ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BIRTHDAY PARTY LOUISA-LOUIS


__ADS_3

tiga tahun telah berlalu..


Hari-hari Olivia dan Oliver semakin tambah berwarna. Kehadiran Oliver junior kian membuat kebahagiaan dan kehangatan di keluarga mereka.


Tawa canda, celotehan dan pertengkaran ketiga anak-anak Olivia dan Oliver saat berebut mainan membuat ramai mansion mewah itu.


Hari ini tepat tiga tahun usia anak kembar mereka Louisa-Louis. Sementara Asley sudah berusia delapan tahun. Sebagai kakak Asley yang kerap menjaga adik-adiknya bermain. Asley menjadi anak tampan dan menyayangi kedua adiknya Louisa dan Louis.


Olivia dan Oliver memilih mansion baru mereka sebagai tempat perayaan ulang tahun yang ketiga Louisa dan Louis, di adakan dengan sangat meriah.


Pesta mewah itu dihadiri keluarga dan kolega bisnis Oliver dan Olivia.


Balon warna-warni di bentuk seperti kastil di taman yang sangat luas itu. karakter Avengers dan Barbie berukuran besar berdiri menyambut kedatangan anak-anak yang merupakan putra-putri rekan bisnis Olivia dan Oliver.


Dua buah birthday cake fantastis, sudah tertata di atas meja.


Saat ini keluarga Oliver sedang foto keluarga Asley tampak semakin tampan. Wajahnya mirip dengan sang ayah. Sementara Louisa Louis perpaduan kedua orangtuanya. Kebahagiaan begitu terpancar dari keluarga Oliver.


Beberapa jam berlalu, senja berganti kelabu. Acara yang diadakan sejak sore itu telah usai. Tamu undangan telah pulang ke rumah masing-masing. Yang belum pulang hanya keluarga Oliver dan Olivia saja. Mereka masih terlihat berbincang-bincang sambil menikmati acara selanjutnya hanya diadakan untuk keluarga dekat saya yaitu barbeque.


"Maxxie minta maaf karena datang terlambat. Suamiku dalam penerbangan dari perjalanan bisnisnya", ucap Elara ketika duduk bersama Olivia dan Oliver. "Nanti ia langsung kemari".


Oliver menganggukkan kepalanya. "Iya. Max sudah menghubungi ku tadi pagi".


"Lihatlah Louisa dan Sidney sangat dekat. Usia mereka hanya beda beberapa bulan saja", ucap Olivia menunjuk putrinya dan Sidney putri cantik Elara dan Maxxie yang sedang bermain berdua di taman. Sementara Louis adalah sosok jahil yang suka menggangu keduanya.


Ela dan Oliver memperhatikan juga anak-anak mereka.


"Dan sebentar lagi anggota keluarga kita segera bertambah lagi", ucap Oliver mengecup lembut wajah istrinya.


"Ah kalian berdua ini selalu romantis di manapun".


Suara Maxxie mengejutkan semuanya. Terutama istrinya sendiri. "Sayang kau sudah datang? Katamu masih dalam penerbangan?"


"Aku sengaja ingin memberikan kejutan padamu. Kau pikir kakak mu saja yang bisa romantis pada istrinya, suami mu juga bisa", ucap Max tertawa sambil mengecup pucuk kepala istrinya dari belakang Ela yang duduk di kursi. Max memeluk mesra leher Elara. Ela tersenyum sembari mengusap lembut lengan suaminya itu.


"Tapi kau tetap tidak bisa mengalahkan aku Max, kau belum bisa membuat istri mu hamil lagi. Sementara Olivia sudah mengandung anak keempat kami yang hanya tinggal menunggu harinya saja", seloroh Oliver.


"Yah, urusan satu itu aku akui kau lebih unggul dari ku. Doakan saja kami segera memberikan adik untuk Sidney", balas Maxxie tertawa.


"Pasti. Kami selalu mendoakan kalian", jawab Oliver.


Melihat kedatangan Maxxie, Sidney dan Louisa berlari menghampiri meja orang tua mereka. Sementara Louis masih bersama Asley di jaga dua baby sitter mereka.


"Daddy..."


Maxxie mengangkat tubuh keduanya. Sidney dan Louisa. "Kalian berdua sangat cantik. seperti putri kerajaan saja", ucap Max bergantian mengecup lembut wajah berisi Sidney dan Louisa.


Olivia terlihat memegang perut bagian bawahnya. "Ops. S-ayang... sepertinya anak kita akan lahir. Ketuban ku pecah!", ucap Olivia membuat semua orang panik.


"Yang benar saja. Kau jangan main-main Oliv", sahut Oliver membelalakkan matanya menatap istrinya tak percaya.

__ADS_1


Namun saat meraba perut sang istri, barulah Oli percaya. pakaian Olivia memang basah.


"Siapkan mobil!", teriak Oliver. Tanpa menunda laki-laki itu langsung mengangkat tubuh istrinya. Dengan setengah berlarian.


"Kalian jaga Asley dan Louis", perintah Elara pada baby sitter yang segera menganggukkan kepalanya.


Maxxie dan Elara mengikuti Oliver dan Olivia. Bersama Sidney dan Louisa juga.


"Olivia, semoga semuanya baik baik saja. Jangan kuatir dengan ketika anak kalian, kami akan menjaganya", ujar Elara menghampiri Oliv.


"Terimakasih Ela. Memang sudah waktunya anak ku lahir", balas Olivia sebelum mobil yang membawanya kerumah sakit melaju.


*


Dua jam kemudian...


Oekk..


Oekk..


Oliver mengusap wajahnya ketika mendengar tangisan bayi laki-laki. "Oliv anak keempat kita sudah lahir", ucapnya tertawa bahagia.


