ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BERDUA


__ADS_3

Max membalikkan tubuh nya yang masih tertelungkup di atas tempat tidur. Sekarang laki-laki itu terlentang dengan dua tangan menopang bagian belakang kepalanya.


Max menatap langit-langit kamar dengan senyuman yang terlukis di sudut bibirnya. Sesaat kemudian melompat turun dari peraduan, berjalan menuju balkon.


Maxxie berdiri di depan pagar besi, kedua netra hitam milik nya tak berkedip menatap sosok cantik di tengah ladang bunga matahari yang sedang bermekaran. Senyum pun mengembang di wajah tampan itu kala melihat Elara sudah berada di ladang pagi ini bersama para petani.


"Sebaiknya aku mandi dan bergabung bersamanya", ucap Max tersenyum.


*


Elara terlihat fokus dengan aktivitasnya. Ia terbangun pagi-pagi sekali dengan perasaan bahagia. Elara begitu bersemangat, bahkan ia membersihkan tubuhnya saat itu juga. Setelah selesai langsung turun ke ladang, Ela memilih turun dan bergabung bersama para petani. Melihat langsung para petani bekerja. Seperti dulu yang sering ia lakukan ketika ayahnya masih hidup.


"Nona, sebentar lagi petani bersiap-siap panen di sebelah barat ladang", lapor mandor di perkebunan itu.


"Aku akan bergabung juga bersama kalian di sana Antonio. Sudah lama aku tidak melihat suasana panen di perkebunan ini. Aku sangat merindukan nya", seru Elara bersemangat.


"Apa aku tidak kau ajak bersama mu, hem?".


Elara menolehkan kepalanya, terlihat Maxxie sudah tampil segar menghampirinya. "Kau sudah bangun?", Tanya Ela tersenyum menatap kekasihnya begitu tampan. Tubuh atletis itu dibalut kemeja berwarna biru terang dipadukan celana jeans biru tua. "Antonio kau bisa melanjutkan pekerjaan mu. Nanti aku dan kekasih ku menyusul mu", perintah Elara pada mandor.


"Baik nona. Kalau begitu saya permisi", jawab Antonio sembari menundukkan kepalanya pada Ela dan Maxxie.


Setelah Antonio berlalu Maxxie tidak membuang-buang waktu, menarik pinggang Elara dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Ela.


Tindakan Max tentu saja membuat Ela kaget. Bahkan topi lebar yang dipakainya pun sampai terjatuh. Sontak Ela melototkan kedua matanya sembari mencengkram lengan Maxxie. "Apa yang kau lakukan?", Teriaknya tertahan. Ela tidak bisa menutupi kagetnya.

__ADS_1


"Morning kiss. Mulai sekarang kau harus membiasakan diri mencium calon suami mu di pagi hari".


Maxxie menyatukan bibirnya pada bibir ranum Elara yang terbuka. Tanpa di duga ciuman dadakan itu seakan memberikan sengatan pada tubuh Ela. Max menciumnya dengan hebat. Akibat perbuatan Max, pikiran Ela langsung terbang melayang kemana-mana, bahkan ia lupa cara membalas ciuman mesra itu.


"Kau tidak membalas ciuman ku, sayang? Apa ciuman ku buruk, hem?", Ucap Maxxie mengusap wajah cantik Elara. "Sedari tadi aku memperhatikan mu dari kamar, kau sangat cantik sekali. Contras dengan bunga-bunga indah di sekitar mu".


Kata-kata manis Max seketika membuat tubuh Elara meremang. Wajahnya tersipu malu dan merona tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Maxxie suka sekali melihat tunangannya tersipu malu begitu. Max mengambil topi milik Ela yang jatuh akibat ulahnya dan memasangkan kembali topi itu ke atas kepala Ela. "Kau mau kemana, sepertinya sangat sibuk sekali?".


