
"Selamat malam tuan Maxxie". Seorang waiters menyapa Max dengan sopan dan hangat.
Max membalas dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. Laki-laki itu memeluk pinggang Elara menuju meja yang sudah di pesan asisten nya Bill siang tadi.
Ela pun tersenyum pada waiters yang menyapa tersebut.
Maxxie membuka kursi untuk Ela.
"Terimakasih. Sepertinya kau sering ketempat ini ya. Semua orang-orang di sini mengenal diri mu dengan baik", ucap Elara mendekatkan bibirnya pada telinga Maxxie.
Ela tidak menyangka Max akan mengajaknya dinner di tempat yang bernuansa romantis seperti itu. Ia pikir Max mengajaknya makan malam biasa saja.
Maxxie tersenyum. "Makanan di sini sangat enak. Waktu di New York, kau yang memilih kan makanan untuk ku. Malam ini aku yang akan memilih untuk mu", ujar Maxxie. Ia mendudukkan tubuhnya di hadapan Elara.
"Aku malu kau mengajak ku makan malam di tempat seperti ini, Max. Lihatlah mereka datang dengan pasangan dan memakai gaun mahal. Sedangkan aku hanya memakai dress simpel begini. Aku tidak membawa gaun, kau tahu kita buru-buru saat pergi ke bandara", ucap Elara melihat pakaian nya sendiri.
Maxxie tersenyum mendengar perkataan Ela yang selalu berkata jujur begitu.
"Mau memakai pakaian apapun, kau selalu cantik Ela. Aku justru kagum akan kesederhanaan mu, siapa sangka kau salah satu pemilik perusahaan sebesar Lucifer. Di zaman seperti sekarang gadis seperti mu sangat langkah. Aku kagum pada mu", ucap Max sungguh-sungguh.
Meskipun sebenarnya dress yang di kenakan Ela bukanlah barang murahan, siapapun yang mengerti mode pasti mengetahui dress itu dari brand terkenal.
Sesaat keduanya diam ketika waiters mengantarkan hidangan pembuka dan menuang wine ke dalam gelas. Maxxie dan Ela langsung menikmati hidangan yang tersaji di meja sambil melihat beberapa pasangan berdansa dengan mesra bahkan ada yang berciuman.
Wajar saja seperti itu, karena restoran yang dipilih Maxxie memang restoran romantis khusus yang memiliki pasangan.
Ela juga bingung kenapa Max membawanya ke tempat seperti itu, karena mereka bukan sepasang kekasih apalagi pasangan suami-istri yang memiliki ikatan.
Bahkan untuk masuk ke sana harus memakai pakaian formal. Pengunjung pun bisa dipastikan bukan orang sembarangan.
Saat menunggu hidangan utama, tiba-tiba Maxxie mengulurkan tangannya.
"Ela, mari kita berdansa. Kau pasti mahir melakukannya. Aku yakin".
"Aku tidak pandai berdansa Max. Apalagi seperti mereka, berdansa romantis seperti itu", seru Ela menatap pasangan yang melantai di depan mereka
Namun gadis itu tidak menolak, ia menyambut uluran tangan Maxxie. Elara tersenyum mengikuti langkah Maxxie ke tengah.
__ADS_1
Lagu romantis Fall Again mengalun indah, suara merdu Glenn Lewis mengiringi pasangan yang berdansa.
Maxxie langsung memeluk tubuh Elara, begitu pun sebaliknya. Keduanya seakan terhanyut terbawa suasana romantis yang seketika tersaji.
Beberapa saat, entah siapa yang memulai, Maxxie dan Elara saling menyatukan bibirnya, saling me*umat dengan mesra seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta. Lidah keduanya saling membelit satu sama lain.
Tubuh Ela seketika dialiri hawa panas. Namun gadis itu merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya. Dadanya berdebar kencang. Perutnya pun di rasa banyak kupu-kupu berterbangan menggelitik.
Ela tersadar segera membuka matanya menatap Maxxie yang juga menatapnya dengan intens.
Jemari tangan Max mengusap lembut wajah gadis itu. "Kau sangat cantik Ela. Aku menyukaimu. Sangat menyukai mu", ucap Max dengan lembut. Laki-laki itu kembali mendekatkan wajahnya.
Keduanya masih menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik. Begitu intim. Tubuh saling bersentuhan. Tangan Maxxie memeluk pinggang Elara sementara tangan Ela melingkar di leher laki-laki itu.
"Max–"
"Hem?"
"Sepertinya sekarang perut ku benar-benar lapar", ucap Ela lirih kontras dengan wajah yang nampak menggemaskan menatap Maxxie dengan mata membulat.
"Kita nikmati Main Course sekarang", ucap Maxxie menggenggam tangan Ela menuju meja yang sudah tersaji hidangan utama.
"Aku memesan brisket yang terlezat seantero kota Texas. Semoga kau pun menyukainya".
