ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
Menunggu


__ADS_3

"Jangan menungguku, aku akan pulang larut, masih ada pekerjaan." Begitulah isi pesan yang diterima Kirana dari Rian suaminya.


Kirana langsung terduduk lesu di kursi meja makan, padahal Kirana sudah menyiapkan makanan untuk makan malam bersama Rian, tapi, lagi-lagi, Rian akan pulang larut, dan ia harus makan sendirian lagi.


Hampir 5 bulan, sikap Rian pada Kirana berubah acuh, dan hampir tiap hari Rian selalu pulang larut, dan kadang tidak pulang, Rian pun sering pergi ke luar kota, Rian akan bersikap manis pada Kirana, saat ia menginginkan tubuh Kirana saja, tapi, walau demikian, Kirana masih bersyukur, karna Rian masih bisa bersikap manis padanya, walaupun hanya di saat-saat tertentu saja. Kirana pun tidak tau, kenapa sikap Rian tiba-tiba berubah padanya, tapi, Kirana hanya mencoba berpikir positif, mungkin karna akhir -akhir ini Rian sibuk dan lelah, jadi sikapnya berubah.


Akhirnya, mau tidak mau, Kirana pun menyendok makanan ke atas piring, walaupun selera makannya sudah hilang, tapi, ia harus tetap makan.


Setelah selesai makan, Kirana pun langsung merapikan meja makan dan pergi ke kamar untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah karna sibuk menyiapkan masakan untuk Rian, yang ternyata sia-sia.


Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas, tapi Rian belum juga pulang, Kirana mencoba menghubungi Rian, tapi nomor Rian sedang berada di luar jangkauan.


"Mas, kamu masih dimana, kenapa sudah selarut ini belum pulang," gumamnya dengan gelisah.


***


"Mas, kapan kamu akan meresmikan pernikahan kita? aku gak mau lama-lama jadi istri siri mu, aku ingin pernikahan kita di akui negara, aku ingin dunia tau, kalo aku adalah ibu dari anak-anakmu," kata Bella yang berada dalam pelukan Rian.


"Secepatnya." jawab Rian sambil mengecup puncak kepala Bella.


"Lalu, bagaimana dengan istrimu, kapan kau akan menceraikannya, tidak ada gunanya juga kamu berlama-lama dengan istrimu yang tidak bisa memberikanmu keturunan itu." ucap Bella.


"Aku sudah mengurusnya, dan besok, dia akan menerima surat panggilan untuk sidang perceraiannya." kata Rian.


Bella pun tersenyum lebar.


"Beneran Mas?" tanya Bella.


"Iya, buat apa aku bohong," ujar Rian.


"Aku jadi makin sayang sama kamu mas." ujar Bella sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rian.


"Aku juga makin sayang sama kamu, apalagi, ada anakku di dalam sini." kata Rian, sambil mengelus perut Bella yang sudah membuncit.


"Aku jadi tidak sabar menunggu kelahiran mereka." ujar Rian.


"Tinggal 3 bulan lagi mas." ucap Bella.


"Iya-iya, yasudah, sekarang tidurlah, jangan sampai anakku kelelahan karna ibunya belum juga tidur." kata Rian.

__ADS_1


Bella pun mengangguk.


Rian yang masih terjaga, pikirannya masih di penuhi tentang Kirana, walau bagaimanapun, Kirana adalah wanita yang sudah menemaninya dan memberikan banyak cinta untuknya.


Sedangkan dirinya, apakah sekarang cintanya untuk Kirana sudah hilang?


Dulu, Rian dan Kiran saling mencintai, sampai keinginan Rian untuk memiliki anak semakin besar, tapi, Kiran tak kunjung hamil, Rian pun frustasi. Hingga ia pun bertemu dengan seorang wanita tanpa sengaja, awalnya hanya berteman, tapi pada akhirnya Rian pun menikahi Bella secara siri.


***


Adzan Subuh telah berkumandang, Kirana pun bangun untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Saat terbangun, hatinya sangat gelisah, karna suaminya belum pulang juga, tidak ingin berlarut dalam kegelisahan, Kirana pun bergegas membersihkan tubuhnya sebelum kemudian melaksanakan Sholat Subuh.


