ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
Kejutan yang menyakitkan


__ADS_3

"Nanti siang, akan ada yang mengantarkan sesuatu untukmu." kata Rian.


" Apa itu Mas?"tanya Kirana.


" Kejutan dariku." jawab Rian.


Kirana pun tersenyum lebar.


" So sweet banget kamu Mas, pake mau kirim kejutan segala, lagian, kenapa kamu gak kasih langsung aja ke aku."


" Kau kan tau, aku selalu sibuk, jarang ada waktu, jadi aku kirim saja." ucap Rian.


Senyum Kirana pun langsung pudar, wajahnya berubah sedih.


" Kau kenapa?" tanya Rian yang melihat perubahan ekspresi Kirana.


" Ehm, tidak Mas, aku akan menunggu kejutanmu itu, aku jadi tidak sabar ingin tau kejutan darimu Mas." ujar Kirana dengan kembali tersenyum.


" Yasudah, aku berangkat." ujar Rian.


Kirana pun langsung mencium tangan Rian.


" Hati-hati Mas." ucap Kirana.


" Iya." kata Rian.


Setelah Rian pergi dengan menaiki mobilnya, Kirana kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan pekerjaannya.


" Hampir saja, tadi aku berprasangka buruk pada Mas Rian, ternyata, walaupun dia sibuk, tapi, dia masih sempat menyiapkan kejutan untukku, ya walaupun dia tidak memberikan secara langsung, tapi, itu sudah cukup bagiku, setidaknya Mas Rian masih perhatian padaku." ucapnya sambil memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.


Berhubung hari ini akan ada paket untuknya, Kirana memutuskan untuk tidak pergi ke restoran, ia hanya mengontrol via telpon dengan Manager restoran yang tak lain adalah sahabatnya.


Kirana memiliki sebuah Restoran yang menyajikan makanan khas Sunda yang cukup terkenal,


" Lebih baik aku menghubungi Mia kalo aku gak bisa ke restoran." Gumamnya.


Kirana pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan laundry untuk mengambil ponselnya di kamar.


" Halo Assalamu'alaikum Mia, Mia, hari ini aku tidak bisa ke restoran, ada urusan penting." ucapnya pada Mia di sebrang telepon.


" Urusan penting? " tanya Mia.


" Iya, nanti kalo ada apa-apa kamu langsung hubungi aku aja ya." kata Kirana.


" Baiklah." ujar Mia.


" Yasudah, aku tutup telponnya dulu ya, Assalamu'alaikum." kata Kirana.


" Wa'alaikum salam." jawab Mia.


Setelah selesai mengabari Mia, Kirana pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Sementara di Perusahaan keluarga Rian, Rian tidak bisa fokus menyimak dan mendengarkan presentasi para klien yang akan bekerjasama dengan perusahaan, ia tampak melamun, sesekali, ia memijat pelipisnya karna merasa pusing memikirkan masalahnya, haruskah ia menceraikan Kirana, wanita yang sudah menemaninya selama 8tahun, hanya karna Kirana belum juga memberikan ia keturunan.


Di tengah lamunannya, Via, yang merupakan sekertaris Rian pun menegurnya.


" Pak, presentasinya sudah selesai, mereka minta pendapat bapak." ucap Via.


Rian pun sedikit terlonjak.


" Ehm." Rian berdehem, lalu membenarkan posisi duduknya.


" Saya suka dengan presentasi kalian, minggu depan kita akan bertemu lagi, untuk membahas kontrak kerjasama. Saya mengucapkan terimakasih atas kehadiran bapak dan ibu di perusahaan ini, kalo begitu saya permisi." kata Rian, lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari Meeting Room.


***


Teng tong,,,


Mendengar suara bel berbunyi, Kirana yang sedang duduk sambil menonton TV pun langsung beranjak dari tempat duduknya.


" Itu pasti yang mengantar paket kejutan dari Mas Rian." ucapnya sambil tersenyum.


Kirana pun sedikit berlari menuju ke arah pintu.


" Selamat siang bu." ujar seorang pria berpakaian rapi.


" Siang mas."


" Dengan ibu Kirana Putri?" tanya si pria.


" Saya mau mengantarkan surat panggilan dari pengadilan untuk ibu." ujar si Pria sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.


" Surat panggilan." gumam Kirana, sambil memperhatikan amplop berwarna coklat itu, yang kini di pegangnya.


" Ibu silahkan tanda tangan disini." kata si Pria.