"Tentu saja aku menyukai brisket. Daging sapi yang dimasak dengan cara diasap berjam-jam lamanya namun tetap memiliki tekstur daging yang empuk dan juicy", jawab Elara tersenyum sambil melihat penuh minat hidangan di hadapannya.
"Khusus malam ini lupakan kebiasaan mu tidak makan daging. Kau harus mencoba brisket pilihan ku ini sangat enak", ujar Max sambil menukar piring Ela dengan brisket miliknya yang sudah dipotong-potong.
"Oke tuan Maxxie, aku akan membuktikan kebenaran ucapan mu itu. Seenak apa daging lapis ini", jawab Elara singkat.
Ela menyuapkan sepotong daging kemulutnya. Gadis itu memejamkan matanya beberapa saat. "Wow...kau benar sekali Max. Brisket ini sangat lezat".
Elara menyipitkan matanya menatap Maxxie dan setengah berbisik mencondongkan tubuhnya kedepan. "Kau jangan meledek ku saat aku menghabiskan semua hidangan ini", ucapnya yang membuat Max tertawa geli.
Keduanya menikmati makan malam dalam suasana akrab dan hangat. Ela dan Max berbagi cerita tentang diri masing-masing.
*
__ADS_1
Setelah selesai dinner , Maxxie tidak langsung mengantar Ela pulang, tapi mengajak gadis itu ke taman kota. Keduanya tidak turun dari mobil, hanya menikmati pemandangan malam Terry park yang begitu indah dari dalam mobil saja.
"Apa saat ini kau masih sendiri, Ela. Adakah seorang yang spesial di hati mu?", suara Maxxie tiba-tiba menginterupsi pikiran Ela.
Ela menolehkan wajahnya menatap laki-laki itu yang sedang menatapnya juga.
"Iya ada", jawab Elara cepat dan singkat.
"Hm.. sepertinya aku kurang beruntung ya. Sebenarnya sekarang aku ingin mengakui perasaan ku pada mu, Elara".
Tiba-tiba Maxxie berkata yang membuat Ela terbatuk-batuk. Ia kaget mendengar penuturan Max.
"Sejak bertemu pertama kalinya dengan mu, di sekolah Asley kau sudah mencuri perhatian ku Ela. Apalagi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kau mampu membuat hati ku bergetar dan tidak bisa melupakan wajahmu".
Seketika tubuh Elara gemetaran dan jantung nya berdetak cepat dari biasanya mendengar pengakuan Maxxie.
"Aku sudah lama sendiri. Vivienne istri ku meninggal dunia hampir enam tahun yang lalu. Selama itu aku hidup dalam kesendirian dan kesepian".
"Lima tahun yang lalu aku bertemu dengan Olivia yang memiliki wajah mirip Vivienne. Jujur saat pertama melihatnya perasaan ku bergetar, ia mengingatkan aku pada istri ku yang selalu aku rindukan. Aku menawarkan pernikahan pada Olivia kala itu. Tapi Oliv tidak bersedia, ia memiliki perasaan mendalam pada Oliver. Apalagi ia sedang hamil anak kakakmu".
"Setelah cukup lama bersama Olivia, aku menyadari ternyata perasaan yang aku miliki untuknya bukanlah perasaan cinta sebagai pasangan. Lebih tepatnya perasaan sebagai seorang kakak pada adiknya. Aku menyayangi Olivia dan Asley seperti keluarga ku sendiri", ucap Maxxie menjelaskan semua tentang dirinya pada Elara yang mendengarnya dengan penuh perhatian.
"Siapa sangka saat Olivia minta ku menjemput anaknya di sekolah, aku malah melihat guru Asley yang sedang melatih siswanya balet. Miss Ela yang yang sangat cantik", ucap Maxxie menatap manik hitam Elara.
Elara menatap tak percaya apa yang di dengarnya nya. Gadis itu tak bergeming sedikitpun. Hingga Ela merasakan genggaman tangan Maxxie.
"Aku mencintaimu Elara. Aku pria dewasa, aku tidak akan memaksamu jika kau telah memiliki kekasih seperti yang kau bilang tadi. Tapi aku tetap ingin mengutarakan perasaan ku pada mu".
Kelopak mata Ela menggerjap. Mata indah itu melihat kesungguhan di manik hitam kelam Maxxie.
Tiba-tiba jemari lentik Ela membingkai wajah tampan laki-laki itu.
"Laki-laki spesial yang aku maksud tadi adalah kamu Max. Kau laki-laki spesial yang ada di hatiku saat ini. Sungguh aku malu menyimpan rasa sendiri. Huhh...ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, kau juga merasakan perasaan yang sama dengan ku", ucap Elara mendekatkan bibirnya. Mengecup lembut bibir Maxxie.
"Aku mencintaimu.."
...***...
__ADS_1