
"Mommy, apa aku boleh memesan makan sekarang?". Pertanyaan polos Asley membuat kedua orang tuanya tertawa.
"Tentu saja sayang", jawab Oliver yang duduk di samping putranya itu memberikan isyarat pada pelayan restoran jepang mengantarkan makanan yang di inginkan putranya.
"Uh, sayang mom selalu saja kelaparan walaupun sebelum pergi tadi sudah makan", ucap Olivia mencubit pipi berisi Asley yang semakin menggemaskan saja.
"Mommy, aku harus banyak makan agar cepat besar dan bisa menjaga adik ku nanti".
Olivia tersenyum mendengar jawaban Asley begitu juga Oliver. Keduanya senang melihat anak kesayangan mereka semakin sehat bahkan sekarang Asley makannya sangat lahap tidak pernah merasa mual lagi ketika makan. Asley sudah di nyatakan sembuh dari sakitnya beberapa bulan yang lalu.
"Ya anak pintar. Daddy setuju dengan mu. Kau memang harus kuat agar bisa menjaga kedua adikmu kelak".
Oliver dan Olivia memeluk Asley bersamaan, sembari mengecup pipi anak itu.
"Apa kami sudah melewatkan sesuatu?"
Asley menolehkan kepalanya. "Aunty Ela... daddy Max", teriak Asley antusias sambil berlari memeluk Elara dan Maxxie.
"Kenapa aunty dan daddy lama sekali, aku sudah kelaparan", ucap Asley mengusap perut gendut nya dengan mimik wajah lucu.
Maxxie langsung mengangkat tubuh Asley mendekapnya erat dan mengecup wajah berisi Asley. Sedari dulu anak itu begitu di sayanginya layaknya anaknya sendiri.
"Ternyata tubuh mu semakin bertambah berat saja, kau juga semakin tinggi tampan".
"Karena aku makan yang banyak, daddy. Kata mommy dan bibi Hillary kalau aku makan yang bergizi tidak akan di hinggapi penyakit lagi".
Jawaban Asley membuat Olivia dan Oliver tersenyum. Oliver yang tak henti mengusap lembut perut istrinya yang kian membesar, mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi Olivia.
"Wah keponakan aunty ternyata bertambah pintar ya", ucap Elara duduk menyusul suaminya dan Asley.
Malam ini Ela dan Max yang baru saja mendarat setelah kembali dari New York langsung menunju restoran jepang, menghadiri ajakan kakaknya dinner bersama. Tentu saja Elara dan Maxxie tidak akan melewatkan nya. Setelah pernikahan, ini pertama kalinya makan malam bersama Oliver dan Olivia serta Asley.
Elara memutuskan menetap di Houston bersama suaminya. Terlebih Maxxie ternyata telah mendirikan studio ballerina untuk Ela sebagai kado pernikahan mereka. Ela juga menuruti keinginan Oliver untuk datang ke perusahan Lucifer warisan orang tua mereka.
__ADS_1
Tentu saja Elara begitu bahagia karena Ia bukan sekedar menikah dengan laki-laki yang sering mengucapkan kata-kata manis di bibir saja namun Max sungguh mencintai dengan tulus dan perhatian padanya. Bahkan acap kali memberikan kejutan untuk nya dalam bentuk apapun itu.
"Aku sengaja memilih restoran jepang, karena istri ku sedang menginginkan cita rasanya. Apa nama sakit mu itu sayang?", ucap Oliver sambil menyuapkan sushi ke dalam mulutnya. Ia sangat lahap memakannya.
"Mengidam. Oli, sudah berapa kali aku memberi tahu mu, mengidam itu bukan penyakit sayang, itu hal biasa di alami wanita hamil", jawab Olivia sambil mengusap lengan Oliver yang duduk di sampingnya. "Dan aku tidak mengharuskan makan malam di restoran jepang, justru kamu yang mengajak ku ke sini kan?", bantah Olivia setengah tertawa.
"Pantas saja, karena yang aku tahu kakak tidak pernah menyukai makanan jepang seperti ini. Tapi kenapa sekarang justru menyukainya? Jangan-jangan kakak yang sedang mengidam", seloroh Elara merasa ada yang aneh dengan Oliver dengan lahap menghabiskan makanannya.
"Ela benar sayang, apa kau mengidam sekarang? Bahkan kau selalu meminta Javier membeli sushi untuk mu", tanya Olivia sambil menahan tawa melihat suaminya.
Oliver menggaruk kepalanya nampak bingung sendiri.
"Ceritanya, istri mu yang mengandung tapi kau yang merasakan hamilnya Oli. Bagaimana rasanya? Aku juga ingin merasakannya?".
"Entah lah tiba-tiba saja aku sangat menyukai makanan ini. Tiba-tiba aku tidak menyukai makanan di rumah, aku juga bingung kenapa", jawab Oliver mengangkat satu bahunya.
