ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
KILAS BALIK II


__ADS_3

Olivia mendongakkan wajahnya menatap manik silver Oliver. Ia ingin mencari jawaban di sana.


"Kenapa kau tidak menikahi Claudia untuk mendapatkan warisan mu?"


"Wanita itu terikat kontrak sebagai ambasador produk di salah satu perusahaan ternama yang melarang ia menikah sesuai kontrak kerjasama. Tapi, karena itulah aku di pertemukan dengan gadis belia yang masih sangat lugu dan polos. Kala itu aku sangat membenci gadis itu. Namun aku tidak menyesal, menikahi nya. Yang ada justru aku sangat beruntung. Dia memberikan mahkota nya pada ku", ucap Oliver sambil mengusap lembut wajah Oliv.


"Lebih tepatnya, gadis kampungan, bodoh dan cupu. Yang membuat mu jijik dan tidak menginginkannya".


"Maafkan aku sayang. Sebenarnya aku lah yang bodoh itu. Mulut ku selalu mengeluarkan kata-kata umpatan itu di hadapan mu, sebesar aku menginginkan mu".


"Sebenarnya sejak awal menikahi mu, aku hanya butuh status saja. Awalnya aku tidak pernah tertarik untuk melakukan hubungan in*im dengan mu. Namun aku penasaran, apa rasanya melakukan pada gadis naif seperti mu. Ternyata kau sangat nikmat. Aku yang pertama bagi mu. Kau membuatku ketagihan melakukannya padamu", ucap Oliver mengecup lembut pucuk kepala Olivia.


"Setelah kau pergi dari ku malam itu, aku tidak mengerti dengan perasaan yang tiba-tiba aku rasakan. Kau selalu ada dalam kepalaku. Saat mengetahui kau tidak ada di rumah Dorothy, perasaan ku benar-benar tidak tenang dan kuatir. Terlebih aku mengetahui kau di lecehkan laki-laki yang bersama bibi mu itu, aku benar-benar tidak bisa menahan nya. Bajingan itu dan Dorothy aku jebloskan ke penjara. Aku semakin merasa bersalah pada mu Olivia, setelah Dorothy menceritakan semuanya pada ku di penjara kau tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Aku benar-benar menyesal telah menuding mu bekerjasama dengannya memeras ku. Aku pikir kau sudah menikmati hidup mewah dan berfoya-foya dengan uang pemberian ku saat pergi dari ku, nyatanya Javier memperlihatkan rekaman CCTV seseorang tergeletak di jalan satu arah menuju rumah Dorothy. Kami mengira itu pasti dirimu Oliv. Malam itu hujan deras Javier tidak menemukan data siapa pemilik mobil itu".


Olivia tercekat mendengar penuturan Oliver. Bola matanya menghangat sama persis dengan perasaannya yang menghangat. Jantung nya berdegup kencang dari biasanya. Tanpa sadar Olivia semakin menautkan jemari nya pada jemari Oliver sambil menitihkan air yang telah jatuh. ingat masa lalunya dengan mencocokkan kepingan cerita Oliver.

__ADS_1


"Aku semakin merasa tidak tenang setelah tahu kau tidak pernah meminum obat pencegah kehamilan yang aku berikan pada mu".


"Huhh.."


"Kau tahu Oliv, setelah itu membuatku selalu memikirkan mu. Aku takut jika kau mengandung anakku. Kau sendirian di luaran sana. Aku sadar betul tak sekalipun menggunakan pengaman saat bercinta dengan mu".


"Aku seperti orang gila mencari mu Olivia. Aku merindukanmu dan tersiksa dengan perasaan ku sendiri, namun kau hilang bak di telan bumi".


Olivia terisak mendengar semuanya. "Kau benar aku sangat ketakutan saat itu. Tidak ada tempat yang harus aku singgahi Oli. K-au mengusir ku. Begitupun dengan bibiku. Aku benar-benar putus asa, hingga aku berpikiran singkat. Aku ingin mengakhiri hidup ku malam itu juga. Aku ingin mobil yang ada di depan ku menabrak ku. Aku lelah. Tidak ada lagi gunanya hidup. Aku sendirian tidak di inginkan siapapun", isak Olivia terisak mengingat kembali semuanya.


Oliver kaget mendengar cerita Olivia. Ia merebahkan tubuh Olivia sambil mengungkung tubuh itu dibawah tubuhnya. Jemari tangan Oliver membingkai wajah itu.


"Aku mencintaimu Olivia. Sangat mencintaimu. apalagi kau telah melahirkan anakku".


Olivia menatap Oliver dengan wajah sendu. "Aku tidak pernah bisa membenci mu, meskipun aku sangat ingin perasaan ini melakukannya. Kau yang pertama dan terakhir bagiku. Aku membenci mu sekaligus mencintaimu dengan mendalam. Cinta ku untuk mu tidak pernah berubah walaupun kau sangat menyakiti ku. Saat aku tahu hamil anak mu, aku sangat bahagia karena dialah satu-satunya kenangan yang aku miliki dari mu. Saat Asley lahir dan semakin tumbuh, setiap saat ia mengingatkan aku pada mu. Wajahnya sangat mirip dengan mu", ucap Olivia pelan.

__ADS_1


"Kemarin malam Asley menangis dan mengatakan ingin bersama mu. Ia bilang merindukan mu. Maka nya ku mengajaknya kemari menemui mu", ujar Olivia dengan suara bergetar. Kedua netra nya berkabut. Olivia memiringkan wajahnya menutupi perasaan yang sebenarnya.


Jemari Oliver menarik dagu Olivia. "Apa hanya Asley saja yang rindu padaku, hem?", tanya Oliver menatap manik berkabut Olivia.


Olivia membuka mulutnya. "A-ku–"


Olivia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ketika mulut Oliver langsung me*umat bibir ranumnya.


Olivia terperangkap antara tangisan dan rasa nikmat yang di berikan Oliver. "Aku tidak bisa lagi mengikuti aturan mu seperti dulu Oliver. Tidak boleh menyentuh mu dan tidak boleh mengeluarkan suara saat bersama mu", ucap Olivia pelan.


Oliver menarik nafasnya dalam-dalam. "Tentu saja itu kesalahan ku yang kesekian. Aku bohong saat mengatakan itu. Sejujurnya aku sangat ingin kau menyentuh ku dan mendengar de*ahan mu, Olivia. Aku ingin merasakan semua nya sekarang", bisik Oliver di telinga Olivia. Lidahnya menyapu dengan lembut leher Oliv. Sementara jemari-jemari tangannya menyusuri tubuh seksi wanita itu.


"Akh–"


De*ahan pertama lolos dari bibir Oliv. Buaian Oliver dalam sekejap melumpuhkan ingatan Olivia.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu Olivia. Sangat...!"


...***...


__ADS_2