
Dua belah pihak sudah sampai di gedung Pengadilan Agama, pihak Rian datang dari arah Utara, sedangkan pihak Kirana datang dari arah Selatan, sesaat pandangan Ria dan Kirana saling bertemu, rasa sakit kembali menghampiri Kirana, saat melihat Bella melingkarkan tangannya di lengan Rian.
Tatapan marah terlihat dari Pak Hendra dan Bu Rahma, Dimas yang baru selesai mengobrol dengan temannya, merasa bingung, kenapa mereka masih berdiri di luar, lantas mengernyitkan dahinya, lalu menghampiri mereka.
" Kenapa kalian masih disini? ayo masuk !" namun Dimas terkejut saat mengikuti arah tatapan mereka, ia melihat Rian yang tangannya sedang di gandeng wanita, berdiri tidak jauh dari mereka, yang membuatnya terkejut adalah wanita yang yang sedang melingkarkan tangannya di lengan Rian, bahkan bukan hanya Dimas yang terkejut, Bella pun sama terkejutnya dengan Dimas.
Dimas, kenapa ada Dimas disini? mati aku jika sampai Dimas berbicara yang tidak-tidak pada Rian, bisa batal semua rencanaku. Bella
Bella? bukankah itu Bella? apa wanita yang membuat Rian menceraikan Adikku adalah Bella, wanita itu benar-benar licik, awas saja kau, aku akan membuka kedokmu di depan Rian.Dimas
Dimas lalu berjalan santai menghampiri Rian dan Bella sambil tangan kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya.
" Oh, jadi karna wanita ini kau menceraikan Adikku." ucapnya sambil tersenyum sinis.
Sedangkan Rian menghindari bersitatap dengan Dimas dan memilih tidak menjawab pertanyaan Dimas.
"Kau sudah salah membuang berlian hanya demi besi berkarat," Rian langsung melayangkan tatapan tajam pada Dimas.
"Semoga kau tidak menyesal nantinya tuan Rian Wijaya." senyuman sinis dan tatapan penuh kebencian, kembali di layangkan Dimas pada Rian.
Setelah puas mengatakan apa yang ingin ia katakan, Rian pun kembali menghampiri keluarganya dan mengajak mereka masuk ke dalam ruang Sidang.
Sebelum sidang di mulai, Dimas kembali memberikan kekuatan pada Kirana untuk bisa tegar.
Sidang di mulai, hakim meminta Kirana dan Rian untuk duduk di kursi yang sudah disediakan di depan hakim, mereka pun duduk di kursi masing-masing. Lalu mereka diminta untuk menyampaikan keluh kesah mereka, di bagian ini, Kirana harus menguatkan hatinya sekuat batu karang, yang tetap tegap meski di hantam gelombang.
Pengacara dari mereka pun maju untuk mewakili mereka menyampaikan keluh kesah mereka, dimulai dari pengacara penggugat.
Pengacara dari Rian pun memberikan alasan kenapa Rian ingin menggugat cerai Kirana, dan tidak ada perlawanan dari pihak Kirana.
Dan kini giliran Dimas yang memberikan pembelaan selaku Pengacara sekaligus Kaka dari tergugat yaitu Kirana.
" Yang Mulia, suami dari Kirana Sekar Arum, yaitu Rian Wijaya, ingin menggugat Kirana karna Kirana belum juga mengandung dan memberinya keturunan, itu hanyalah sebuah kedok untuk menutupi perselingkuhannya dengan wanita lain." ucap Dimas tegas sambil melayangkan tatapan tajam pada Rian yang juga menatapnya tajam.
__ADS_1
" Itu tidak benar yang mulia !" seru Pengacara dari Rian.
" Harap tenang!" ucap Hakim " silahkan lanjutkan." mempersilahkan Dimas untuk melanjutkan.
" Rian Wijaya bahkan sudah menikah siri secara diam-diam dengan selingkuhannya itu, dan wanita itu kini tengah hamil, jadi, saya meminta agar Rian Wijaya di hukum untuk membayar denda atas perkara ini, terimakasih." tutup Dimas, lalu kembali ke tempat duduknya.
Kirana menunduk sambil meremas roknya menahan rasa sakit di dadanya.
" Sodara Rian, apa benar yang dikatakan oleh pengacara tergugat bahwa anda sudah menikah diam-diam dengan wanita lain? tanya Hakim.
