
Sesampainya di rumah, Hendra langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, tapi sebelum itu, ia berbicara dulu dengan Rahma istrinya.
"Rahma, bagaimana Kirana? apa dia baik-baik saja?"tanya Hendra.
"Kirana baik-baik saja, dia malah terlihat bahagia."Jawab Rahma sambil tersenyum.
"Syukurlah, aku takut Kirana akan terguncang dengan kehamilannya, karna statusnya yang sudah bercerai."ujar Hendra.
"Awalnya aku juga berpikir begitu, dan aku juga tau, dia pasti berpikir demikian, tapi, Kirana bisa mengendalikan emosinya untuk tidak memikirkan hal itu."ucap Rahma.
"Rahma, aku takut, jika Rian mengetahui kehamilan Kirana, dia akan mengajak Kirana Rujuk, aku tidak ingin itu terjadi, cukup satu kali putriku di sakiti. Jadi aku memutuskan untuk melarang Kirana pergi ke Restoran lagi."ucap Hendra.
"Kau benar, aku juga tidak sudi jika sampai Rian mengajak Kirana rujuk."ujar Rahma menimpali.
"Kalau begitu, bicaralah padanya, aku mau mandi dulu."ucap Hendra, Rahma pun mengangguk.
Kirana yang sedang merapikan tempat tidurnya, langsung menghentikan pekerjaannya ketika mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok !
"Sayang, boleh ibu masuk !" seru Rahma dari luar, Kirana bergegas membuka pintunya.
Ceklek !
"Masuk Bu."ujar Kirana.
Rahma lalu duduk di atas Sofa.
"Kemarilah, ibu ingin bicara denganmu." ucapnya sambil menepuk bantalan Sofa dengan telapak tangannya.
Kirana pun Duduk disamping ibunya.
"Ada apa bu?" tanya Kirana.
"Kirana, apa kau mau memenuhi permintaan ibu?"tanya Rahma menatap lekat kedua mata putri kesayangannya itu.
"Apa itu bu?"tanya Kirana dengan mengerutkan dahinya.
"Jangan pergi lagi ke Restoran."ucap Rahma tegas namun terdengar lembut.
"Kenapa Bu?"tanya Kirana yang bingung dengan keputusan ibunya yang tiba-tiba itu.
"Ibu tidak ingin kalau kau sampai bertemu dengan Rian, apalagi kalau sampai Rian tau kau sedang mengandung anaknya."kata Rahma.
__ADS_1
"Tapi bu, jarak Resto dan rumah mas Rian itu cukup jauh."ujar Kirana.
"Tapi tidak dengan kantornya Kirana."ucap Rahma.
Kirana langsung tertunduk lesu.
"Nanti biar ibu yang mengurus Resto mu."
"Ibu tapi aku.."Belum selesai Kirana Bicara, sudah di hentikan oleh Rahma.
"Cukup, ibu tidak mau mendengar alasan lagi, lagipula wanita hamil tidak boleh terlalu lelah, jadi ibu tidak akan membiarkanmu bekerja, ibu tidak ingin terjadi sesuatu dengan cucu ibu." ucap Rahma tegas tak ingin di bantah lagi.
Dengan terpaksa, Kirana pun menuruti perintah ibunya.
"Baiklah, jika itu kemauan ibu."ucap Kirana.
"Kirana, Ibu dan Ayah melarangmu pergi, semata-mata karna kami sangat menyayangimu, saat kau tersakiti, maka kami juga merasakan sakit yang kau rasakan. Kau mengerti?" Ucap bu Rahma lembut.
Kirana langsung memeluk ibunya, ia merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang sudah melahirkannya itu, hingga bulir bening pun ikut terjatuh dari sudut matanya.
"Kirana sayang Ibu." Ucapnya lirih.
"Ibu tau." Ujar Rahma lalu tersenyum.
Rahma lalu melepas pelukannya dan mengusap air mata putrinya dengan ibu jarinya.
Hendra yang melihat Istri dan anaknya saling melempar senyum, merasa bahagia, itu tandanya Kirana tidak keberatan dengan keinginannya.
