ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
SUPPORT OLIVER-OLIVIA UNTUK ELARA


__ADS_3

"Tuan, saya sudah mendapatkan kunci kamar nona Elara".


"Segera buka Javier! Kenapa Ela tidak membuka pintunya. Apa yang terjadi pada adikku sebenarnya", ucap Oliver terlihat panik.


Sedari tadi ia dan Olivia datang ke apartemen Ela, ingin meminta penjelasan pada Ela tentang rekaman CCTV yang mereka lihat bersama dengan Max tadi malam. Setelah Ela menghilang bak di telan bumi dengan alasan mengambil handphone miliknya di mobil.


Ceklek...


Oliver langsung mendorong pintu dan menerobos masuk ke dalam unit apartemen milik Ela. Dengan langkah cepat laki-laki itu mencari keberadaan Elara di ikuti Olivia dan Javier di belakangnya.


"Elara! Ela..."


Oliver memanggil adiknya. Tak nampak sosok yang dicari.


Olivia menghentikan langkah Oliver, ketika mendengar suara isakan. "Sayang, sepertinya Ela di kamarnya".


Tanpa berlama-lama, Oliver segera membuka pintu kamar Elara yang terletak di sisi sebelah kanan unit mewah tersebut.


Ketika pintu terbuka, Oliver dan Olivia tak percaya melihat kondisi Elara yang terlihat lemah dan kacau.


"Ela...ada apa dengan mu?", tanya Oliver menatap prihatin keadaan adiknya yang meringkuk di atas tempat tidur masih menggunakan pakaian kemarin.


Sementara Olivia langsung duduk di tepi tempat tidur Ela dan mengusap lembut punggung adik iparnya itu.


Menerima perlakuan itu membuat Ela semakin menangis sedih.


"Apa yang terjadi sebenarnya Ela. Kenapa kau pergi dengan Elland di saat Max bersama mu. Ada apa dengan kalian berdua sebenarnya?". Oliver memberondong pertanyaan yang ada dalam pikirannya sejak semalam melihat rekaman CCTV di perusahaan nya. Ia menyadari ada sesuatu antara Elara dan Elland.


'Sejak kapan kau berhubungan dengan Elland? Apa yang kau tutupi dari ku Ela, kakak mu sendiri. Aku tidak menyangka pikiran mu sedangkal itu!", Ketus Oliver dengan suara meninggi membentak Ela yang berada dalam dekapan Olivia.


Tak terdengar jawaban Elara, ia hanya menangis.


"Kalau kau tetap diam, aku akan menanyakan langsung pada Elland saat ini juga!"


"S-ejak aku merasa sendirian di dunia ini. Sejak mommy pergi, sejak kakak lebih memilih melanjutkan pendidikan di London, aku merasa sendirian. Daddy semakin mengintimidasi ku, karena keinginan ku melanjutkan sekolah balet. Aku sering mencurahkan isi hatiku pada Elland. Aku merasa hanya dia yang mau mendengarkan keluh kesah ku dan bisa menenangkan aku", jawab Ela terisak.


"Huhh.."

__ADS_1


Oliver membuang nafasnya dengan berat. Sesaat ia memijat keningnya. Oliver menghunuskan tatapan tajam pada Elara yang memeluk lututnya di atas tempat tidur.


"Sejauh mana hubungan mu dengan bajingan itu Ela?", Teriak Oliver dengan amarah membuncah.


Elara terdiam. Wajahnya nampak semakin memutih. Ela menundukkan kepalanya sementara jemari tangannya memelintir ujung kemeja yang membalut tubuhnya.


"Sangat jauh..."


Kristal bening semakin deras menetes menyentuh wajah pucat Elara. Olivia yang melihatnya segera menenangkan Ela.


"Katakan sekarang Ela! Jangan coba-coba menutupi nya lagi dari ku!", Hardik Oliver yang berkacak pinggang menatap Ela yang nampak ketakutan sambil memeluk lutut di atas tempat tidur.


"B-anyak sekali kesalahan yang telah aku lakukan. A-ku melakukan dosa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku hamil anaknya. Dan aku memilih untuk menggugurkan kandungan ku saat mengetahui Elland meninggalkan aku untuk melanjutkan pendidikannya ke Amsterdam", jawab Elara terbata-bata dan bercucuran air mata.


"Saat itu aku baru mengetahui aku hamil lima minggu dan aku memutuskan untuk mengugurkan kandungan ku". Elara terus menangis sembari menceritakan semuanya.


