
"Aku mohon Oli, buka mata mu. Aku dan Asley membutuhkan mu. Aku mencintaimu. Sangat mencintai mu sayang".
Olivia menangis tersedu-sedu di dekat telinga Oliver. Hillary memegangi bahu Olivia. Sementara Ryan memberikan instruksi pada perawat untuk menambah persen hentakan.
"Ini yang terakhir. Aku mohon Oli... kembalilah!", ucap Ryan sambil memejamkan matanya menggosok sisi defribrilator sebelum di tempelkan pada dada temannya itu.
Olivia bisa melihat raut wajah Ryan begitu serius. Sungguh melihat kondisi Oliver seperti itu membuat hati Olivia hancur. Sedih. Terenyuh. Hingga mengurut dada. Buliran-buliran bening tak henti menyentuh wajahnya dengan sendirinya tanpa Olivia mampu membendungnya lagi.
Melihat laki-laki yang biasanya selalu terlihat kuat, sehat dan ceria bahkan sering usil itu sekarang terdiam tak bisa bergerak sedikitpun benar-benar membuat Olivia menangis pilu.
"Tuhan...kabulkan permintaan ku sekali ini saja. Sadarkan suamiku. Berikan kesempatan hidupnya sekali lagi. Aku mohon", lirih Olivia dengan terisak. Kedua matanya terhalang berkabut tebal tetesan air mata.
Terdengar hembusan nafas panjang Ryan juga orang-orang yang ada di ruang tersebut, berbarengan dengan perubahan grafik dan suara di monitor yang terhubung dengan tubuh Oliver.
Seperti terhentak kaget kedua mata Oliver terbelalak terbuka.
Olivia menatap monitor yang ada di sebelah Oliver yang memperlihatkan diagram detak jantung Oliver telah kembali lagi.
Seakan tidak percaya Olivia menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat mata Oliver terbuka. Kristal-kristal bening masih menetes menyentuh diwajahnya. Namun tetesan air mata bahagia dan tak percaya apa yang terjadi. Keajaiban yang di berikan sang pencipta.
Olivia menghambur memeluk tubuh atletis Oliver yang berada di atas tempat tidur pasien. Tubuh itu berkeringat, Olivia bisa merasakannya.
__ADS_1
"Terimakasih Tuhan kau mengabulkan permohonan ku. Terimakasih sayang, kau membuka mata mu", ucap Olivia membingkai wajah Oliver yang juga menatap Olivia dengan tatapan sendu. Terlihat kelelahan. Sementara nafasnya masih terdengar menderu.
Olivia mengambil handuk kecil dan mengusap lembut peluh yang membasahi wajah Oliver. Wajah pucat Oliver sebelumnya berangsur membaik dan terlihat lebih memerah karena dialiri darah. Olivia dengan hati-hati memberikan minuman untuk Oliver yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Kau membuat ku sangat kuatir teman. Lain kali aku tidak akan pernah mau lagi mengikuti permainan nekat mu seperti ini. Kau membuat kami semuanya di sini dalam keadaan panik, Oli", ketus Ryan menatap temannya itu.
*
Ryan dan Hillary sudah pergi, begitu juga Asley sudah di pindahkan keruangan rawat inap. Anak itu di temani Elara dan Maxxie saat ini.
Menurut dokter Hillary, transplantasi sumsum tulang belakang yang di jalani Asley sukses. Tubuh anak itu bisa dengan cepat beradaptasi dengan sumsum pemberian sang ayah.
Sementara Olivia menjaga Oliver di ruang observasi. Menurut Ryan kondisi Oliver masih harus dalam pengawasan ketat hingga besok pagi. Sekarang hanya ada Olivia dan Oliver di ruangan itu, sedangkan perawat dan dokter jaga ada di bagian depan yang di batasi pintu.
Jemari tangan Olivia tak henti-hentinya bertautan dengan tangan Oliver, sesekali mengusap wajah laki-laki itu yang berkeringat. Menurut Ryan hal seperti itu biasa bagi pasien yang baru lolos dari masa kritisnya.
Oliver belum banyak bicara, namun dari sorot matanya terlihat sendu. Ia tak hentinya menatap manik Olivia yang masih nampak memerah dan bengkak setelah mengalami saat mencekam dalam hidupnya beberapa waktu yang lalu.
Namun Olivia tegar. Sekuat tenaga ia ingin menunjukkan kebahagiaan di hadapan Oliver.
Oliver tahu, Olivia sebenarnya sangat kuatir dan cemas. Jemari tangan Oliver terangkat hendak menggapai wajah Oliv namun tenaganya masih begitu lemah.
__ADS_1
Olivia menggenggam tangan kokoh itu. Dan mengecupnya berulang kali. Buliran-buliran bening tak terbendung lagi. "Kenapa kau masih melakukannya Oli, padahal kau sakit. Kenapa kau tidak pernah menceritakan keadaan mu pada ku?", lirih Olivia terisak menatap Oliver dengan wajah sendu.
"M-Maaf kan aku. Aku banyak melakukan kesalahan pada mu, Oliv–"
Olivia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ushh...Jangan banyak bicara dulu". Olivia menghentikan Oliver bicara dengan telunjuk tangan nya menempel pada bibir laki-laki itu ketika terdengar nafas Oliver kembali tersengal.
"Biarkan aku bicara Olivia. Aku ingin kau tahu, aku benar-benar mencintai mu dan anakku. Kalau masih ada kesempatan untuk ku, aku hanya berharap kau tidak pernah lagi meragukan ketulusan hati ku, Oliv. Aku tidak ingin kehilangan lagi diri mu. Aku ingin memulai dari awal lagi hubungan ini, saling terbuka, saling membutuhkan sebagai keluarga yang utuh–"
Olivia menyatukan bibirnya pada bibir Oliver agar tidak bicara lagi. "Tentu saja aku tahu. Kau tidak perlu menunjukkan pembuktian apapun lagi Oli. Aku tahu kau benar-benar mencintai kami. Aku tahu... ternyata kepergian ku benar-benar membuat hati mu hancur. Bahkan kau tidak memperhatikan kesehatan mu sendiri", bisik Olivia di depan bibir Oliver.
Perasaan nya begitu hangat. "Aku mencintaimu sayang. Akan selalu seperti itu".
"Jangan pernah membuat ku panik lagi seperti ini Oli. Aku tidak sanggup lagi jika harus menghadapi perpisahan", ucap Olivia sambil menyandarkan wajahnya pada dada Oliver.
Jemari lentik Olivia mengusap lembut dada bidang itu. Air mata Olivia terasa hangat membasahi dada Oliver. Perlahan tangan Oliver mengelus punggung Oliv.
"Aku janji tidak akan pernah ada lagi perpisahan Olivia. Kita akan terus bersama-sama selamanya sampai maut memisahkan. Aku mencintaimu dan anakku jangan pernah ragukan itu".
...***...
__ADS_1