"Sini sayang, duduk di dekat Ayah." Ucap Hendra sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Kirana menuruti Hendra untuk duduk di kursi di sebelah Ayahnya itu. Setelah Kirana duduk, Hendra pun mencium kening Kirana lalu tersenyum.
"Terimakasih, karna kau akan memberikan Ayah Cucu. Ayah harap, kau menjaga Cucu Ayah dengan baik, jadi, jangan melakukan pekerjaan yang berat, perbanyaklah istirahat." kata Hendra, lalu tersenyum sambil mengusap kepala Kirana yang tertutup hijab.
"Insyaallah Ayah, Kirana akan selalu menjaga calon cucu Ayah dengan baik."ujar Kirana.
"Apa? Non Kirana sedang hamil?" Tanya Mbok Jum yang datang membawa semangkuk sup.
"Iya Mbok, sebentar lagi, akan ada suara anak kecil disini."Ucap Rahma.
Mbok Jum sontak langsung memeluk Kirana, ia lalu menangis.
"Mbok kenapa nangis?" tanya Kirana heran.
__ADS_1
"Mbok menangis bahagia Non, karna sebentar lagi, Mbok akan punya cucu." Ujar Mbok Jum, lalu melepas pelukannya.
Mbok bahagia, karna mimpi Non untuk jadi seorang ibu akan terwujud, tapi Mbok juga sedih, saat mimpi Non akan terwujud, Non sudah tidak bersama dengan orang yang menjadi alasan Non Kirana ingin menjadi seorang ibu. Mbok Jum.
"Yaudah, Non makan yang banyak ya, Mbok udah buatin sup kesukaan Non Kirana." ujar Mbok Jum sambil tersenyum, lalu menyendokkan sup kedalam mangkuk kecil untuk Kirana.
"Makasih Mbok." Ucap Kirana tersenyum.
"Sama-sama Non, Mbok lanjutin pekerjaan Mbok dulu ya." ucap Mbok Jum.
"Mbok gak ikut makan?" tanya Kirana.
"Nggak Non, pekerjaan Mbok belum selesai."
"Besok aja lanjutinnya, sekarang Mbok duduk dan makan bersama kami."ujar Kirana.
"Iya Mbok, lanjut besok aja." Rahma menimpali.
Mbok Jum pun akhirnya duduk dan ikut makan bersama mereka.
Malam itu, jalanan tampak sepi, hingga beberapa pengendara memacu kendaraan mereka dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tapi tidak dengan Dimas, ia lebih memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang standar.
Di tengah perjalanan yang cukup sepi dan minim penerangan, ia dikejutkan dengan seorang Wanita yang tiba-tiba menghalangi jalannya, hingga hampir saja ia menabrak wanita itu.
Setelah mobilnya berhenti, wanita itu mengetuk kaca mobilnya dengan ketukan yang cepat, sambil sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dimas langsung menurunkan kaca mobilnya, kini ia bisa melihat jelas Wanita itu. Wajah yang penuh air mata, terlihat juga beberapa luka lebam di wajahnya, Wanita itu terlihat ketakutan.
"Kenapa kau menghalangi jalanku?" Tanya Dimas dengan mengerutkan dahinya.
"Tuan, tolong aku, tolong bawa aku dari sini." si Wanita memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya sambil menangis.
Wanita itu lalu menoleh ke kanan, dan dengan panik, ia meminta Dimas untuk membukakan pintu mobil.
"Tuan, tolong buka pintunya, mereka datang, kumohon Tuan."
Dimas tentu tidak langsung percaya, ia lalu melihat kaca spionnya, dan memang ada dua orang Pria yang sedang berlari ke arah wanita itu. Tanpa pikir lagi, Dimas langsung membuka kunci pintu mobilnya.
"Masuklah !" Ujar Dimas, Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Dimas.
"Cepat jalan Tuan." kata Wanita itu masih dengan kepanikannya.
Tanpa bertanya lagi, Dimas langsung melajukan kendaraannya.
__ADS_1
Setelah mobilnya meninggalkan tempat itu, dan jauh dari kedua Pria itu, si Wanita terlihat sedikit tenang, namun tanganya terlihat masih gemetar.
"Sedang apa malam-malam kau di tempat sepi? dan siapa mereka?" Tanya Dimas tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.