
Olivia menghembuskan nafasnya. Ia berdiri diam terpaku menatap bangunan megah yang banyak menyimpan berjuta kenangan baginya. Kenangan manis sekaligus pahit.
Bagi Olivia kenangan manis yang ia rasakan disana saat pertama kali bertemu dengan laki-laki yang akan merubah hidupnya. Meninggalkan memory yang begitu mendalam untuk nya.
Olivia ingat betul ketika ia di pertemuan dengan Oliver untuk pertama kalinya. Tubuhnya seketika gemetaran, bergidik ketakutan saat sorot tajam Oliver menghunus iris bening gadis polos dan lugu milik Olivia. Tidak ada yang bisa Olivia lakukan kala itu selain menuruti semua perintah laki-laki itu.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Olivia merasakan cinta yang mendalam untuk suaminya, meskipun Oliver selalu melontarkan kata-kata kasar baginya. Perasaan cinta yang di rasakan Olivia semakin dalam. Ketika Oliver melakukan penyatuan malam pertama mereka. Tidak hanya sekali malam itu saja. Laki-laki itu terus memintanya lagi dan lagi di hari-hari berikutnya.
Namun...ketika Oliver mengusirnya dari rumah itu, seketika itu pula perasaan Olivia tercabik-cabik. Seakan tersadar dari mimpi panjangnya, Olivia bertekad bangkit dari keterpurukannya.
"Huhh .."
Olivia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kenapa kau masih di luar sayang?". Oliver memeluk pinggang Olivia dari belakang. "Apa yang kau pikirkan, hem?", tanya Oliver sambil mengecup lembut wajah Oliv.
Lamunan Olivia buyar seketika.
"Tempat ini mengingatkan aku saat itu, Oli. Rasanya aku tidak kuat masuk", lirihnya dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Oliver mengerti maksud istrinya. Ia membalikkan tubuh Oliv menghadap nya. Jemari Oliver membingkai wajah itu. "Maafkan aku sayang, karena membuatmu trauma seperti ini. Aku janji tidak akan pernah lagi menyakiti mu, Olivia", ucap Oliver bersungguh-sungguh dan mendekap erat tubuh Olivia.
Olivia menyandarkan wajahnya pada dada bidang Oliver dan membalas pelukan suaminya. Olivia merasakan perasaan damai dan terlindungi.
"Apa kau mau kita tinggal di apartemen ku saja sampai perasaan mu tenang, hem?", tanya Oliver menundukkan kepalanya menatap Olivia dengan tatapan teduh.
"Aku sedang mempersiapkan mansion baru yang akan kita tempati nantinya, masih tahap pembangunan. Aku ingin kau melupakan masa lalu yang menyakitkan, Oliv dan menatap masa depan yang terbentang luas. Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu. Tak seujung rambut pun aku akan menyakiti mu. Tak akan aku biarkan kau meneteskan air kepedihan lagi. Percayalah sayang", ucap Oliver bersungguh-sungguh.
Olivia mengangkat wajahnya. Menatap laki-laki itu dengan mata berkabut karena haru.
Oliver mengusap wajah Olivia dan mengecup kening istrinya.
"Mommy, aku menyukai kamarku. Banyak mainan kesukaan ku", teriak Asley berada dalam gendongan baby sitter yang sudah dipersiapkan Oliver untuk menjaganya.
"Tidak apa-apa kita di sini saja", ucap Olivia pelan pada Oliver.
Oliver memeluk pinggang Oliv masuk ke dalam mansion. Sementara Asley berceloteh tiada hentinya. Anak itu mengajak pengasuh kembali ke kamarnya dan Oliver mengizinkannya dengan syarat Asley tetap berada di atas tempat tidur.
Hari ini Asley sudah bisa di rawat di rumah. Menurut Hillary, kondisi anak itu baik namun tetap harus dalam perawatan intensif belum boleh terlalu lelah dan harus banyak istirahat. Oliver menyewa dua orang perawat untuk anaknya.
__ADS_1
Sementara Oliver sudah dari beberapa hari yang lalu di perbolehkan pulang. Namun ia memutuskan akan pulang bersama dengan putranya.
"Oli, sekarang sudah senja aku ingin membersihkan tubuh ku. Apa barang ku sudah ada di kamar ku?", tanya Olivia pada Oliver.
"Kamar mu yang mana, hem?", balas Oliver sambil membelai wajah halus Olivia. Keduanya berdiri di ruang keluarga.
"Kamar ku yang dulu. Itu". Olivia menunjuk sebuah pintu yang berada di depan tangga lengkung yang berdiri megah di tengah ruangan dengan karpet berwarna gold menghiasi setiap anak tangga tersebut.
"Tentu saja kau tidak akan tidur di sana lagi!"
Olivia belum sempat menjawab, tiba-tiba Oliver mengangkat tubuh nya ala bridal style. Tentu saja tindakan Oliver mengagetkan Oliv.
"Oli...apa yang kau lakukan. Kau mau membawa ku kemana?"
Olivia kaget, ia menatap manik Oliver yang begitu dekat dengannya saat ini. Hembusan hangat nafasnya pun bisa Olivia rasakan.
"Ke kamar mu. Memangnya kemana lagi. Bukankah kau ingin mandi sekarang, hem? Kau akan mandi bersama ku!"
Olivia menatap Oliver dengan mulut terbuka. Ketika menyadari Oliver membawanya masuk lift khusus ke lantai tiga. Olivia tahu, lantai itu area privasi Oliver yang tidak sembarang orang masuk ke sana. Termasuk Olivia. Selama menjadi istrinya tidak di perbolehkan naik kelantai tiga. Tak sekali pun Olivia berani melanggar aturan tersebut.
__ADS_1
Sekarang, Olivia tidak bisa menolak selain menyandarkan wajahnya pada dada Oliver sementara tangannya melingkar pada leher laki-laki itu. Jantungnya berdebar kencang.
...***...