ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
SIAPA DIA?


__ADS_3

"Kau tidak melewatkan apapun sayang", jawab Olivia spontan pada Maxxie yang berdiri di samping nya.


"Daddy...ada Miss Ela, guru balet di sekolah ku, bolehkah Miss Ela dan paman tampan makan bersama kita, dad? Aku menumpahkan es krim ku di celana paman tampan", ucap Asley dengan ekspresi sangat menggemaskan. Ia terlihat bersalah sambil menundukkan kepalanya.


Semuanya menatap bocah kecil itu. Namun buat Olivia, ia kaget saat Asley mengajak Oliver dan gurunya yang belum pernah Olivia temui selama Asley sekolah, makan bersama mereka.


Oliver dan Maxxie tak menjawab apapun, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Terimakasih sayang. Kau bisa menikmati makan siang bersama kedua orang tua mu, sementara Miss dan paman tampan akan makan siang di meja lainnya yang dekat dengan meja mu, bagaimana?", ucap Elara tersenyum pada Asley yang berdiri di depannya.


Mendengar perkataan wanita itu, tentu saja Olivia bersikap setenang mungkin. Ia tidak mau memancing kecurigaan Oliver tentang dirinya. "Miss Ela benar sayang. Sebaiknya kita pesan makanan. Kau pasti sudah lapar", ujar Olivia menggenggam tangan Asley mencari tempat duduk yang nyaman di restoran itu. Olivia memilih tempat pojok yang bisa melihat pemandangan di luar. Ia duduk di samping Asley sementara Maxxie duduk di hadapan mereka.


Ternyata Ela benar-benar menepati ucapannya sesaat yang lalu. Wanita itu memilih meja yang tidak jauh dari meja Asley.


Oliver terlihat jengah. "Kita kan bisa makan di tempat lain. Kenapa kau malah mengikuti mereka?".

__ADS_1


"Makanan di restoran ini enak kak. Aku dan teman-teman ku sering menikmati menu baru di sini. Hm...dan harganya murah, sesuai dengan keuangan ku".


"Ck kau ini. Sampai kapan kau tidak mau menerima uang mu dari perusahaan, Ela. Itu milik mu. Setelah ini aku akan meminta Arthony menemui mu. Kau harus menerima warisan mu", tegas Oliver.


"Stop kak. Kita tidak usah membahas hal yang paling aku benci. Sampai kapan pun aku tidak berminat dengan bisnis. Itu hanya cocok buat mu saja. Sementara aku ingin menjadi seorang balerina, mewujudkan impian ku", jawab Elara.


Oliver menyandarkan punggungnya menatap Elara yang merupakan adik satu-satunya yang ia miliki. "Setelah orang tua kita meninggal, kau menjadi tanggung jawab ku Ela. Aku bukannya tidak mendukung keinginan mu itu, tapi aku tidak mau kehilangan mu juga karena balet tidak berguna itu!"


"Kak!"


Huhh..


"Ternyata kau sama saja seperti daddy. Kau suka memaksakan kehendak mu. Kau tidak pernah menghargai keinginan orang lain. Kalian semua egois tidak memikirkan kebahagiaan ku", ketus Elara beranjak dari kursinya berlari keluar restoran.


"Elara...shitt!"

__ADS_1


Oliver meninggalkan beberapa lembar dollar di atas meja dan berjalan dengan tergesa-gesa menyusul adiknya.


Tentu saja Olivia melihat semua yang terjadi pada Oliver dan Elara. Namun ia tidak bisa mendengar apa yang keduanya bicarakan. Awalnya Olivia melihat keduanya begitu akrab lebih tepatnya mesra. Bahkan Olivia melihat Oliver memeluk pinggang Ela saat masuk ke restoran.


Sekarang Olivia merasa keduanya seperti sedang berselisih.


"Apa wanita itu kekasih Oliver? Hm...atau istri nya?", batin Olivia bertanya-tanya.


Sama halnya dengan Olivia. Max pun mencuri-curi pandang pada Elara yang terlihat sedang berbincang dengan Oliver. Bahkan Maxxie kaget melihat Ela tiba-tiba pergi meninggalkan tempat makan begitu saja. Ia juga melihat Oliver tergesa-gesa mengejar nya. "Ada apa dengan mereka", batin Maxxie.


"Mom dad...aku sudah menghabiskan makanan ku. Sekarang bolehkah aku makan es krim coklat kesukaan ku?"


"Tentu saja sayang", jawab Olivia dan Maxxie berbarengan. Keduanya bahkan sama sekali belum menyantap steak domba yang sudah tersaji di atas meja.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2