"Para petani sebentar lagi akan panen sebagian bunga. Tempatnya di ujung ladang. Aku ingin melihat nya", jawab Elara nampak begitu bersemangat. "Aku sudah lama sekali tidak melihat panen bunga matahari di perkebunan. Saat-saat yang selalu aku nantikan sejak dulu. Mengingatkan pada mommy dan daddy", ucap Ela pelan.


"Aku akan menemanimu melihatnya".


"Benarkah? Kau mau melihat para petani memanen bunga-bunga itu, sayang?"


"Ternyata bukan pemiliknya saja yang cantik, membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi tempat ini juga mencuri hati ku", puji Maxxie sambil mengedarkan perhatiannya pada hamparan bunga di sekelilingnya.


Elara tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Maxxie. "Ternyata kau suka menggombal juga". Elara melebarkan kedua matanya menatap Maxxie yang tersenyum di depannya.


"Kalu begitu, dengan senang hati pemilik perkebunan ini akan mengajak mu berkeliling ke tempat-tempat indah tersembunyi yang ada di sini. Apa kau bisa menunggang kuda, tuan?"


"Kau harus mengajariku, nona", goda Maxxie sambil mencubit ujung hidung Elara.


Elara melebarkan senyuman manisnya. "Kalau begitu sekarang saja aku mengajarimu menunggang kuda. Tapi kau harus menjadi murid yang baik kalau tidak aku akan menjewer telinga mu", seloroh Elara tertawa sambil menarik tangan Maxxie agar mengikutinya ke istal kuda.

__ADS_1


Max mengikuti langkah kaki Ela, tersirat senyuman penuh makna di sudut bibirnya.


*


"Ternyata kau murid yang baik. Kau cepat sekali belajar dan memahami. Aku tidak menyangka sekarang kau bisa menunggang kuda mu sendiri", ujar Elara dari atas kuda.


Beberapa waktu yang lalu Elara dengan telaten mengajari Max cara berkuda. Sekarang laki-laki itu sudah terlihat mahir sekali.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu, apa kau masih meragukan ku?", tanya Maxxie. "Bagaimana kalau kita balapan saja. Siapa yang duluan sampai ke pohon oak yang ada di depan sana", tantang Max sembari menunjuk pohon oak yang berada jauh di depan mereka.


"Kau berani menantang pelatih mu? Percaya diri sekali". Ledek Elara tertawa di atas kuda berbulu tebal miliknya.


"Kita buktikan saja siapa yang menang. Kalau aku yang memang kau harus mengikuti keinginan ku. Kalau kau sebagai pemenangnya maka sebaliknya, aku yang akan mengikuti keinginan mu. Bagaimana?", ucap Maxxie.


"Oke. Siapa takut. Aku pastikan murid tidak akan mengalahkan gurunya", seru Elara. "Memangnya apa yang kau inginkan dari ku kalau kau menang?".


Maxxie mengusap tengkuknya. "Aku ingin kau tidur dengan ku malam ini".


Mendengar itu, Elara melototkan kedua matanya. "Aku menolak. Kita batalkan saja kompetisi kita".


"Maksud ku, kita tidak melakukannya Ela. Aku berkomitmen sama seperti mu, kita akan melakukannya setelah pernikahan kita nanti. Yang aku inginkan hadiah pemenang, kita tidur satu kamar. Berpelukan tanpa harus bercinta", ucap Maxxie tertawa.


Nampak Ela berpikir sejenak. Detik berikutnya, Ela nampak tersenyum.


"Aku terima tantangan mu. Tapi seandainya aku yang jadi pemenangnya, kau harus menerima hukuman dari ku. Kau harus bergabung dengan para petani memanen sunflower hingga selesai. Bagaimana, apa kau menyetujuinya?"

__ADS_1


"Tentu saja aku setuju. Bukan sesuatu yang sulit untuk ku. Aku harap kau tidak menyesal dengan hukuman mu yang gampang itu, sayang. Seharusnya kau menghukum ku dengan tantangan yang tersulit."


...***...


__ADS_2