Kirana pun menandatangi sebuah kertas sebagai tanda terima.


" kalo begitu, saya permisi." ucap si pria.


Kirana mengangguk.


Setelah Pria itu pergi, Kirana masih belum beranjak dari depan pagar rumahnya sambil memandangi amplop coklat itu.


" Surat panggilan untuk apa?" begitulah pertanyaan yang ada di kepala Kirana.


Ia pun menutup pagar, dan kembali ke dalam rumah.


Perlahan Kirana membuka amplop coklat itu, ada rasa was-was di hatinya.


Perlahan ia buka surat yang terlipat itu.


Matanya langsung membulat, dadanya serasa di timpa sebuah batu besar, sesak teramat sesak, sakit teramat sakit, hatinya bagai di sayat, buliran bening mulai keluar dari sudut matanya tatkala ia melihat dari isi surat itu, yang tak lain adalah surat panggilan dari pengadilan untuk menghadiri persidangan perceraiannya dan Rian, Pria yang selama ini menjadi suaminya, Pria yang selama ini di cintainya, Pria yang selama ini di percayainya, tapi hari ini, Pria itu sudah tidak menginginkannya lagi.

__ADS_1


Air matanya jatuh membasahi surat undangan itu.


Tiada angin, tiada hujan, Rian mengambil keputusan sepihak.


" Mas inikah kejutan darimu Mas, kenapa kamu tega padaku Mas, apa salahku,, hu hu hu..." Tangis Kirana semakin kencang, hatinya sungguh pilu.


" Mas Rian, tidak boleh mengambil keputusan secara sepihak seperti ini, aku harus bicara padanya, ya benar aku harus bicara padanya." katanya sambil sesenggukkan.


Dengan tergesa-gesa, Kirana melangkahkan kakinya hendak keluar rumah, namun, belum sampai pintu, seseorang membuka pintu dari luar.


Kirana pun menghentikan langkahnya.


" Mas Rian." dengan berlari kecil, Kirana menghampiri Rian sambil memegang surat panggilan itu.


Namun tiba-tiba langkahnya kembali terhenti tatkala melihat seorang wanita yang berada di belakang Rian.


Wanita itu lalu berjalan ke arah Kirana.


" Halo Kirana, aku Bella, istri mas Rian." ujar Bella tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Deg !


Mata Kirana membulat, mulutnya menganga, surat yang ia pegang pun terjatuh begitu saja.


Ia melihat Bella, Kirana lalu fokus pada perut buncit Bella.


Kirana, lalu melihat ke arah Rian dengan tatapan sedih dan juga marah.


" Istri? Mas, apa ini, tolong jelaskan !" kata Kirana dengan sedikit meninggikan suaranya.


Rian lalu merangkul pinggang Bella.


" Kiran, ini Bella istri siri ku, dan sebentar lagu kami akan meresmikan pernikahan kami di mata hukum dan negara, dan Bella kini sedang mengandung anakku." kata Rian sambil mengelus perut buncit Bella, Bella pun tersenyum.


Mengetahui kenyataan pahit itu, Kirana merasa dadanya di tikam ribuan pedang, sakit teramat sakit, air matanya kembali membasahi pipinya.


" Jadi, selama ini, dia alasan Mas pulang larut dan bahkan tidak pulang? dan dia juga alasan sikap Mas berubah padaku?" tanya Kirana dengan suara yang bergetar.


" Iya." Jawab Rian singkat.


Kirana pun terduduk lemas, tangisnya langsung pecah.


" Apa salahku mas, hingga kau mengusirku dari hidupmu, aku selalu mencintaimu, aku selalu percaya padamu, tapi.. hik hik.."


" Kau tidak salah Kirana, takdir lah yang salah, karna telah mempertemukan dan menyatukan kita dalam sebuah ikatan pernikahan." ucap Rian.


Apa yang di ucapkan Rian membuat hatinya semakin sakit.


" Aku masih normal Kirana, aku ingin memiliki anak, tapi kau belum bisa memberikanku anak, jadi, salahkah aku, jika aku menikah lagu dengan wanita yang bisa memberikanku anak?" kata Rian.


Hatinya semakin hancur mendengar perkataan Rian.

__ADS_1


" Memang kau pikir, hanya kau yang menginginkan anak mas, aku sebagai seorang wanita juga ingin menjadi seorang ibu, tapi apa dayaku, jika tuhan belum mau memberikannya, aku bisa apa." kata Kirana sambil menangis tersedu-sedu.


__ADS_2