
"Bagaimana istri ku, Ryan. Olivia sakit apa? Aku sangat kuatir melihat kondisi istri ku. Oliv tidak pernah sakit, sekali sakit benar-benar membuatku kuatir begini", ucap Oliver bernada panik sambil mengusap kening istrinya.
"Istri mu tidak apa-apa–"
"Bagaimana bisa kau mengatakan istri ku tidak kenapa-napa, Ryan. Periksa yang benar! Kau harus menemukan penyakit istri ku sekarang juga, agar bisa kau obati. Kenapa kau tidak seteliti dulu lagi, dengan mudahnya memberikan diagnosa tidak apa-apa pada pasien mu. Huh..Aku tidak mau kehilangan istri ku Ryan", sela Oliver serius memotong pembicaraan Ryan yang sedang memasukkan peralatan medis ke dalam tas dokter milik nya.
Oliver benar-benar panik. Bahkan tidak mau menjauh dari Olivia barang sesaat saja.
Tingkah Oliver sebenarnya menyulitkan Ryan memeriksa keadaan Olivia. Bagaimana tidak, Oliver duduk di tepi tempat tidur sembari mengusap lembut kening Olivia yang memejamkan matanya.
"Oli, kau berlebihan sekali. Kau memintaku memeriksa istrimu tapi lihatlah diri mu, tidak bergeser sedikit pun", ujar Ryan tidak mau kalah.
"Olivia tidak sakit tapi sedang hamil muda! Kau memintaku memeriksa keadaan istri mu. Dan aku sudah selesai memeriksanya. Aku sangat yakin istrimu sedang hamil. Perkiraan usia kehamilan nya enam minggu", tegas Ryan menjelaskan semuanya.
Penuturan Ryan membuat manik silver Oliver melotot seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Mendadak berdiri dengan berkacak pinggang dan mengusap dagunya.
"Oh my God, benarkah istri ku hamil? Sayang...kau dengar itu? Di perut mu ada anak kita", ucap Oliver mengebu-gebu. Laki-laki itu tak dapat menutupi rasa kaget sekaligus bahagia yang datang bersamaan.
"Oliv, kita akan memiliki anak lagi".
"Aku mendengarnya sayang", jawab Olivia dengan suara terdengar begitu lembut.
Seakan ingin menumpahkan semua kebahagiaan yang ia rasakan, Oliver mencium bibir istrinya. Begitu pun Olivia yang sangat bahagia, segera membalasnya. Keduanya berciuman mesra bahkan melupakan keberadaan Ryan yang masih berada di sana.
__ADS_1
Bahkan suara deheman Ryan tidak di gubris pasangan yang sedang bersukacita itu. Hingga Hillary datang bersama Asley, melihat Olivia dan Oliver masih menumpahkan kebahagiaan mereka.
Ryan dan Hillary saling bertukar pandang, tersenyum melihat temannya itu.
"Mommy daddy", panggil Asley menghampiri kedua orangtuanya di atas tempat tidur.
Mendengar suara Asley, Oliver dan Olivia segera menghentikan aktivitas
mereka.
"Sayang.."
"Mommy sakit apa?"
"Oli, aku dan istriku pamit pulang. Olivia jangan lupa minum vitamin yang ku berikan. Setelah istri mu sudah enakan, sebaiknya kau periksakan ke dokter kandungan", ucap Ryan tersenyum.
"Iya".
"Terimakasih Ryan, Hillary sudah memeriksa ku dan Asley", balas Olivia hendak bangun dari tempat tidur, namun Hillary melarang nya.
"Sebaiknya kau tetap rebahan. Kamu mengalami morning sickness, Olivia. Di trimester pertama kehamilan harus lebih banyak beristirahat apalagi jika sering mengalami muntah dan mual di pagi hari. Untuk Asley. Kalian berdua tidak perlu kuatir, putra tampan kalian ini sangat kuat. Ia sudah sembuh dan mampu melewati masa-masa pemulihan pasca sakitnya dengan baik".
"Bibi Lary, apa aku sudah bisa bersekolah bersama teman-teman ku lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja sayang. Kau bisa bermain dan beraktivitas seperti dulu lagi", jawab Lary tersenyum sambil mencubit pipi berisi Asley yang begitu menggemaskan.
*
Beberapa jam berlalu, jam di dinding berdetak di angka dua belas siang. Namun hujan deras mengguyur kota Houston.
"Oli, aku sudah kenyang. Kau memaksaku memakan semuanya. Keadaan ku sudah baik sayang. Jangan kuatir lagi", ucap Olivia menolak suapan yang di berikan suaminya.
Sedari tadi, Oliver berada di kamar mereka. Bahkan ia menunda semua pekerjaan nya di kantor. Padahal Oliv sudah tidak apa-apa lagi ia merasakan baik-baik saja, apalagi setelah meminum vitamin yang diberikan Ryan.
"Sedikit lagi, ayo habiskan makanan mu. Kemudian kau rebahkan lagi tubuhmu. Nanti sore kita ke dokter kandungan terbaik di sini, Javier sudah mengurus nya".
Terlihat Olivia membuang nafasnya dengan kasar. "Sayang...aku ini hamil, bukan sedang sakit parah. Dan sekarang aku sudah sehat tidak seperti pagi tadi. Aku bosan jika harus rebahan terus, Oli. Bahkan kau tidak mengizinkan aku makan sendiri", jawab Olivia sambil mencebikkan bibirnya.
Oliver menaruh piring di atas nakas. Ia menggenggam jemari tangan istrinya. Oliver menatap dengan lembut wajah Olivia.
"Maafkan aku sayang jika terlalu berlebihan, ini yang pertama kalinya buatku. Saat kau hamil Asley, kau sendirian. Sekarang aku ingin menebus kesalahanku ketika kau mengandung Asley, Oliv. Aku ingin merasakan yang kau rasakan. Aku ingin selalu ada di samping mu", ucap Oliver.
Mendengar penuturan suaminya, tentu membuat perasaan Olivia menghangat. Ia memeluk Oliver. Menyandarkan wajahnya pada dada bidang Oliver. "Terimakasih sayang. Aku tidak meragukan ketulusan mu. Aku janji akan selalu menjaga anak-anak kita. Aku sangat mencintaimu, sayang".
...***...
To be continue
__ADS_1