ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
TO THE POINTS


__ADS_3

Mobil Max melewati gerbang utama yang tinggi menjulang dengan ukiran-ukiran unik. Ia mengantar Elara pulang ke mansion mewah Oliver yang berada di pusat kota Houston. Sekarang sudah pukul sepuluh malam lewat. Max menghentikan mobilnya tepat di depan mansion berarsitektur American classic bernuansa off white tersebut.


"Terimakasih sudah mengantar ku pulang, Max", ucap Elara menatap Maxxie yang berada di balik kemudi. "Apa kau mau masuk ke dalam?", tanya Ela absurd.


Max menatap gadis itu dengan intens. Ela mengerjapkan kelopak matanya.


"Jangan salah paham. Aku menawarkan segelas kopi untuk mu, karena sudah membantu ku. Kau sudah mengabari ku apa yang terjadi pada keluarga ku. Kau juga memberikan tumpangan pesawat padaku kemarin. Kau juga menemani ku dan Asley semalam. Aku–"


"Aku senang melakukannya Ela, jangan merasa tidak enak. Asley sudah aku anggap anakku sendiri. Aku sangat menyayangi anak itu".


Elara membuang nafasnya. Gadis itu menundukkan kepalanya. "Iya, aku tahu. Kau melakukannya untuk keponakan ku, karena kau menyayangi nya", jawab Ela pelan.


"Baiklah aku turun sekarang–"


"Aku terima tawaran mu. Tapi tidak di sini. Besok temani aku makan siang. Aku akan menjemputmu", ujar Maxxie menatap lekat wajah cantik Elara.


"Tapi besok aku harus ke rumah sakit membantu Olivia menjaga Asley, Max. Aku tidak tega melihat Oliv merawat kakakku dan keponakan ku sendirian. Oliver mana mau jika di rawat orang lain. Pasti ia mau Olivia yang merawatnya".


"Kalau begitu aku akan ke rumah sakit setelah pulang dari kantor".


Elara berpikir sejenak. Kemudian senyum manis menghiasi wajahnya. "Iya, aku akan menunggu mu di sana", ucap Elara. "Kau yakin sekarang tidak mau segelas kopi?"


"Iya aku yakin. Kalau aku terima tawaran mu, sudah dipastikan aku tidak akan bisa memejamkan mata malam ini Ela".


Ela tersenyum. "Karena aku tidak yakin di rumah kakakku ada yang pilihan lainnya, makanya aku menawari mu kopi. Oliver pecandu minuman berkafein itu".


"Aku turun sekarang Max, sampai jumpa besok. Sekarang sudah malam, kamu hati-hati menyetir mobilnya". Ela menatap Maxxie sambil tersenyum manis. Kemudian melambaikan tangannya kearah Max sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion.


Max menatap punggung gadis itu hingga hilang dari pandangan matanya. Max menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


"Sepertinya aku menyukai gadis itu. Dia tampak polos dan baik", gumam Max kembali melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kediaman Oliver dengan perasaan sulit diartikan. Namun rona bahagia nampak jelas di wajah tampan itu.

__ADS_1


*


Keesokan harinya..


"Mommy, kapan kita kembali ke New York? Aku merindukan teman-teman ku, mommy. Apa jika aku seperti ini terus, aku tidak akan bertemu dengan temanku lagi?", tanya Asley polos.


Olivia mengusap lembut wajah Asley. "Asley harus sehat dulu. Lebih enak saat bertemu teman mu, kau sudah sembuh. Sayang mom tidak perlu berada di atas tempat tidur seperti ini lagi", jawab Olivia tersenyum. Ia tahu anaknya itu sudah merasa jenuh hanya berada di atas tempat tidur saja sepanjang hari. Olivia dan Elara selalu ada bersamanya.


"Mommy mu benar sayang. Asley harus sembuh ya. Agar bisa sekolah lagi dan bertemu teman-teman mu".


Ela memberikan piring yang berisi buah segar pada Olivia untuk Asley.


"Ela...kenapa kau dari tadi melihat jam tangan mu? Apa kau ada janji dengan seseorang?"


Elara melihat kearah pintu ruangan di mana Oliver dan asisten nya berbicara saat ini.


