ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
PREPARE KE PERKEBUNAN


__ADS_3

Olivia menelisik penampilan nya di depan cermin kamar. Dress hamil motif bunga-bunga kecil berwarna kuning sangat pas di tubuh Olivia. Sekarang usia kandungan Oliv sudah masuk tujuh bulan, perutnya pun kian nampak membesar.


Ceklek...


Oliver tersenyum melihat Olivia yang sedang bercermin. Oliver menghampirinya dan melingkarkan tangannya sembari mengusap perut istrinya. "Sayang, kau sudah siap? Asley sudah tidak sabaran menunggumu, anak itu bahkan sudah masuk ke dalam mobil".


"Aku sudah siap ayo kita berangkat", jawab Olivia membalikkan tubuhnya menghadap Oliver. Jemari-jemari tangannya mengusap lembut dada suaminya.


Senyum menghiasi wajah laki-laki tampan itu. Jemari tangannya mengelus wajah mulus Olivia.


"Oli, apa perjalanan ke perkebunan mu sangat jauh?", Tanya Olivia sambil mendongakkan wajahnya menatap suaminya.


Oliver menjumput anak-anak rambut Olivia kebelakang telinganya. "Tiga jam lebih. Tapi kau pasti menyukainya karena menuju perkebunan pemandangannya sangat indah. Agar kau tidak kelelahan membawa anak kembar kita, aku akan menyetir mobil dengan hati-hati dan kita akan berhenti di rest area".


"Apa perkebunan sun flower milik mu sangat luas, Oli?"

__ADS_1


Olivia melepaskan diri dari dekapan Oliver. "Apa aku sekarang sudah seperti bunga-bunga yang bermekaran itu?", Tanya Olivia sambil mengibaskan rambut dan tertawa sumringah.


Oliver tersenyum melihat tingkah istrinya. Seperti gadis belia namun sudah berbadan dua. Oliver tidak tahan melihatnya. Laki-laki itu kembali memeluk Olivia. Menghirup aroma bunga dari leher istrinya yang begitu di sukai Oliver.


"Kau yang tercantik sayang. Apalagi sekarang kau sedang mengandung anakku, aura kecantikan mu semakin terpancar". Oliver mendekatkan bibirnya pada bibir Olivia. Olivia memejamkan matanya merasakan lu*matan Oliver. Keduanya berciuman mesra walau hanya sekejap saja.


"Mommy... daddy, kenapa lama sekali. Aku ingin segera memanen bunga matahari di kebun", teriak Asley berlari menerobos masuk ke kamar orang tuanya. Seorang pengasuh terlihat ngos-ngosan di belakangnya.


"Maaf tuan, nona...tuan muda Asley tidak mau menunggu di dalam mobil", ucap baby sitter sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah karena tidak bisa mencegah putra majikannya masuk ke dalam kamar orang tuanya. Apalagi ternyata majikan nya sedang bermesraan.


"Kau duluan saja ke bawah, periksa lagi kebutuhan anak ku jangan sampai ada yang tertinggal", perintah Oliver sementara ia mengangkat tubuh Asley.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi", jawab Joana dengan sopan.


"Kenapa kau tidak sabaran sekali, tampan? Bukankah daddy sudah bilang tunggu di mobil".

__ADS_1


"Aku ingin memetik bunga matahari yang paling besar dad, apakah aku boleh melakukannya?", Ucap Asley dengan raut muka begitu menggemaskan.


Oliver mencium wajah tampan yang sangat mirip dengan nya itu. "Tentu saja kau boleh melakukannya, tapi kau harus janji tidak boleh kelelahan karena daddy tidak mau Asley sakit lagi", ucap Oliver penuh kasih sayang pada putra nya itu.


"Iya daddy", jawab Asley sambil memeluk erat leher ayahnya.


"Sayang aku sudah siap, sekarang ayo kita pergi. Ela dan Maxxie sudah duluan menuju perkebunan, Ela baru saja menghubungi ku", ucap Olivia keluar dari walk in closet yang menyatu dengan kamar tidur mereka.


"Iya, sekarang sudah pukul sepuluh, ayo kita pergi".


Sudah tiga minggu yang lalu Elara dan Maxxie pulang dari bulan madu mereka. Kebetulan sekarang perkebunan Lucifer sedang panen besar bunga matahari. Sehingga Oliver mengajak serta Olivia dan Asley ke perkebunan bunga matahari milik mereka yang berada di Dallas, tepatnya desa Collin.


Tentu saja Olivia dan Asley sangat senang menghabiskan weekend bersama keluarga di pedesaan, apalagi Oliver berjanji akan mengajari Asley menunggang kuda kesayangannya. Asley begitu antusias menyambut hari ini.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2