Selesai Sholat, Kirana pun berdo'a kepada Tuhan, agar Tuhan selalu melindungi suaminya dimanapun berada.


Kirana sangat percaya pada Rian, hingga ia pun tidak pernah menaruh curiga pada Rian yang selalu pulang larut, atau bahkan tidak pulang.


Seperti biasa, setiap pagi, Kirana selalu sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuknya dan juga Rian. Tidak ada pembantu di rumah mereka, itu karna, Kirana ingin mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.


Suara ketukan sepatu sangat terdengar jelas di telinga Kirana, ia pun memutar tubuhnya dan langsung tersenyum lebar pada seseorang yang baru saja datang dengan penampilan yang masih acak-acakan.


"Mas, aku sedang membuat sarapan, Mas mandi dulu, setelah itu, kita sarapan bersama." ucap Kirana dengan senyuman tak pernah luntur dari wajahnya.


Melihat sikap Kirana yang selalu sopan dan periang seperti itu, Rian kembali berpikir untuk menceraikan Kirana.


"Mas." Kirana menegur Rian yang terdiam mematung sambil menatapnya dengan tatapan sendu.


Rian sedikit terlonjak mendengar suara Kirana yang menegurnya.


"Ehm, aku mandi dulu." ujarnya, kemudian, ia pun pergi ke kamar.


Kirana melanjutkan pekerjaannya di dapur, sembari menunggu Rian selesai mandi, ia pun mengumpulkan pakaian-pakaian kotor untuk ia cuci.


Tanpa sengaja, saat Kirana mengambil pakaian kotor milik Rian, ia melihat ada noda merah di baju itu.


"Noda apa ini?" gumamnya sambil terus memperhatikan noda itu, sampai-sampai keningnya berkerut.


"Ini seperti, noda lipstik, tapi lipstik siapa? apa semalam Mas Rian ...," ucapnya terhenti ketika pikirannya berpikiran negatif pada Rian." Aku tidak boleh berprasangka buruk pada suamiku." Kirana mencoba untuk tetap berfikir positif.

__ADS_1


Kirana bergegas membawa baju-baju kotor itu ke ruang Laundry, lalu merendam pakaian Rian yang terkena noda merah itu.


"Kiran!" seru Rian.


Kirana pun menghentikan aktifitasnya.


"Iya Mas, tunggu sebentar!" kata Kirana dengan sedikit berteriak. Dengan tergesa-gesa, Kirana melangkahkan kakinya ke ruang makan.


"Cepat, siapkan makanannya, aku hampir terlambat," ujar Rian, sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Dengan cekatan, Kirana pun menyendokkan makanan ke piring Rian.


"Ini Mas." ucapnya, sambil menaruh piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk pauk di depan Rian.


Lalu, ia pun mengambil untuk dirinya, mereka berdua pun makan tanpa ada pembicaraan, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu ke piring.


"Aku sudah selesai, mana tasku?" tanya Rian.


Kirana pun mengambil tas kerja Rian, yang ia taruh di atas sofa.


"Ini Mas tas nya." ucapnya menyodorkan tas itu, sambil tersenyum.


"Nanti siang, akan ada seseorang yang mengantarkan sesuatu untukmu," kata Rian.


"Apa itu Mas?" tanya Kirana.


"Kejutan dariku," jawab Rian.


Kirana pun tersenyum lebar.


"So sweet banget kamu Mas, pake mau kirim kejutan segala, lagian, kenapa kamu gak kasih langsung aja ke aku."


"Kau kan tau, aku selalu sibuk, jarang ada waktu, jadi aku kirim saja," ucap Rian.


Senyum Kirana pun langsung pudar, wajahnya berubah sedih.


"Kau kenapa?" tanya Rian yang melihat perubahan ekspresi Kirana.


"Ehm, tidak Mas, aku akan menunggu kejutanmu itu, aku jadi tidak sabar ingin tau kejutan darimu Mas," ujar Kirana dengan kembali tersenyum

__ADS_1


__ADS_2