Olivia mengikuti pandangan mata Ela sambil mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Ya ampun Ela kenapa kau menolaknya sayang. Aku baik-baik saja. Kau jangan kuatir. Lagi pula yang aku rawat ini bukan pasien kritis yang membutuhkan perhatian khusus, Ela. Kau lihat sediri kan, kakak mu sudah bisa bekerja bersama Javier di ruang sebelah. Asley juga baik-baik saja", ucap Olivia setengah berseru.


"Oliv...aku mohon jangan bilang apa-apa pada kakak ku. Aku tidak mau Oliver salah paham–"


"Apa maksudmu Ela? Apa yang tidak boleh aku ketahui, huh?"


Elara melebarkan kedua matanya menatap sang kakak yang sudah berada di antara mereka. Gadis itu kaget.


"Katakan sekarang, apa yang aku tidak boleh tahu!"


"Sayang, kau jangan ketus begitu pada Ela bagaimana adikmu mau bercerita kalau kau seperti itu", ujar Olivia menenangkan Oliver yang menatap tajam Elara.


"Aku tidak mau gadis ini membohongi ku lagi seperti dulu. Seperti saat ayah kami memasukkan nya ke asrama".

__ADS_1


"Elara hanya kau saudara yang aku miliki. Jadi biarkan aku menjaga mu. Kau selalu saja berdiri di kaki mu sendiri seakan-akan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Kau menunjukkan bahwa diri mu bisa melangkah tanpa bantuan orang lain. Sekuat apapun diri mu kau tetap seorang wanita. Aku hanya tidak mau kau kenapa-napa Ela. Jadi bicara lah terus terang padaku mulai sekarang jangan ada rahasia di antara kita, hem".


"Cukup dulu saja kau, kau bohong pada ku. Aku tidak mau adik ku satu-satunya merasa sakit sendirian dan memendam rasa pedih sendirian karena kau masih memiliki aku, kakak mu", ucap Oliver menekankan.


Elara tidak bisa menutupi rasa haru atas perkataan Oliver. Ia tahu sebagai kakak Oliver selalu ingin melindungi dirinya dari siapapun termasuk ayah mereka yang selalu memaksakan kehendaknya.


Ela memeluk erat tubuh Oliver yang sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan siapapun. "Maafkan aku kak. Aku tahu kau selalu memperhatikan aku. Aku menyayangimu".


Oliver membuang nafasnya. Jemari tangannya mengusap lembut punggung Ela. "Kau semakin dewasa. Usia mu semakin bertambah, sudah seharusnya ada laki-laki yang menjaga mu, Ela–"


Ceklek...


Semua mata melihat kearah pintu. "Sorry, aku lupa mengetuk pintu. Sepertinya kalian sedang diskusi keluarga".


"Max, masuklah. Apa kau membesuk ku dan Asley?", tanya Oliver mengendurkan pelukannya pada Elara.


"Iya. Hem...tapi sebenarnya aku menjemput Ela. Aku mengajaknya makan malam , Oli. Semoga kau tidak keberatan", jawab Max berterus-terang.


Olivia tersenyum mendengar Maxxie bicara apa adanya seperti itu di hadapan Oliver. Sementara Ela tidak bisa menutupi wajahnya yang memerah. Ela terlihat gugup.


Oliver menatap adiknya itu. "Apa ini yang tidak boleh aku ketahui, Ela? Kau mau menutupi dari ku?".


Oliver menuntut penjelasan adiknya yang berdiri di depannya menatap Maxxie.


"Tentu saja aku tidak keberatan, Max. Asalkan Ela memang menginginkannya. Yang terpenting bagi ku kau serius dengan adik ku, aku tidak akan melarang nya". Ucap Oliver to the points.


Elara tak bergeming dari tempatnya, kata-kata Oliver seakan menggambarkan bahwa ia dan Maxxie sudah pernah membicarakan nya saja.


"Kak..apa maksudmu?", seru Elara melototkan matanya. Ia sangat malu pada Max. Bagaimana bisa Oliver bicara langsung seperti itu sedangkan ia dan Max tidak memiliki hubungan apapun. Ya walaupun sebenarnya Elara sendiri tidak bisa menampik perasaannya. Ia menyukai Maxxie. Apalagi laki-laki itu selalu baik dan perhatian pada nya. Wanita manapun pasti menginginkan laki-laki seperti Max. Termasuk dirinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2