ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MENGETAHUI PERTUNANGAN ELA-MAX


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Selamat siang nona. Apa nona mau makan sekarang? Saya sudah memasak menu kesukaan nona dan tuan".


"Sekarang aku mau ke kantor suamiku, bibi Marine. Bisakah kau bawakan saja makan siang kami?", jawab Olivia.


"Tentu saja bisa nona. Saya akan menyiapkannya sekarang", jawab Marine tersenyum hangat. Kemudian wanita paruh baya itu kembali ke pantry.


Sementara Olivia melihat hidangan yang sudah di sajikan juru masak itu di atas meja makan.


Perhatian Olivia teralihkan ketika melihat Elara keluar kamar bersama Max yang membawa koper Ela. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia.


"Ela, kapan kau kembali dari Malibu? Kenapa dengan koper itu? Apa kau mau kembali ke New York sekarang?", tanya Olivia menatap Ela dan Max bergantian. Tak ketinggalan Olivia mempersilahkan Ela dan Max duduk bersamanya di ruang keluarga.


"Kami kembali semalam, Oliv. Hm, tapi sekarang aku mau pamit pada mu, mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen ku sendiri. Tidak jauh dari sini. Kak Oli tahu tempatnya", jawab Elara tersenyum. Sementara Maxxie menggenggam tangan Ela dan membawanya ke pangkuannya. Keduanya terlihat begitu mesra.


Olivia tersenyum melihat tingkah Elara dan Maxxie.


"Wah kalian berdua ini sangat serasi sekali. Seperti nya banyak hal yang terjadi di Malibu". Olivia menggoda Elara dan Max. Karena baru kali ini Oliv melihat senyum bahagia terus tersungging di wajah Maxxie. Yang Oliv tahu, Max selalu terlihat serius.


Elara dan Maxxie bertukar pandang. Kemudian tersenyum.


"Ta ra...Kami resmi bertunangan", seru Elara sambil memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya pada Olivia yang benar-benar terkejut mendengar berita pertunangan antara Ela dan Max.


"Oh my God Ela benarkah itu? Kak Maxxie?". Olivia bergantian menatap Ela juga Maxxie.


"Iya, aku dan Ela sudah bertunangan. Kau doakan saja semoga kami segera menyusul mu dan Oliver. Aku benar-benar mencintai adik ipar mu ini, Olivia", ujar Max menjawab rasa penasaran Olivia.


"Huh...kalian berdua ini bertunangan tidak bilang-bilang pada ku dan suamiku. Tega sekali", seru Olivia mencebikkan bibirnya sesaat. Kemudian senyuman kembali menghiasi wajahnya.


"Maafkan lah. Semuanya serba dadakan, Oliv. Hm... sejujurnya aku ingin memberikan kejutan untuk mu dan kakakku. Setelah ini aku dan Max akan menemui kak Oli di kantornya. Tentu saja aku tidak mau ia marah pada ku, karena menyembunyikan pertunangan kami darinya", ucap Elara sambil melihat cincin pertunangannya dengan Maxxie yang melingkar di jarinya.


"Kebetulan sekali, aku juga mau ke kantor Oliver. Tadi ia menghubungi ku dan memintaku datang ke sana, aku tidak tahu juga kenapa Oli memintaku datang".


"Kalau begitu kita pergi bersama saja ke kantor suami mu. Tapi sebelumnya aku dan Ela ingin melihat Asley terlebih dahulu. Apa keponakan ku sedang beristirahat?"


"Asley ada di kamarnya, temui lah sebelum ia tidur siang sementara aku ke pantry", jawab Olivia beranjak dari kursinya.

__ADS_1


*


"Selamat siang nona Olivia, nona Elara, tuan Maxxie", sapa Javier asisten Oliver ketika berpapasan dengan ketiganya di lobby.


"Javi, apa suami ku ada di ruangannya?"


"Iya ada nona, tapi saat ini tuan sedang menerima tamu", jawab Javier.


"Sebaiknya nona langsung naik saja. Maaf saya tidak bisa mengantarkan nona karena ada pekerjaan mendesak di luar", ucap Javier dengan hormat.


"Baik. Kami menunggu di atas saja", jawab Olivia sebelum asisten suaminya berlalu.


Beberapa saat kemudian Olivia, Elara dan Max sampai di lantai di mana tempat ruang kerja Oliver berada. Seperti biasanya lantai itu terlihat lebih tenang.


Tak terdengar suara orang saling berbincang atau pun derap langkah kaki seperti di lobby.