"Iya, aku mendengarnya sayang".


Persalinan Olivia kali ini pun dengan operasi Caesar. Namun bedanya dari persalinan Louisa-Louis, Olivia hanya dibius setengah badan saja, Olivia di izinkan dokternya memakai bius spiral saja. Artinya Oliv masih mendapatkan kesadarannya.


Makanya Oliver bisa menemani persalinan Istrinya kali ini. Apalagi dokter kandungan Olivia menyarankan melakukan operasi Caesar dengan metode eracs, yang efeknya lebih kecil. Pasien tidak merasakan sakit dan cepat mendapatkan kesembuhan nya. Dalam waktu 24 jam pasien sudah di izinkan pulang kerumah.


*


Asley mengajak adik-adiknya menyambut anggota baru di rumah itu. Keempat anak-anak itu di bimbing Elara mendekati mobil Olivia.


Terlihat Olivia turun mobil di bantu Oliver menggendong Keith yang tertidur pulas dalam dekapan nya.


Olivia terlihat sehat dan segar.


"Mommy...bolehkah aku melihat adikku?", seru Asley melompat kegirangan.


"Tentu saja sayang", jawab Olivia tersenyum memperlihatkan bayi mungilnya.


Sementara Oliver mengangkat tubuh Louisa dan Louis agar bisa melihat juga adik bayinya.


Sidney yang tidak mau ketinggalan pun di gendong Maxxie agar bisa melihat wajah Keith yang tertidur pulas. Gadis mungil itu begitu senang sekali, bahkan ia meminta ayahnya supaya mendekati Keith agar bisa menyentuh bayi lucu itu.


"Di luar dingin sebaiknya kita masuk kedalam", ujar Oliver.


Elara mengambil Keith dari gendongan Olivia. Biar bagaimanapun Oliv baru menjalani operasi itu, masih harus banyak istirahat.


*


Malam kian larut. Olivia sudah beristirahat di dalam kamarnya sementara Oliver masih menidurkan anak-anak mereka di kamarnya masing-masing.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Oliver masuk kedalam kamar ia dan Oliv. Oli tersenyum melihat istrinya sudah memejamkan matanya.


Oliver segera bergabung bersama istrinya ke atas peraduan. Oli memiringkan tubuhnya menghadap Olivia Tangan kirinya menopang kepalanya, sementara jemari tangan kanan merapikan anak rambut Olivia ke belakang telinga.


Menyadari ada yang menyentuhnya, kelopak mata Oliv perlahan terbuka. "Sayang...apa kau sudah menidurkan anak-anak kita?"


"Hem. Seperti biasa Louis selalu menyulitkan. Anak itu beda sendiri, tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik klasik dan sebelum di bacakan dongeng kesukaannya", ucap Oliver tersenyum.


Olivia menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Sementara tangan Oliver melingkar di lehernya.


"Hidupku lengkap sekali. Aku sangat beruntung memiliki istri cantik bukan wajahnya saja namun hatinya juga. Terimakasih sayang kau menjadi bagian hidupku, mendampingi ku, melahirkan anak-anak ku. Aku sangat mencintaimu Olivia", ucap Oliver penuh perasaan.


Jari lentik Olivia mengusap lengan suaminya. Ia mendongakkan wajahnya. "Dari pertama melihat mu, perasaan ku tidak pernah berubah. Aku juga mencintaimu sayang", jawab Olivia tersenyum. Jemari tangannya mengusap rahang tajam Oliver.


Oliver memajukan wajahnya me*umat bibir ranum istrinya. Keduanya berciuman mesra.


Tok..


Tok..


Sepertinya Louis menangis". Oliver bangkit dan membuka pintu.


"Maaf tuan, tuan Louis menangis. Katanya ingin tidur bersama tuan dan nona".


"Jagoan kenapa kau menangis? Anak laki-laki itu harus menahan air matanya agar tidak keluar", ucap Oliver mengangkat tubuh Louis dan menyuruh pengasuhnya pergi.


"Ada apa sayang, apa kau bermimpi?", tanya Olivia mengusap wajah anak ketiganya itu.


Louis menggelengkan kepalanya sambil memasukkan ibu jari dalam mulutnya yang sudah menjadi kebiasaannya.


Oliver hendak kembali merebahkan tubuhnya ketika mendengar tangisan Louisa di depan pintu. Lagi-lagi ia harus membukakan pintu. Kali ini Louisa dan Asley yang datang bersama baby sitter mereka.


"Maaf tuan Oliver, tuan muda Asley dan nona muda Louisa ingin tidur di sini".


"Kalian istirahat lah", ujar Oliver sambil memeluk kedua anaknya itu.


Olivia yang melihat Asley dan Louisa ingin tidur bersama mereka segera menggeser tubuhnya agar kedua anaknya itu bisa tidur dengan nyaman di satu tempat tidur.


Oliver menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya kita harus memesan tempat tidur yang lebih luas lagi. Yang bisa menampung sepuluh orang", seloroh Oliver melebarkan kedua matanya menatap ketiga anaknya menghabiskan tempat tidur ia dan Olivia.


"Sayang... sepertinya malam ini kau harus tidur di sofa".


"Huhh, aku tahu ini pasti terjadi juga", cicit Oliver melangkahkan kakinya ke sofa yang berada di sudut kamar itu.


Olivia menahan tawa melihat suaminya untuk yang pertama kalinya harus tidur di sofa demi anak-anak mereka.


Di balik itu semua, Olivia dan Oliver merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Memiliki keluarga yang utuh seperti saat ini, itulah kebahagiaan sesungguhnya.


...***END***...

__ADS_1


__ADS_2