ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MISSED


__ADS_3

Ting..


Olivia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lantai tiga yang merupakan private room Oliver.


Begitu keluar lift, hawa dingin langsung dirasakan Olivia. Bahkan meskipun mereka belum berada di kamar, namun harum parfum Oliver sudah memenuhi indera penciuman Oliv.


"Oli...turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri. Bukankah kau belum boleh mengangkat beban yang berat", ujar Olivia yang masih berada di dalam gendongan Oliver.


"Nanti saat di kamar saja", bisik Oliver di telinga Olivia yang sontak membuat tubuh Olivia bergidik menyebabkan bulu kuduknya meremang. Laki-laki itu enggan menuruti permintaan Olivia.


Oliver terus melangkah menuju pintu berwarna putih nampak beda sendiri dari pintu-pintu lainnya yang ada di lantai itu.


Saat pintu megah tersebut terbuka aroma tubuh Oliver begitu pekat menyeruak tercium. Oliver menurunkan tubuh Olivia.


Olivia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata apa yang ada di pikirannya benar, itu kamar Oliver. Sebuah kamar berukuran luas bernuansa silver dan putih dilengkapi dengan furniture mewah berwarna senada.


"Kedua mata Olivia membulat sempurna ketika melihat dinding dan nakas, terpajang foto dirinya dan Asley. Sementara di dinding walk in closet sebuah lukisan dirinya berukuran besar terpampang juga di sana. Olivia ingat betul itu foto lama saat dirinya berusia delapan belas tahun.


Iris bening Olivia mulai berembun. Ia terdiam tanpa kata.


"Ini kamar kita. Kau akan tidur di sini bersama suami mu", ucap Oliver memeluk Oliv dari belakang. "Apa kau kaget melihat lukisan itu, hem?"

__ADS_1


Olivia tak bergeming, hanya anggukkan kepalanya yang ia berikan.


"Aku mendapatkan foto itu di kamar mu, ketika kau sudah pergi meninggalkan mansion ini. Saat kerinduan datang menyiksaku, aku akan berlama-lama menatap foto itu. Hingga aku meminta seorang seniman untuk melukis diri mu di atas kanvas agar aku puas memandangi wajah mu, Olivia".


"Lihatlah lemari itu. Semua barang mu lima tahun yang lalu ada di sana. Tak satupun yang hilang, Olivia".


Olivia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Oliver, tangannya menyentuh punggung tangan kokoh yang berada di perutnya.


Olivia membalikkan tubuhnya menghadap Oliver. Jemari tangannya mengusap lembut dada Oliver.


"Oli, apa sedalam itu kau kehilangan ku?". Tatapan lembut Olivia beradu dengan manik silver milik Oliver.


Oliver menggenggam jemari tangan Olivia yang berada di dadanya.


Oliver menyatukan bibirnya. Olivia memejamkan matanya dan membuka mulutnya memberikan izin pada laki-laki itu menjelajah hingga dalam. Oliver tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tangannya menekan tubuh Olivia agar lebih merapat pada tubuhnya. Keduanya berciuman mesra dan intens.


Oliver mencium bibir Olivia sembari mendorong tubuh itu hingga terhenti di ujung tempat tidur. Bibir masih saling bertautan, ketika Oliver membaringkan tubuh Olivia di tempat tidur empuk dan luas.


Sejenak Oliver mengamati wajah cantik Olivia yang kian memutih. Oliver membawa tangannya membelai wajah halus Oliv.


Sejak pertama kali bertemu dengannya sesungguhnya Oliver sudah menyukai wajah itu. Begitu cantik belia dan polos. Oliver mengakui sejak dulu Olivia memiliki paras cantik. Lima tahun tidak bertemu, begitu banyak perubahan Olivia. Bukan hanya sekedar wajahnya yang semakin cantik tetapi perubahan bentuk tubuhnya lagi-lagi Oliver akui begitu menawan.

__ADS_1


Olivia tahu, sekarang Oliver menatapnya intens. Membuat jantung nya berdebar kencang. Namun Olivia tidak bisa sedetik pun mengalihkan perhatiannya dari netra silver laki-laki itu. Seakan ada magnet di manik indah itu. Olivia menatap sayu Oliver. Tidak bisa dipungkiri, Oliv memendam perasaan yang begitu membuncah.


Sungguh Oliver tidak tahan melihatnya. Laki-laki itu kembali membenamkan bibir nya pada bibir Olivia. Me*umat bibir ranum berwarna merah muda dengan lembut.


"Akh–"


De*ahan pertama lolos dari mulut Olivia kala Oliver menciumnya dengan sangat hebat sementara jemari tangannya memberikan remasan di dadanya. Olivia merasakan kenikmatan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.


"O-li.."


"Apa kau menyukai sentuhan ku, hem?"


Olivia membuka matanya. Menatap sayu manik silver Oliver yang menyimpan berjuta kerinduan di sana.


"Dari pertama kau menyentuh ku, aku selalu menyukainya. Aku tidak pernah bisa melupakan saat pertama kau menyentuh ku, Oli. Aku selalu merindukan mu".


Oliver tersenyum samar mendengar pengakuan jujur Olivia. "Sekarang waktunya kita lepaskan rasa rindu, sayang. Aku sangat rindu setiap jengkal tubuh mu Olivia. Aku ingin mendengar de*ahan mu, jangan pernah di tahan lagi", bisik Oliver sambil mencium leher jenjang Oliv.


Sedangkan jemari tangan Olivia membuka satu persatu kancing kemeja suaminya, begitu pun Oliver melepaskan dress yang menutupi tubuh seksi Istrinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2