" Benar yang mulia." jawab Rian tegas.
" Apa anda sudah tidak mencintai istri sah anda lagi?" tanya Hakim.
Perlu waktu untuk Rian menjawab pertanyaan Hakim, ia lalu melihat ke arah Kirana yang sedang menunduk sambil meremas roknya. Ia tau jika saat ini, Kirana sedang menahan rasa sakit.
Maafkan aku Kirana, mungkin yang akan aku katakan ini akan sangat melukai hatimu, tapi ini adalah keputusan terakhirku. Rian.
Rian kembali menatap Hakim, lalu berkata.
Deg !
Rasanya, Kirana ingin sekali berteriak dan menangis, tapi, ia hanya bisa menahannya dalam diam.
Hakim lalu menanyakan hal yang sama kepada Kirana. Kirana pun butuh waktu untuk menjawab pertanyaan Hakim.
Cukup Kirana, jangan tunjukan kelemahanmu didepan laki-laki yang sudah menyakitimu, kau harus kuat, buktikan bahwa kau bukanlah wanita yang lemah, tunjukkan padanya, kalo kau bisa hidup tanpanya. Kirana.
Kirana mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Hakim, ia lalu menghela nafasnya cukup panjang, lalu, dengan penuh keyakinan, ia pun menjawab.
" Tidak yang mulia, saya sudah tidak mencintainya lagi, cinta saya pada suami saya sudah hilang, jadi, saya mohon agar yang mulia mengabulkan permohonannya untuk menggugat saya, karna sudah tidak ada lagi rasa cinta dan kasih sayang diantara kami. Terimakasih."
Ada rasa sakit di dada Rian, seperti di hantam sebuah benda tumpul, sakit dan sesak mendengar apa yang dikatakan oleh Kirana.
__ADS_1
Sementara Dimas, pak Hendra dan bu Rahma tersenyum bangga kepada Kirana, karna Kirana mampu menutupi kelemahannya di depan Rian.
Hakim pun lalu berunding untuk mengambil putusan.
" Berdasarkan keterangan yang di dapat, maka pengadilan memutuskan, perkawinan antara Rian Wijaya dan Kirana Sekar Arum Terputus. dan minggu depan, sidang akan kembali diadakan untuk ikrar talaq." Tok tok tok !
Bu Rahma, Pak Hendra dan Dimas langsung menghampiri Kirana.
" Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Bu Rahma sambil mengelus dagu putrinya.
" Kirana baik-baik aja ko bu." jawabnya sambil tersenyum. Dimas, Bu Rahma dan Pak Hendra pun ikut tersenyum, karna melihat Kirana tersenyum, walaupun mereka tau, bahwa Kirana tidak benar-benar baik-baik saja.
" Ayo kita pulang." kata Pak Hendra sambil merangkul istri dan putrinya.
Mereka pun berjalan mengikuti pak Hendra, sementara Dimas, menghampiri Rian terlebih dahulu, ia lalu mengulurkan tangannya pada Rian yang masih belum bergeming dari tempat duduknya.
Rian yang melihat tangan Dimas, langsung berdiri.
" Selamat." ucap Dimas, Rian lalu membalas uluran tangan Dimas.
" Terimakasih." ucapnya singkat.
" Sayang, ayo pulang." ajak Bella sambil melingkarkan tangannya di lengan Rian, dan matanya melirik tajam ke arah Dimas. Rian pun pergi meninggalkan Dimas.
Selamat menderita dalam sandiwara wanita ular itu, lihat saja Rian, kau telah melukai hati adikku, dan pilihanmu, akan membuatmu lebih terluka darinya. Dimas.
Sesampainya di rumah.
" Kiran, Kaka tidak melihat mobilmu?" tanya Dimas sambil melihat ke parking area yang terletak di sudut kanan rumah itu.
" Masih di rumah mas Rian." jawab Kirana sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah terlebih dahulu.
" Masih di rumah Rian?" gumamnya.
__ADS_1
" Iya, kemarin adikmu kesini naik taksi online, kan gak mungkin dia nyetir. mobil sendiri disaat fikirannya sedang kacau." ucap bu Rahma.
" Yasudah, nanti biar Dimas sama mang Ujang yang ambil mobil Kirana." kata Dimas.