ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MENYATU


__ADS_3

"Huh, apa ciuman ku tidak membuatmu bergairah? Atau kau masih merindukan ciuman Vivienne istri mu?"


Maxxie mengusap lembut wajah istrinya.


Tidak butuh waktu yang lama untuk mendapatkan balasan Maxxie, bibir laki-laki itu meraup penuh bibir Elara. Keduanya berciuman dengan panas.


Terdengar deru nafas Elara yang terengah-engah. Elara dan Maxxie sudah sering berciuman namun tetap saja Ela kesulitan mengimbangi permainan Maxxie. Sampai-sampai kesulitan menghirup oksigen yang tersedia di sekitar mereka.


Elara mengelijang menggeliatkan tubuhnya saat merasakan bibir basah Maxxie berada di atas puncak dadanya. Lagi-lagi Maxxie membuat tubuh Elara mengelijang nikmat ketika laki-laki itu menghisap kuat puncak kenikmatan miliknya bergantian. Maxxie bahkan memberikan gigitan lembut di atas puncak berwarna merah muda itu.


"Oh, honey. S-akit".


Elara meringis kesakitan bercampur kenikmatan. Bibir Ela tak henti mengeluarkan suara de*ahan menahan sensasi buaian-buaian yang di berikan Maxxie di pusat-pusat sensitif tubuhnya.


Tak sampai di situ saja, laki-laki itu semakin menunjukkan pengalaman permainan panasnya di atas ranjang. Jemari tangan Maxxie mengusap perlahan inti Elara yang membuat wanita itu men*esah dan melenguh panjang meneriakkan namanya.


"Ooh M-axxie"


Malam ini untuk yang pertama kali Ela dan Max melakukan sentuhan mendalam seperti ini. Bercinta bukanlah yang pertama bagi keduanya. Namun bagi Elara seperti yang pertama kalinya.


Max benar-benar sangat pengalaman menggoda tubuh pasangan. Sentuhan Max tetap saja membuat Ela kelimpungan. Ketika jari tengah laki-laki itu menggelitik hingga kedalam lobang kenikmatan Elara.


Ela tak henti meracau menyebut nama Maxxie dengan kata-kata intim. "Oh Max. Oh sayang. Ahh honeyyy". Merintih berulangkali.


Tubuh Elara menegang dan menggeliat hebat.

__ADS_1


Max tahu, istrinya sudah mendapatkan pelepasan pertamanya. Sementara inti Elara semakin basah.


Wajah Ela merona, dengan rambut kusut masai. Wajah itu terlihat frustasi seperti sedang menahan sesuatu yang ingin meledak. Max sangat suka melihat wanitanya seperti itu, sangat seksi dan semakin memancing gairah dalam dirinya.


Perlahan Maxxie berdiri. Jemari tangannya bergerak membuka sabuk dengan gerakan lamban. Tanpa sedetikpun mengalihkan perhatian nya pada tubuh polos Ela yang menunggunya pasrah di atas tempat tidur. Tubuh indah dan terawat bak porselen itu begitu menggoda seakan menunggu tidak sabar untuk di masuki.


Elara bersusah payah menelan salivanya sendiri melihat tubuh maskulin suaminya, otot-otot menonjol dengan sempurna di detail tubuhnya. Manik coklat Elara menatap tangan Max yang sangat lambat bergerak sehingga membuat Ela duduk di tepi tempat tidur dan mengambil alih pekerjaan laki-laki itu.


Seketika celana panjang berwarna putih itu teronggok di lantai. Lagi-lagi Ela berusaha kuat menelan salivanya saat melihat boxer hitam milik Maxxie sudah nampak menggelembung seperti ada ular yang meringkuk di dalamnya. Jemari Ela kooperatif bekerja, ia menurunkan kain terakhir yang menutupi pusat tubuh suaminya.


"Owh..."


