
Keesokan harinya di kota New York.
Elara baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melilit di tubuhnya.
Gadis itu mengikat rambutnya dengan asal saja di atas kepala.
"Oh my God aku harus cepat-cepat, kompetisi siswa ku akan segera di mulai satu jam ke depan. Huh aku kesiangan karena semalam Maxxie mengajakku ke perusahaan nya dulu sehabis makan malam", gumam Ela setengah berlari menuju lemari pakaian yang ada di kamar nya.
Ting tong...
Ting tong...
Ela mengeryitkan keningnya mendengar bel di pintu apartemen berbunyi. "Siapa yang datang ke apartemen ku sepagi ini? Aku tidak ada janji dengan siapapun", batin Ela.
Ela mengambil pakaian dengan asal saja bahkan ia tidak memperhatikan dirinya lagi ketika bel di pintu berulangkali berbunyi. Ela buru-buru ke depan sambil memasang kancing asal-asalan.
"Sial. Tidak sabaran sekali. Iya tunggu sebentar!", teriak Ela kesal sambil membuka handle pintu tanpa mengintip terlebih dahulu ketika terdengar lagi bunyi bel.
Ceklek..
"K-au.." Kedua mata Elara menatap tak percaya siapa yang berdiri didepan pintu.
"Ela, sebaiknya kau ikut dengan ku sekarang. Terjadi sesuatu dengan Asley".
"Ada apa dengan Asley? Kau membuatku gugup saja, Max", seru Ela dengan mata membulat menatap Maxxie yang berdiri di depan pintu.
Spontan Ela mengeratkan kemeja longgar nya begitu mengetahui siapa yang datang menemuinya.
__ADS_1
"Claudia melukai Asley ketika Olivia mengajaknya menemui Oliver. Saat ini keponakan mu di rawat di rumah sakit. Billy asisten ku baru saja mengabari ku", ujar Maxxie menatap Elara yang nampak kaget mendengar berita yang menimpa Asley.
Elara menutup mulutnya dengan jemari tangannya. "B-agaimana keadaan Asley? Ya Tuhan lindungi anak itu", seru Ela nampak syok mendengar berita yang disampaikan Max barusan.
"Sebaiknya kita ke bandara sekarang Ela. Kau tunda saja semua kegiatan mu. Orang ku akan membereskannya", ujar Max tanpa berpikir lagi langsung menarik tangan Elara.
"Max tunggu, aku ganti pakaian dulu. Tidak sampai lima menit", seru Ela membalikkan badannya berlari ke kamarnya.
"Huhh..."
Maxxie menatap punggung Ela. Ia menggelengkan kepalanya. Bahkan ia tidak sadar, Ela hanya memakai kemeja longgar saja seperti itu.
"Kalau menyangkut Asley, aku tidak bisa hanya mendengar dan berdiam diri saja. Asley sudah seperti anak ku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak itu", ujat Max pada dirinya sendiri sembari menunggu Ela berganti pakaian.
*
"Oliver, kenapa kau tidak mengizinkan aku mengikuti tes kesehatan bersama mu. Bukankan kita berdua bisa menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk anak kita?", ujar Olivia sambil memeluk pinggang Oliver saat Oliver hendak ke ruangan khusus bagi keluarga pasien yang ingin menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk keluarga mereka yang sudah di nyatakan positif mengindap kanker. Jika prosedur sudah siap maka Oliver akan langsung mendonorkan sumsum tulang belakang untuk putranya hari ini juga.
Asley sudah dinyatakan positif mengidap leukemia stadium satu berdasarkan hasil tes yang sudah di lakukan oleh dokter Hillary kemarin.
"Karena sekarang giliran ku, memberikan tanggung jawab untuk Asley. Kau sudah menjadi ibu yang terbaik untuk Asley. Aku juga ingin memberikan tanggung jawab ku sebagai ayah untuk anak kita, Oliv".
Jemari tangan Oliver membingkai wajah Olivia. "Aku tidak mau kau merasakan sakit setelah menjadi pendonor. Asley sangat membutuhkan mu berada disampingnya. Aku tidak mau kita berdua sakit setelah menjalani semua ini Olivia. Lebih baik kau temani Asley, sementara aku yang menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan ini".
"Aku janji semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin kita mampu melewati semua ini. Jadi, tenang kan dirimu, hem", ucap Oliver dengan lembut tepat di depan Olivia.
Kedua netra bening Olivia berkaca-kaca mendengar perkataan Oliver. Untuk yang pertama kalinya beban berat yang ia rasakan selama hidup bisa ia bagi dengan Oliver. Perasaannya sekarang begitu tenang dan damai.
__ADS_1
Olivia mengeratkan pelukannya sambil menganggukkan kepalanya. "Aku akan tenang, Oli. Aku akan selalu menjaga anak kita. Aku akan menunggu mu dan Asley di sini", ucap Olivia dengan bibir bergetar.
Oliver me*umat bibir yang terasa dingin itu. Keduanya berciuman dengan mesra seakan melepaskan rindu yang mendalam.
*
"Huhh..."
Ryan menghembuskan nafasnya.
"Kau sangat nekat sekali Oli. Kau baru setahun dinyatakan sembuh dari kanker otak stadium dua yang kamu derita. Walaupun kau sudah di nyatakan sembuh dan bisa mendonorkan sumsum tulang belakang mu, namun bukan berarti tidak ada resiko bagi kesehatan mu, Oli".
"Tubuh mu akan kembali sakit dalam waktu yang lama. Kau menjalani bius total yang akan membuat mu kembali merasakan sakit kepala akut seperti waktu itu", ujar Ryan memberikan penjelasan kepada Oliver yang sudah siap masuk ke ruangan khusus dan memakai pakaian khusus pula.
"Aku akan memberikan segalanya untuk Asley anakku, Ryan. Termasuk nyawaku jika diperlukan!"
"Olivia dan anak ku sudah terlalu banyak menderita karena diri ini. Sekarang saatnya aku mengambil beban berat di pundak Olivia. Aku ayah Asley. Aku tidak akan mundur. Ini ke putusan ku Ryan".
"Orang yang menjalani transplantasi sumsum tulang akan berisiko lebih besar terkena infeksi atau komplikasi lain selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah transplantasi dilakukan, Oli. Aku mengkuatirkan kondisi mu. Jika Oliv tahu keadaan mu yang sebenarnya ia pasti akan sangat sedih–"
"Kau jangan coba-coba memberi tahu Olivia, Ryan! Andai kau berada di posisi ini, tentu saja kau pun akan melakukan hal yang sama. Asley anak ku, mengerti lah. Aku tidak mau ia merasakan sakit yang lama dan berkepanjangan, aku ingin secepatnya melakukan ini agar anakku bisa kembali sehat dan normal", tegas Oliver tanpa ragu sedikitpun akan keputusan nya.
"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini Ryan. Aku sangat bahagia. Aku tidak pernah marasa sebahagia ini, bisa memeluk Olivia dan Asley bersamaan", ucap Oliver bersungguh-sungguh sepenuh hati.
Ryan tak bergeming. Namun ia tahu temannya itu memang sangat berbeda.
"Sebagai ayah, aku tidak akan membiarkan anak ku merasakan sakitnya. Asley harus sembuh dan tumbuh secara sehat. Aku tidak akan memaafkan diriku jika keadaan anak ku memburuk. Aku minta padamu lakukanlah pengobatan ini untuk kesembuhan putraku".
__ADS_1
...***...