Olivia tersenyum mendengar nya. "Saat aku hamil Asley, aku menahan diri agar tidak manja dengan keinginan yang aku rasakan. Sekarang aku sangat bahagia karena ada kau di samping ku, sayang".
Olivia tersenyum dan bergelayut manja pada lengan Oliver yang mengecup lembut wajahnya.
"Daddy...ada untuk kalian", ucap Oliver menundukkan kepalanya mencium perut istrinya sambil mengusapnya dengan penuh perasaan.
Ucapan Oliver mampu membuat Olivia terharu mendengarnya. Ia mengusap lembut punggung Oliver. Sementara Maxxie menggenggam tangan Elara dan saling bertukar pandang. Ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Olivia dan Oliver.
"Kalian sangat bahagia. Aku dan Elara ingin juga seperti kalian. Segera memiliki momongan. Iya kan sayang?"
Elara menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Tentu saja", jawab Ela sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Maxxie.
"Aku senang melihat kebahagiaan kalian. Aku dan Olivia selalu mendoakan semoga kalian cepat mendapatkan keturunan, Max. Orang tua kita pasti sangat senang melihat dua anak mereka sekarang sudah menemukan kebahagiaan. Apalagi bertambah anggota baru yaitu cucu-cucu mereka", ucap Oliver tersenyum.
Oliver sangat senang melihat adiknya sungguh menemukan kebahagiaan nya bersama Maxxie. Begitu nampak rona bahagia itu di wajah Elara.
Hari kian beranjak malam. Oliver-Olivia dan Maxxie-Elara saling berpamitan pulang, berpelukan hangat kemudian menuju mobil masing-masing.
__ADS_1
Maxxie dan Elara melambaikan tangan ketika mobil yang di kendarai sendiri oleh Oliver melintas meninggalkan restoran.
Selanjutnya Max mengajak Ela masuk mobilnya, duduk di bangku belakang. Mobil yang di kendarai sopir melaju dengan kecepatan sedang membelah gelapnya malam kota Houston.
Setengah perjalanan terlihat Max menutup sekat agar memiliki privasi sendiri. Ia mengambil sesuatu di dalam box yang ada di sebelah tempat duduknya.
"Aku memiliki sesuatu untukmu, Elara", ucapnya.
Elara yang sedang melihat keluar jendela mengalihkan perhatian menatap suaminya.
"Sayang apa ini?".
"Bukalah".
Elara membuka amplop berwarna putih yang diberikan suaminya.
"Sayang...kau mengajak ku honeymoon?", teriak Ela kaget. Kedua matanya berkaca-kaca menatap tiket pertunjukan balet terhebat di dunia.
"Lusa kita akan ke Wina, Austria. Lebih tepatnya perjalanan bulan madu yang tertunda. Aku sengaja menunda bulan madu kita, menunggu pagelaran balet spektakuler itu", ucap Maxxie menatap lekat wajah istrinya. "Apa kau menyukai nya?".
Tidak ada jawaban apapun dari bibir Elara. Namun ia langsung memeluk erat tubuh Maxxie, mencium rahang laki-laki itu.
"Kau benar-benar membuat ku terharu kali ini, sayang. Bagaimana bisa kau merencanakan bulan madu seperti ini. Tentu saja aku sangat sangat suka sayang", jawab Elara tersenyum bahagia.
"Menyaksikan pertunjukan balet di Vienna State Opera adalah impian semua balerina. Meskipun dikenal sebagai rumah Mozart dan Beethoven, Wina juga merupakan pusat balet terbaik dunia. Sejak dulu aku memimpikan melihat langsung pertunjukan balet di sana, bahkan aku berharap bisa melakukan pertunjukan ku di sana. Aku sudah melihat pertunjukan terbaik lainnya, di Paris, Milan bahkan Moskow namun aku belum pernah menyaksikan langsung pertunjukan di Wina", seru Elara dengan antusias.
Maxxie tersenyum melihat istri begitu senang seperti itu. "Kalau begitu aku tidak salah memilih tujuan bulan madu kita".
"Tentu saja sayang. Terimakasih karena kau mewujudkan impian lama ku", ucap Elara sembari melingkarkan kedua tangannya pada leher Maxxie.
Keduanya bertatapan mesra.
"Tunjukkan terimakasih itu saat kita sampai di rumah nanti. Aku ingin kau mengucapkan terimakasih yang sebenarnya", bisik Maxxie di telinga Ela terdengar serak membuat Elara merasakan gelenyar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Apalagi saat ini Maxxie me*umat bibirnya dengan penuh gairah. Keduanya berciuman panas liar di kursi belakang tanpa di ketahui sopir Maxxie karena sekat pembatas sudah tertutup rapat.
...***...