ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MENANGISI KEPERGIAN OLIVER


__ADS_3

Olivia harap-harap cemas di ruang tunggu. Jantung nya tak henti berdebar kencang. Beberapa jam yang lalu Oliver di nyatakan bisa menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Asley. Oliver tidak mau menunda-nunda transplantasi untuk putranya Asley.


Meskipun begitu bukan lah kebahagiaan yang di rasakan Olivia tapi rasa takut dan kuatir yang di rasa justru berlipat ganda. Bagaimana tidak dua orang yang sangat di sayanginya berada dalam satu ruangan khusus.


Dokter Hillary mengatakan saat menerima transplantasi sumsum tulang belakang, kondisi Asley dapat pulih dengan cepat. Mengingat kanker yang dideritanya masih stadium awal. Semakin cepat ditangani, maka semakin cepat proses penyembuhannya.


"Oh Tuhan kenapa lama sekali mereka di dalam. Dan tidak ada seorang pun yang mengabari ku. Aku benar-benar kuatir. Perasaan ku tidak enak begini", gumam Olivia dengan wajah terlihat cemas.


Beberapa saat kemudian ada yang membuka pintu yang terhubung dengan jalur luar.


"Olivia bagaimana keadaan Asley?"


"Ela.."


Olivia langsung memeluk Elara saat melihat gadis itu datang bersama Maxxie. Bertepatan dengan Hillary dan Ryan keluar dari ruangan tempat Oliver dan Asley diambil tindakan oleh tim medis.


Olivia mengendurkan pelukannya pada Elara. "Dokter...bagaimana anak ku dan suami ku?"


"Olivia apa maksudmu? Apa yang di lakukan kakak ku bersama Asley didalam sana?", tanya Elara tak mengerti.

__ADS_1


"Kak Ryan, kak Lary apa yang di lakukan Oliver di dalam sana?". Ela langsung bertanya pada kedua dokter sahabat kakaknya itu. Ela mengenal dengan baik Ryan dan Hillary.


"Asley mengindap kanker, Ela dan Oliver mendonorkan sumsum tulang belakang untuk anak kami", jawab Olivia.


"Apa? Oh my God...bagaimana bisa. Kakak ku baru setahun setengah yang lalu di nyatakan sembuh dari sakitnya. Oliver mengindap kanker otak stadium dua, Olivia", seru Elara nampak panik. Ia menatap Ryan dan Hillary bergantian seakan minta penjelasan langsung pada teman-teman kakaknya itu.


Sontak penuturan Ela membuat Olivia tersentak seketika. Kaget dan syok. Olivia tidak bisa berkata apa-apa lagi tubuhnya tiba-tiba limbung. Beruntung Maxxie memegangi tubuh itu. Maxxie menuntun Oliv ke kursi yang ada di ruang tunggu tersebut.


"Tenangkan dirimu Olivia, Elara. Semua ini atas keinginan suami mu Oliver sendiri yang ingin segera melihat anak kalian sehat lagi", ujar Hillary dengan wajah serius.


"Aku sudah melarang dan mengingatkan Oliver sebelumnya tapi ia tetap nekat dan bersikeras untuk menjadi pendonor itu. Ia bahkan menandatangani surat pernyataan melakukannya atas keinginan diri nya sendiri", ucap Ryan.


"Sebelum masuk ruangan tindakan tadi, Oliver bilang sekarang ia akan mengambil tanggungjawab sebagai ayah Asley karena sudah banyak melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu pada mu Olivia. Ia juga mengatakan selama ini kau yang sudah merawat anaknya, maka saat Asley membutuhkan dirinya ialah yang akan bertanggungjawab sekarang. Oli terlihat bersemangat dan bahagia saat mengatakan itu pada ku tadi", ucap Ryan menceritakan semua pembicaraan antara ia dan Olivia beberapa jam yang lalu.


Oli. Kenapa–"


Elara segera memeluk dan menenangkan Olivia yang menangis sesenggukan. Sementara Max berbicara pada Ryan dan Hillary tak jauh dari Olivia.


Terlihat perawat terburu-buru dengan wajah panik keluar dari ruangan tempat Asley dan Oliver. "Dokter Ryan, tuan Oliver mengalami sesak nafas! Detak jantungnya menurun", ujar petugas medis itu dengan lantang yang membuat Olivia langsung berlari menerobos masuk keruangan Oliver. Di dalam nampak dua ranjang pasien berdekatan. Asley masih tertidur akibat obat bius bius. Sementara Oliver tergolek lemah dengan mata terpejam dan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


Olivia hendak mendekati Oliver yang nampak kesulitan bernafas. Namun Elara dan Max mencegahnya. Sementara Ryan dan Hillary memeriksa dengan kondisi Oliver dengan teliti.


Olivia tidak bisa menahan diri lagi, ia menjerit histeris ketika tubuh Oliver tiba-tiba begitu lemah dan kedua matanya terpejam.


Ryan dan Hillary tidak bisa menutupi panik mereka juga. Alat bantu pacu jantung terus di tekan di atas dada Oliver. "Come on Oliver! Kau harus kuat, buka matamu teman", ucap Ryan sambil menekan dada teman baiknya itu.


Oliver tidak merespon apapun. Bahkan terdengar bunyi nyaring di monitor.


Olivia berlari mendekati Oliver menggenggam erat jemari tangan laki-laki itu.


"Tidak Oli. Jangan main-main kali ini sayang. Ayo bangun sayang. Aku tidak mau jauh dari dirimu lagi. Aku mencintaimu Oliver. Aku mohon buka matamu sekarang Oliver", ucap Olivia terisak dan berlinang air mata. Bahkan ia bersimpuh di samping tempat tidur Oliver.


"Aku mohon kau harus menepati janji pada ku Oliver. Katamu kita akan baik-baik saja. Kau jangan membohongi ku lagi Oli, aku tidak kuat menanggung semuanya sendirian tanpa mu. Jangan buat hatiku hancur lagi di saat aku sudah percaya dan menaruh harapan pada mu", isak Olivia menangis sejadinya.


Elara pun tidak bisa membendung air matanya. Ia dan Max berusaha membantu Olivia agar berdiri.


"Kenapa takdirku selalu begini. Apa begitu sulit nya memberi ku kebahagiaan walau hanya sekejap saja. Aku tidak meminta banyak. Hanya sedikit saja".


Elara memeluk tubuh Olivia. Keduanya menangis sesenggukan. Dan semakin histeris ketika melihat Ryan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Olivia menghambur memeluk tubuh Oliver dan berbisik di telinga Oliver. "Aku mohon Oli, buka mata mu. Aku dan Asley membutuhkan mu. Aku mencintaimu. Sangat..."


...***...


__ADS_2