
Setelah sampai di depan rumah mewah orang tuanya, Kirana di bantu oleh supir taksi online itu mengeluarkan kopernya.
Kirana lalu memberikan beberapa lembar uang pada supir itu sebagai tip.
" Terimakasih ya pak sudah mengantar saya." ucap Kirana.
" Iya mbak, sama-sama." ujar supir itu.
Kirana pun langsung memanggil pak Tio yang sedang menonton televisi di pos nya.
" Pak Tio !" seru Kirana.
Pak Tio pun langsung menoleh ke asal suara itu.
" Non Kirana." Gumam pak Tio sambil mengerutkan keningnya, ia lalu beranjak dari tempat duduknya, dan segera menghampiri anak majikannya itu.
Pak Tio langsung membukakan gerbang untuk Kirana.
" Ko Nyonya tidak bilang kalau Non mau pulang?" tanya Pak Tio sambil mengangkat koper Kirana.
" Ibu emang gak tau Kirana mau pulang ko Pak." jawab Kirana.
" Oh gitu, oh ya Non, tuan Rian mana?" tanya Pak Tio.
" Emm, Mas Rian masih sibuk pak, jadi tidak bisa ikut." jawab Kirana.
Pak Tio hanya menganggukkan wajahnya tanda mengerti.
Mbok Jum yang sedang menata pot tanaman, langsung menghentikan aktifitasnya kala melihat kedatangan Kirana.
" Non Kirana !" seru Mbok Jum yang kegirangan.
" Halo Mbok." sapa Kirana sambil tersenyum, tak lupa, ia pun mencium tangan Mbok Jum yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri, maklum, sewaktu kecil, Kirana lebih sering menghabiskan waktunya dengan Mbok Jum, dibanding dengan orang tuanya yang sibuk bekerja.
" Mbok apa kabar? Kirana kangen sama Mbok." tanya Kirana, sambil merangkul bahu Mbok Jum, dan mengajaknya berjalan bersamanya.
" Mbok sehat Non, Mbok juga kangen sama Non Kirana." ucap Mbok Jum.
Namun, ada yang mengganjal di fikiran Mbok Jum, saat melihat Pak Tio membawa dua koper besar, dan juga ia tidak melihat Rian pulang bersama Kirana.
Ingin sekali ia bertanya, tapi, ia tau, Kirana pasti lelah, jadi ia memutuskan untuk bertanya nanti.
Setelah sampai di depan pintu, Mbok Jum langsung membukakan pintu untuk Kirana.
" Pak, tolong langsung taro aja kopernya di kamarku ya." kata Kirana sopan.
" Baik Non." ujar Pak Tio.
" Ibu dimana Mbok?" tanya Kirana.
__ADS_1
" Nyonya sedang pergi Non, mungkin sebentar lagi pulang." ucap Mbok Jum.
" Yasudah, lebih baik, Non Kirana istirahat dulu, Non Kirana pasti lelah, Nanti kalo Nyonya sudah pulang, Nyonya pasti langsung menemui Non." kata Mbok Jum.
" Yasudah, Kirana ke kamar dulu ya Mbok." ujar Kirana.
" Perlu Mbok antar?" tanya Mbok Jum.
" Tidak usah Mbok, Kirana kan sudah besar." kata Kirana.
Mereka berdua pun tertawa renyah.
" Maaf Non, kadang Mbok lupa, kalo anak Mbok yang cantik ini sudah besar, bahkan sudah punya suami." ucap Mbok Jum.
Tawa Kirana langsung terhenti saat Mbok Jum mengatakan sudah punya suami.
" Ehm, Mbok, aku ke kamar dulu, nanti kalo Ibu sudah pulang, tolong langsung bilang Ibu ya, kalo aku pulang." ucap Kirana.
" Iya Non." ujar Mbok Jum, Kirana pun langsung pergi ke kamarnya, sementara Mbok Jum menatap kepergian Kirana dengan penuh tanda tanya.
" Apa yang sebenarnya terjadi? apa telah terjadi sesuatu dengan rumah tangga Non Kirana?" batin Mbok Jum, " semoga saja semuanya baik-baik saja," lanjutnya.
