
Malam harinya Max menepati janji untuk mengajak Ela menonton pertunjukan balet kelas dunia. Di mana penggemar balet dari penjuru dunia jauh-jauh hari telah memesan tiket dan datang memenuhi gedung berkapasitas besar tersebut.
Elara begitu antusias melihat balerina dan ballerino melakukan gerakan tari yang begitu memukau para penonton.
Elara seperti terhipnotis, bahkan jari kakinya ikut tertekuk dengan sendirinya mengikuti irama musik yang membahana di ruangan berkapasitas besar itu.
Elara semakin terkesima melihat balerina melakukan gerakan Fuentes, berputar-putar sebanyak tiga puluh dua kali. Dimulai dengan gerakan lambat, semi kemudian semakin cepat. "Oh my god, gerakan mereka begitu sempurna sekali", ucap Elara terkagum- kagum.
Meskipun ia sendiri adalah seorang balerina juga namun untuk pagelaran semegah malam ini, Ela belum pernah ikut bagian.
Apalagi jenis balet klasik yang di tampilkan malam ini, bukan saja hanya sekedar menggerakkan tubuh saja, tapi juga berakting dengan alur cerita. Layaknya sebuah opera. Begitu indah dan romantis. Sungguh spektakuler.
Wajah Ela serius menikmati tiap part-part yang di tampilkan di atas panggung megah dengan ornament klasik yang menghiasi sisi-sisinya.
Maxxie pun sebenarnya cukup menikmati pertunjukan itu, namun ia lebih tertarik memperhatikan istrinya yang nampak larut dan begitu menghayati gerakan balerina-ballerino yang berpasangan di atas panggung.
"Kau pasti bisa melakukannya. Apa istimewanya mereka bagi mu. Kau sangat menghayati", bisik Maxxie menggoda Elara.
"Hushh. Jangan berisik. Saat menonton pertunjukan seperti ini sebaiknya kita diam. Suara mu bisa mengganggu penonton lainnya", balas Elara pelan.
"Biarkan saja. Suami mu tidak merugikan orang lain". Maxxie semakin menggoda Elara dengan mencuri ciuman istrinya.
"Maxxie, hentikan! Aku tidak bisa fokus menikmati pertunjukan nya kalau kau terus mengganggu ku", seru Elara dengan suara cukup kuat sehingga membuat orang-orang di sekitarnya melihat ke arah Ela dengan wajah kesal.
__ADS_1
Max menatap orang-orang itu dengan wajah tanpa dosa.
"Iya dia. Wanita ini berisik sekali. Ia terus menggodaku", selorohnya memasang muka serius seolah-olah Ela yang membuat rusuh.
Ela melototkan kedua matanya menatap Maxxie, berbarengan dengan lampu teater yang sudah menyala menandakan pagelaran balet telah usai.
Belum usai kaget Ela, tiba-tiba...
"Dasar kau ja*ang murahan!!", ketus seorang wanita paruh baya bertubuh besar dengan wajah tidak bersahabat mengumpati Elara.
Ela benar-benar terkejut mendengar umpatan wanita yang telah berlalu tersebut.
"Maxxie!!! Kau ini brengsek sekali. Lihatlah wanita tadi mengatai ku ja*ang murahan. Apa kau mau memiliki istri seperti itu! Hughh", seru Ela sembari menghentakkan kakinya dengan kesal. Wajah cantik di tekuk.
Maxxie menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian tertawa terbahak-bahak, membuat emosi Elara ingin meledak saat itu juga.
"Maxxie! Tidak lucu! Apa yang kau tertawakan seperti itu? Kau seperti badut!", ketus Ela kesal.
Max terdiam mendengar seruan istrinya. "Maafkan aku sayang. Ya sudah sekarang aku siap menerima hukuman mu", godanya.
"Kamu itu menyebalkan sekali. Rasakan ini!". Elara mencubit perut rata suaminya.
"Aw. Kau menyakiti suami mu, sayang", ujar Max meringis kesakitan tapi Ela tahu laki-laki itu hanya pura-pura saja.
__ADS_1
"Uhh. Menyebalkan!"
Elara menghentakkan kakinya melangkah dengan cepat bahkan meninggalkan Max di belakang. Menit berikutnya ia nampak kebingungan sendiri mau kemana. Ela celingak-celinguk. Ia berjalan di antara orang-orang yang tidak di kenal nya sama sekali.
Akhirnya Ela berdiam diri di tempatnya. Menunggu suaminya.
Sementara Maxxie melihat istrinya yang tampak kebingungan mencari jalan keluar. Max sengaja memperlambat jalannya. Lagi-lagi ia ingin menggoda istrinya. Max tahu Elara sudah melihatnya dan segera menghampiri nya.
Tanpa amarah, Ela langsung memeluk tubuh Maxxie. "Aku takut tersesat dan terpisah dari mu. Aku tidak mau sendirian, aku tidak mengenal siapa-siapa di sini", ucap Elara sambil mendongakkan wajahnya menatap Maxxie.
Keduanya masih di dalam gedung Vienna State Opera yang sangat luas. Saking luasnya bangunan bisa menyebabkan pengunjung yang baru pertama kali datang tersesat di dalam sana.
Maxxie membingkai wajah Elara. "Kau tidak perlu takut tersesat ataupun terpisah dari ku. Lihatlah orang-orang itu. Mereka orang-orang ku yang akan menjaga kita selama berada di kota ini", ucap Maxxie menunjuk setiap sisi gedung. Nampak empat pria berdiri masing-masing di sisi ruangan memakai jas lengkap layaknya pengunjung yang sengaja membeli tiket untuk menikmati pertunjukan balet malam ini. Siapapun tidak akan menyangka mereka adalah bodyguard.
Sudah beberapa jam terlewati. Elara dan Maxxie keluar dari gedung pagelaran balet. Maxxie menggenggam erat jemari tangan istrinya ketika melangkah keluar gedung.
"Apa kau sudah lelah dan ingin kembali ke hotel sekarang, hem? Hotel tempat kita menginap tidak terlalu jauh dari sini–"
"Sayang lihat itu.."
...***...
To be continue
__ADS_1