
Olivia menatap lekat wajah Asley. Anak itu sekarang tertidur di sampingnya. Sengaja malam ini Oliv mengajak Asley menemani nya tidur di kamarnya.
Setelah kejadian siang tadi, Olivia memutuskan untuk langsung pulang ke mansion nya. Ia meminta Lyzbet membatalkan semua pertemuan hari ini dengan rekan kerja nya.
Olivia memilih menemani Asley bermain mobil-mobilan baru pemberian ayahnya. Olivia merasa bersalah atas kejadian tadi, karena pekerjaannya lah akhirnya bisa terjadi hal yang tidak diinginkan nya.
Sejujurnya perasaan Olivia campur aduk. Di kepalanya masih berkeliaran pertanyaan, kenapa ada fotonya di meja kerja Oliver. Yang Oliv tahu, Oliver sangat membenci dirinya.
"Bagaimana perasaan kekasihnya atau tunangannya Elara saat melihat ada foto wanita lain di meja laki-laki yang dicintainya", Batin Olivia sedari tadi.
Olivia mengusap punggung Asley dan mencium kening putra kesayangannya itu.
"Maafkan mom sayang, mom harus berbohong pada mu", lirih Olivia dengan perasaan mendalam. "Suatu hari nanti mommy pasti menceritakan semuanya pada mu, namun tidak sekarang. Kau masih terlalu kecil menerima kenyataan yang sebenarnya. Seandainya ayahmu tahu kau adalah putra nya, entah apa yang terjadi selanjutnya. Mommy yakin ia akan membenci mu, seperti ia membenci mommy", lirih Olivia dengan netra berkabut.
__ADS_1
Jika ingat kata-kata Oliver dulu saat malam itu, perasaan Olivia pasti akan kembali sesak. Tak satu potongan puzzle tentang malam itu ia lupakan. Semuanya terekam jelas. Itulah yang paling sulit Olivia rasakan. Sampai kapan pun sulit menerima dan memaafkan Oliver. Meskipun Olivia menyadari perasaan untuk laki-laki itu tidak pernah berubah. Manik silver dan rambut tebal laki-laki itu sama persis dengan Asley.
"Huhh... Sampai kapanpun kebencian ini sama besarnya dengan rasa cinta yang aku miliki untuk nya. Begitu sulit menghapusnya dari hatiku".
Olivia menatap langit-langit kamarnya. Sesaat matanya terpejam.
"Kenapa dia tidak menikahi kekasihnya yang bernama Claudia. Saat masih bersamanya, berulangkali ia menyebutkan nama wanita itu di hadapan ku. Apa yang terjadi pada hubungan mereka setelah aku pergi?"
*
Sejak kejadian siang tadi dengan Monica, jujur Oliver tidak bisa menghilangkan wajah wanita itu dari kepala nya. Wajah cantik Monica bergantian dengan wajah polos Olivia muncul dalam ingatan nya. "Ah Shitt kenapa pikiran ku kacau begini.
Oliver berdiri dan menuang tequila kedalam gelas. Laki-laki itu mengambil jubah tidur yang tersampir di dekat nakas, menutupi tubuh bagian atasnya yang tak tertutup apapun. Oliver selalu tidur tanpa menggunakan kaos, laki-laki itu lebih menyukai tidur dengan bertelanjang dada.
__ADS_1
Oliver berjalan menuju balkon kamarnya. Berdiri menatap gelapnya malam kota New York. Seakan tiada matinya, giat kota itu, semakin malam tetap saja ramai. Bisa di lihat dari lampu kendaraan yang memenuhi jalan kota tersebut.
Sesaat Oliver menyesap tequila. Tatapan matanya tajam menatap ke depan. Tiba-tiba ia mengingat kata-kata Elara yang mengatakan Asley sangat mirip dengannya.
Huhh..
Oliver membuang nafasnya. "Seandainya benar, aku sangat menyukai anak itu. Wajahnya sangat menggemaskan. Seandainya saja aku memiliki anak dengan Olivia, kemungkinan usianya sama dengan Asley", gumam Oliver.
Tiba-tiba wajah itu terlihat murung. "Aku sama sekali tidak bisa melupakan Olivia, meskipun waktu berlalu.
"Wajah sendu itu selalu aku ingat. Dan membuatku semakin merasa bersalah pada mu, Oliv".
...***...
__ADS_1
To be continue