Mbok Jum pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Kirana yang sudah berada di dalam kamarnya, langsung membanting tubuhnya ke atas tempat tidur, di peluknya guling bercorak bunga itu, ia pun kembali menangis kala mengingat perkataan Mbak Jum.
Rupanya, perkataan Mbak Jum tentang pernikahan, membuat air mata Kirana kembali menetes.
Kirana lalu bangun dan melempar guling itu ke sembarang arah, ia melempar bantal, sprei dan bedcover yang sudah tertata dengan cantik pun, kini menjadi berantakan, Kirana meluapkan kekesalannya dengan mengacak-ngacak tempat tidurnya.
Tak puas ia mengacak-ngacak tempat tidur, vas bunga yang terpajang cantik di atas nakas pun menjadi sasarannya, di banting nya vas itu ke kaca, hingga membuat kaca itu retak dan hancur.
" Kamu tau mas, seperti ini hatiku sekarang, seperti kaca ini, retak dan hancur, hancur,, hik hik,," Kirana langsung terduduk lemas sambil menunduk dan menangis.
Tin tiinn,, (suara klakson mobil)
Pak Tio yang mendengar suara klakson yang tak lain adalah suara klakson dari mobil majikannya, bergegas membukakan gerbang.
Mobil mewah itu pun masuk ke halaman rumah bernuansa Eropa modern itu.
Mbok Jum yang melihat kedatangan majikannya, langsung menghampirinya.
" Pak Tio, tolong bantu Mbok Jum membawa belanjaan saya di bagasi." ucap Bu Rahma.
" Baik Nyonya." ujar Pak Tio.
Saat Bu Rahma hendak masuk, Mbok Jum memanggilnya.
" Nyonya, " panggil Mbok Jum.
__ADS_1
Bu Rahma pun menoleh.
" Iya Mbok."
" Ada Non Kirana." ucap Mbok Jum.
Bu Rahma langsung mengerutkan keningnya.
" Kirana pulang, tumben tidak mengabari dulu." batin bu Rahma.
" Yasudah, terimakasih ya Mbok." ujar bu Rahma sambil tersenyum, lalu pergi.
Dengan penuh tanda tanya, bu Rahma menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar Kirana.
Di putarnya gagang pintu kamar Kirana, dan betapa terkejutnya bu Rahma, saat melihat keadaan di dalam kamar yang sangat berantakan, dan juga Kirana yang sedang terduduk di lantai sambil menangis.
Bu Rahma segera menutupnya kembali pintunya, dan menghampiri putrinya.
" Kirana."
Kirana yang mendengar suara ibunya, langsung menoleh.
" Ibu."
Bu Rahma langsung menangkup wajah Kirana yang sudah penuh dengan air mata itu dengan kedua tangannya.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya Bu Rahma.
Kirana pun langsung memeluk ibunya.
" Mas Rian bu,, hik hik"
" Ada apa dengan Rian, katakan pada Ibu." ucap Bu Rahma sambil mengusap lembut kepala Kirana.
" Mas Rian ingin berpisah denganku bu,, hu hu hu."
Mata Bu Rahma langsung membulat, ia sungguh terkejut dengan apa yang di katakan oleh Kirana.
" Apa yang kamu katakan Kirana, itu tidak mungkin, Rian sangat mencintaimu, Rian tidak mungkin menceraikan mu." ucapnya.
" Tapi kenyataannya, Mas Rian mau menceraikan ku bu,, hik hik hik,, "
" Tapi nak, bukankah rumah tangga kalian baik-baik saja?" tanya bu Rahma sambil perlahan melepaskan pelukannya, agar bisa melihat wajah putrinya.
Kirana lalu menggeleng cepat.
Bu Rahma kembali memeluk Kirana, Kirana pun meluapkan rasa sakitnya di pelukan ibunya, ia menangis menumpahkan air mata kesedihannya.
Apa yang dirasakan oleh putrinya, ia pun ikut merasakannya.
__ADS_1
" Aku harus menanyakan kepada Rian, apa alasannya ingin menceraikan Kirana? apa karena, Kirana belum bisa memberikan anak? jika itu alasannya, aku tidak akan pernah memaafkannya." batin bu Rahma.