"Sayang kau dan Oliv langsung saja ke ruangan Oliver, aku harus mengangkat telpon Bill", ujar Maxxie ketika handphone miliknya berbunyi. Tanpa menunggu jawaban Ela, laki-laki itu langsung menjauh.


"Sebaiknya kita temui Liana". Olivia melihat sekertaris suaminya yang sedang bekerja.


Menyadari kedatangan Olivia dan Elara, cepat-cepat Liana menghentikan pekerjaannya. "Selamat siang nona Olivia, nona Elara. Tuan Oliver sudah menunggu kedatangan nona, sebaiknya langsung masuk saja ke ruangannya", ucap Liana dengan sopan.


"Iya. Biar aku dan Ela menunggu di sini saja, sampai tamunya pulang", ucap Olivia tersenyum.


"Tapi tuan meminta jika anda datang langsung masuk saja keruangannya nona. Mari saya hantar ke dalam", jawab Liana berdiri dan melangkahkan kakinya mendahului Olivia dan Elara.


Tok..


Tok..


"Masuk!" Terdengar suara tegas Oliver dari dalam.


Liana membuka handle pintu. "Nona Olivia sudah datang tuan".


Oliver yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang di sofa langsung mengalihkan perhatiannya ketika mendengar Liana dan melihat Olivia di belakang sekertaris nya itu.


"Sayang ayo masuk, kau harus berkenalan dengan temanku baik ku ini. Ellando Alexander". Oliver memberikan isyarat dengan tangannya agar Olivia masuk.

__ADS_1


Laki-laki tampan di hadapan Oliver pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Tersenyum melihat Olivia.


Liana membukakan pintu lebar-lebar, agar Olivia dan Elara masuk. Olivia tersenyum ramah. Namun tidak dengan Elara tubuh nya diam tercekat di belakang Olivia. Sementara Liana langsung undur diri. Kedua mata Ela menggerjap tak percaya melihat siapa yang sedang bersama Oliver.


Begitu juga laki-laki yang bernama Elland itu, tidak bisa menutupi rasa kagetnya melihat siapa yang datang bersama istri temannya itu. "Ellya?", ucap Elland bergumam.


"Kau bersama Ela juga?", tanya Oliver.


"Mereka datang bersama ku, Oli". Maxxie yang baru selesai menerima telepon asistennya langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Ela. Betapa kagetnya ia kala melihat Elland temannya ada di ruangan Oliver. "Elland?"


Sesaat Elara memejamkan matanya. Dengan tubuh gemetaran. Gadis itu berusaha menenangkan dirinya.


"Ternyata kalian berdua sudah saling mengenal juga?", tanya Oliver menatap Maxxie dan Elland bergantian setelah semuanya duduk di sofa.


Maxxie dan Elland hampir bersamaan menganggukkan kepalanya.


"Kami berteman di bangku kuliah. Sebelum Elland melanjutkan pendidikan di Amsterdam", jawab Maxxie menjelaskan. "Kalian sendiri bagaimana bisa saling mengenal?"


"Kami berteman dari kecil. Orangtua kami berteman baik, jadi kita sudah seperti saudaranya sendiri", jawab Oliver sambil menyesap minumannya.


Sementara Elland lebih banyak diam, namun kedua netra biru miliknya tidak bisa menutupi perasaannya. Laki-laki itu tak berkedip melihat Maxxie begitu mesra pada Elara yang juga lebih banyak diam dan tertunduk menatap cincin di jari manisnya.


"Apa kabar mu, Ela?". Untuk yang pertama kalinya Elland membuka mulutnya yang sedari tadi lebih banyak diam.


Perlahan Ela mengangkat wajahnya membalas tatapan Elland. "A-ku baik–"


"Oh ya sayang, Ela dan Max memberikan kejutan untuk kita. Mereka sudah bertunangan. Lihatlah cincin indah di jari manis Ela", ujar Olivia sambil menunjuk jemari Elara.


Sontak membuat Oliver dan Elland merubah posisi duduk mereka dan menatap ke jari manis Ela.


"Benarkah?"


Ela tidak bisa lagi menahan perasaannya. "Maaf, aku harus keluar sebentar. Aku meninggalkan handphone ku di mobil". Tanpa menunggu jawaban orang-orang di sana, Ela langsung keluar ruangan itu.


Tiba di luar, Elara menghirup udara sedalam-dalamnya. Sedari tadi dadanya sesak. Kini terasa lebih lega. Ela berjalan dengan tenang menuju lift. Kebetulan sekali handphone miliknya memang tertinggal di mobil Max. "Tenangkan diri mu Ela", batinnya.


"Kau ikut dengan ku Ellya!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2