
Houston, Texas
Ting..
Pintu lift terbuka, Oliver keluar bersama asistennya Javier. Keduanya baru saja kembali dari meeting yang diadakan di perusahaan salah satu rekan kerjanya.
Hari ini sebenarnya Oliver belum ingin datang ke kantor, ia masih mau berada di rumah menemani Asley yang masih harus beristirahat belum di izinkan terlalu banyak beraktivitas. Namun jadwal padat Oliver yang sudah menanti laki-laki itulah akhirnya Olivia menyuruh Oli menyelesaikan semua pekerjaan nya.
"Kau lanjutkan saja pekerjaan mu, Javi. Sebentar lagi aku harus pulang ke rumah. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan anak ku yang masih menjalani masa pemulihan", perintah Oliver ketika menuju ke ruangannya.
"Baik tuan. Saya akan ke lantai sepuluh menemui Jonas, agar ia menyiapkan orang terbaik di divisi yang ia pimpin saat penandatangan kontrak dengan perusahaan milik tuan Elland teman anda minggu depan", ujar Javier.
"Hem. Tapi aku ingin kau langsung yang menyiapkan semuanya Javi. Aku tidak mau ada yang terlewat", perintah Oliver.
"Tentu saja tuan, jangan kuatir. Seperti biasanya anda bisa mengandalkan saya".
"Itu yang aku inginkan, Javi. Kau memang selalu bisa ku andalkan".
"Maaf tuan Oliver, di ruangan anda ada tuan Maxxie menunggu tuan".
"Maxxie?"
"Iya tuan".
"Bawakan dua gelas teh hangat keruangan ku sekarang, Liana".
__ADS_1
"Baik tuan", jawab Liana sambil menganggukkan kepalanya dan berlalu.
Oliver langsung menuju ke ruangannya. Nampak Max duduk di sofa dan melihat-lihat handphone miliknya.
"Max? Kau sudah lama datang?"
"Lumayan. Kau sepertinya sibuk sekali. Apa kau sudah boleh bekerja lagi setelah perawatan itu?"
"Tentu saja. Kau bisa lihat sendiri aku baik-baik saja kan", jawab Oliver duduk di hadapan Max. Sementara Liana menyuguhkan teh hangat dan cemilan yang di minta nya beberapa saat yang lalu.
Oliver mempersilahkan Maxxie untuk minum. "Apa yang membawa mu menemui ku, Max?", tanya Oliver sambil menyesap minumannya.
"Elara adik mu", jawab Maxxie menatap Oliver dengan serius.
"Huhh.."
"Aku serius dengan Ela, Oliver. Aku mencintai Ela. Aku sudah mengutarakan perasaan ku dan Ela menerima ku. Sekarang kami sedang menjalin hubungan. Kami sepasang kekasih".
"Aku ingin memberi tahu mu secara langsung sebagai kakak wanita yang aku cintai".
Terlihat Oliver menghembuskan nafasnya.
"Buat ku, siapapun laki-laki yang di cintai Ela tidak masalah. Asalkan ia dapat melindungi dan menjaga Ela dengan baik. Kebetulan sekali laki-laki itu adalah kau Max, yang sudah menjaga anak dan istri ku selama ini dengan sangat baik. Jika Ela membalas cintamu, tentu saja aku akan mendukung nya. Yang terpenting bagiku adalah Ela bisa bahagia bersama laki-laki pilihannya sendiri".
"Selama ini, yang aku tahu Ela tidak dekat dengan siapapun. Ia memang sedikit tertutup perihal masalah pribadinya termasuk kepada ku kakaknya sendiri. Namun beberapa kali aku melihat kau menjemputnya, sepertinya Ela tidak menutupinya lagi. Aku senang melihat ia seperti itu. Lebih terbuka", ujar Oliver serius.
__ADS_1
Sedangkan Maxxie terlihat sumringah mendengar perkataan Oliver.
"Terimakasih. Kau tidak perlu kuatir aku akan melindungi dan menjaga adik mu, Oli. Aku pria dewasa. Usia ku 33 tahun. Sejak Vivienne istri ku meninggal dunia aku tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Hingga aku bertemu dengan Olivia dan menawarkan pernikahan padanya, tapi Oliv mencintai mu dengan mendalam".
Nampak raut wajah Oliver berubah dingin. Bahkan laki-laki itu merubah posisi duduknya, menegakkan punggungnya dan menatap tajam pada Maxxie.
"Kau jangan salah paham Oliver. Waktu itu aku menyukai Olivia karena wajahnya mengingatkan ku pada Vivienne. Wanita yang sangat aku cintai dan telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya".
"Dengan berjalannya waktu aku menyadari, ternyata perasaan yang aku rasakan pada Oliv bukanlah cinta. Aku sadar tidak pernah mencintai Olivia. Aku hanya menyayangi nya sebagai adik ku saja. Hal yang berbeda aku rasakan saat bertemu untuk pertama kalinya pada Elara. Perasaan mendalam yang sudah lama tidak aku rasakan tiba-tiba merasuki jiwa ku lagi. Aku menginginkan Ela", ucap Maxxie serius.
"Huhh..."
Oliver menarik nafas dalam-dalam. Lega. Mendengar Maxxie mengakui mengajak Olivia menikah seketika perasaannya bergemuruh panas. Namun setelah Max menjelaskan semuanya, kembali Oliver tenang.
"Aku senang mendengarnya Max. Jika kau masih nekat mendekati istri ku tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Oliv, segalanya bagiku. Aku pernah melakukan kebodohan padanya, dan sekarang kami akan memulai dari awal lagi. Aku sangat bahagia mengetahui perasaan istri ku tidak pernah berubah untuk ku. Aku semakin mencintainya".
Maxxie tersenyum mendengar perkataan laki-laki dihadapan nya itu.
"Dan aku bisa melihat kebahagiaan itu. Hm...aku yakin tidak akan lama lagi kalian akan memberikan adik untuk Asley", ledek Max sambil beranjak dari duduknya karena ia tahu Oliver pasti sudah tidak sabaran untuk pulang ke rumah. Sedari tadi laki-laki itu melihat arloji dipergelangan tangannya.
"Tentu. Itu yang aku inginkan. Doakan saja. Aku ingin memiliki banyak anak. Aku tidak mau kesepian lagi. Aku harapkan yang terbaik untuk mu dan Elara", ucap Oliver tersenyum.
"Oh ya Max, mungkin kau bisa membantuku membujuk Ela agar menetap di sini. Jujur, aku sangat menginginkan adikku itu bekerja di perusahaan ini bersama ku. Namun kau lihatlah sendiri, kekasih mu itu terlalu keras kepala. Ia terlalu mandiri. Entah apa yang ada di pikirannya Ia bahkan tidak mau menginjakkan kakinya kemari walaupun sedang berada di Houston, sangat keterlaluan sekali". Oliver berdecak kesal jika ingat kelakuan adiknya menyangkut perubahan Lucifer.
"Aku rasa sangat sulit. Ela terlalu mencintai balet, Oli. Tapi aku akan berusaha semampu ku membuat nya agar lebih banyak berada di sini sekarang. Aku sudah memiliki rencana untuk Elara", jawab Maxxie sebelum keluar dari ruang kerja Oliver dan pamit pulang karena malam nanti sudah memiliki janji dengan Ela.
__ADS_1
...***...