Tentu saja jawaban Elara membuat Oliver dan Olivia terkejut. Olivia langsung memeluk Elara yang terguncang, sementara Oliver bereaksi keras mengetahui kebenarannya.


"Brugghh..."


"Brengsek kau Ellando! Aku harus menemui bajingan itu sekarang juga. Bajingan itu harus di beri pelajaran. Ia berani mengkhianati ku rupanya", teriak Oliver dengan amarah membuncah. Suaranya menggelegar memenuhi kamar tersebut.


"Apa Elland mengetahui kehamilan mu?"


Elara menganggukkan kepalanya pelan.


"Lantas apa yang di lakukan bajingan itu?"


"Ia memilih mengikuti keinginan orang tuanya melanjutkan kuliah di Amsterdam dan meninggalkan aku sendirian".


Tangis Elara kembali pecah ketika harus mengingat lagi kisah masa lalunya yang ia simpan rapat-rapat dari siapapun.


Oliver tidak bisa menahan amarah dalam dirinya lagi.


Mendengar cerita Ela.


Dengan tangan terkepal laki-laki itu meninju diding kamar Ela hingga buku-buku tangannya mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Sayang hentikan!!"


Teriak Olivia turun dari tempat tidur, berlari menahan tangan suaminya agar tidak memukul dinding lagi.


"Aku mohon sayang, dalam keadaan seperti ini selesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan menyakiti diri mu. Jangan menghakimi. Kita dengarkan dulu penjelasan Ela. Aku mohon Oli, kasihan Elara. Aku pernah di posisi terluka seperti itu. Aku paham bagaimana sakit nya", ucap Olivia dengan lembut sambil memeluk tubuh suaminya.


Kata-kata Olivia ternyata mampu menyadarkan Oliver. Rahang Oliver mengeras. Terdengar giginya gemeretukan menahan emosi dalam dirinya. Oliver berusaha keras menenangkan diri.


Menit berikutnya ia duduk di tepi tempat tidur, menggenggam jemari Elara yang menangis sesenggukan.


"Maafkan aku kak. Daddy benar jika mengatakan aku anak yang tidak berguna dan pilihan ku salah. Aku anak pembangkang tidak seperti mu", isak Elara menundukkan kepalanya.


Sungguh melihat Ela seperti itu membuat hati Oliver terenyuh. Laki-laki itu menarik tubuh Ela dan mendekap nya erat.


"Kau adik ku satu-satunya Ela. Aku sangat menyayangimu. Yang aku inginkan dari mu, kau bahagia dan tidak membohongi ku lagi. Kau katakan semuanya pada ku, keluarga mu. Setiap kau menemui masalah dalam hidup mu", ucap Oliver dengan lembut sambil mengusap punggung adiknya yang berguncang karena menangis.


"Aku tahu setiap orang pernah melakukan kesalahan dan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki nya".


"Sekarang katakan yang jujur bagaimana perasaan mu yang sebenarnya pada Maxxie, apa kau mempermainkan perasaannya?", tanya Oliver memegang pundak Ela dan menelisik wajah pucat Elara.


"Aku mencintai nya. Sangat", jawab Ela cepat.


"Aku mau kau tidak mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Temui lah Maxxie. Katakan yang sebenarnya. Jika ia memang benar-benar mencintaimu tentu ia akan menerima mu dan masa lalu mu itu", ucap Oliver dengan bijak.


Olivia yang duduk di samping Oli menganggukkan kepalanya setuju dengan suaminya.


Ela menatap Oliver dan Olivia bergantian. "Bagaimana kalau Maxxie tidak mau memaafkan aku dan menerima masa lalu ku?"


"Itulah konsekuensinya yang harus kau hadapi. Karena kita tidak bisa memaksa seseorang harus menerima kesalahan masa lampau kita. Namun setidaknya tunjukkan kau seorang Lucifer yang mau mengakui kesalahan mu", tegas Oliver sambil mengusap wajah adiknya.


Seperti mendapatkan kekuatan dan dukungan, Elara mengangkat wajahnya dengan pasti. Meskipun wajah itu masih menampakkan gurat kesedihan namun perasaan Elara lega.


Ela mengusap air matanya. Perlahan wajah itu melukis senyuman.


"Kakak benar. Aku harus menemui Maxxie. Jika ia tidak ingin melanjutkan hubungan kami, aku harus menerimanya", ucap Ela sambil mengusap sisa air mata yang menetes di wajahnya.


"Terimakasih kak, aku sangat menyayangi kalian". Elara kembali memeluk tubuh Oliver sambil menggenggam erat jemari tangan Olivia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2