
__ADS_1
Raga yang malas menjawab, langsung melajukan mobilnya. Tetap saja, rasa penasaran terhadap istrinya semakin menghantui pikirannya.
Tidak sabar ingin mendapatkan informasi terbaru dari Doni, Raga menambahkan kecepatannya agar cepat sampai di kantornya.