Elara terpekik menutupi mulutnya dengan jemari tangannya, saat melihat milik Maxxie berukuran besar menonjolkan urat-urat tepat di hadapannya. Ela terus mengigit bibir bawahnya. Sementara jemari-jemari tangan Maxxie mengusap-usap lembut dada Ela yang berdiri menantang.


Max menundukkan kepalanya kembali memangut bibir dan turun kebawah mengulum gundukan kenyal yang begitu menggodanya bergantian. Maxxie menatap wajah istrinya yang sudah merah merona.


Sontak perbuatan Ela membuat laki-laki itu mengeram hebat sambil mengenadahkan kepalanya keatas. "Ah Ela, sangat nikmat. Terus sayang".


Maxxie mendorong tubuh Elara hingga terlentang. Menarik kedua paha Elara, menekuk tepat diujung tempat tidur. Maxxie hendak memasuki istrinya dengan posisi berdiri.


"Pelan-pelan sayang. Sejak itu, aku tidak pernah melakukan dengan siapapun", lirih Ela sambil memejamkan matanya siap menerima hujaman benda tumpul berukuran besar di pusat tubuhnya.


"Tenanglah, aku akan melakukannya dengan pelan-pelan", jawab Max mengarahkan miliknya ke inti Elara. "Milik mu sangat sempit. Ah shitt sulit sekali".


Elara membelalakkan matanya merasakan sakit teramat sangat pada pusat tubuhnya. "Ah, S-akit...Akh"

__ADS_1


Max tidak akan menyia-nyiakan malam pertama mereka. Pokoknya malam ini juga harus berhasil. Laki-laki itu memberi hentakan kuat hingga menerobos masuk. Bertepatan terdengar pekik dari mulut Elara.


Maxxie mendiamkan tubuhnya sesaat sembari menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan Elara. Pinggulnya bergerak perlahan-lahan kemudian menambah kecepatan.


De*ahan dan erangan memenuhi kamar mewah tempat malam pertama mereka. Kamar yang menjadi saksi bisu pergumulan panas Elara dan Maxxie.


"Ah ..Ah...Oh Max, kau sangat kuat. Aku mencintaimu sayang", racau Elara di sela-sela pertarungan liar saat merasakan miliknya berkedut tak karuan.


Sesaat Max menghentikan hentakannya. Ia merubah posisi, terlentang dan mengangkat tubuh Ela ke atas tubuhnya. "Bergerak lah sayang, tujukan permainan liar mu aku sangat menyukainya", ucap Max terdengar serak karena di liput hasrat yang kian membuncah.


Ela menuruti permintaan suaminya. Ia menggerakkan pinggulnya perlahan, meliuk-liuk kan tubuhnya. Gerakan begitu seksi. Tak henti Max memujinya. Sementara tangannya meremas kuat-kuat dada pada berisi dan menantang itu. Sesekali Max mengangkat wajahnya menghisap kuat-kuat puncaknya.


Hingga keduanya mencapai klimakss permainan. Maxxie mengeram saat merasakan inti Elara menghisap milik nya. Sementara Ela men*esah tak karuan. lagi-lagi intinya berkedut menjepit kuat milik Maxxie. Ia merasakan milik Maxxie meledak di dalamnya, menyemburkan cairan hangat.


"Ahh .. Elara, kau sangat nikmat sayang".


Keduanya terlentang dengan tubuh terkulai lemah. Sama-sama berusaha mengatur nafas yang tersengal-sengal. Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya.


"Oh Ela, kau sangat candu sayang", ucap Max tanpa menatap istrinya.


Sesaat keduanya terdiam hanya terdengar helaan nafas terengah-engah saja yang masih terdengar.


Maxxie memberikan dekapan hangat pada Elara. "Tidurlah, kau pasti lelah".


"Apa kau tidak kelelahan juga".

__ADS_1


"Aku lelah, kau membuat ku kelelahan begini dan harus bertanggungjawab malam ini juga. Karena aku masih menginginkan nya lagi.."


...***...


__ADS_2