
Max merapikan rambutnya yang masih nampak lembab di depan cermin. Sementara netra hitam miliknya tak henti menatap pantulan cermin yang menampakkan pemandangan indah di hadapannya.
Istrinya masih tertidur pulas. Tubuh polosnya tersingkap dari selimut tebal yang menutupi tubuh seksi itu. Max tersenyum sembari menatap tak berkedip keadaan Elara.
Bayangan permainan liar semalaman dengan Elara masih begitu di rasakan Maxxie. Ia tahu telah membuat Ela begitu kelelahan.
Max menghampiri istrinya dan duduk di tepi tempat tidur, membetulkan posisi selimut dan mengecup lembut kening Ela yang masih terlelap.
Merasakan ada yang menyentuhnya, tubuh Ela bergerak. Kedua netra Elara mengerjap ketika sinar matahari pagi menyentuh wajah polos itu. Bibirnya tersenyum saat melihat Maxxie ada di dekatnya.
"Tidurlah lagi jika kau masih mengantuk dan lelah", ucap Maxxie sambil mengusap lembut wajah Ela.
Ela beringsut ketika kesadarannya telah terkumpul sempurna. Ela Menyandarkan punggungnya pada ujung tempat tidur sambil merapikan rambut dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain menarik selimut menutupi tubuh nya.
"Apa yang mau kau tutupi dari suami mu, hem. Biarkan saja terbuka aku menyukainya. Apa lagi banyak cap kepemilikan seperti itu", ucap Max menggoda Ela dengan menunjukkan tanda merah ulahnya yang membekas.
"Aku malu jika kau melihatku intens seperti itu. Saat bercinta, adalah hal yang berbeda. Aku melupakan akal sehatku".
"Bercinta dengan siapa yang kau maksud, hem?", selidik Maxxie. Jemari tangannya masih mengusap lembut wajah polos Elara.
"Tentu saja dengan suamiku", jawab Ela cepat sembari melingkarkan tangan pada leher Max. Maxxie tersenyum mendengarnya, laki-laki itu tentu saja tidak bisa menutupi rasa bahagianya.
"Kau sudah tampan sekali. Sebaliknya sekarang aku membersihkan tubuh ku juga agar kita berimbang. Kalau begini kau menang banyak. Bisa-bisa suamiku di ambil wanita lain. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mendekati mu", goda Elara sambil melebarkan kedua matanya menatap penuh cinta suaminya.
"Pagi ini adalah pagi terindah dalam hidupku. Saat membuka mata, bisa melihat mu", ucap Elara tersenyum sambil memiringkan wajahnya yang sedang di usap Maxxie.
__ADS_1
"Artinya pagi mu akan selalu indah, karena aku akan selalu ada di samping mu ketika matamu terbuka", balas Maxxie menatap penuh cinta Elara.
Elara mengecup bibir Max. "Sebaiknya aku mandi seka–"
"Nanti saja. Kau harus bertanggungjawab pagi ini karena sudah membangkitkan gairah suami mu lagi", bisik Maxxie lembut di telinga Elara yang membuat tubuh wanita itu langsung diliputi gelenyar luar biasa.
"Tidak akan cukup, jika kau hanya memberikan kecupan pada suami mu, sayang. Karena aku menginginkan lebih", ucap Maxxie terdengar begitu intim di telinga Elara yang sudah terlentang di bawah kungkungan tubuh Maxxie.
Tubuh saling berhimpitan dengan tatapan saling memuja satu sama lainnya. Deru nafas kian tersengal. Detak jantung pun kiat cepat. Tiba-tiba hawa panas kembali menguasai kamar mewah itu.
Tanpa buang waktu, Max me*umat bibir ranum istrinya. Pun Elara langsung membalasnya tak kalah panasnya. Bibir keduanya saling bertautan dengan penuh gairah. Saling mencecap hingga ke dalam.
Kedua tangan Ela melingkar pada pinggang Maxxie yang ada di atas tubuhnya. Elara kooperatif, membalas buaian suaminya. Bergantian saling menindih hingga berguling di atas tempat tidur berukuran luas itu.
"Ah, Elara kau menggodaku sayang. Aku menginginkan mu lagi".
"Akh... M-axxie".
"Kau cantik sekali di pagi hari Ela. Aku menyukai mu saat bangun tidur begini kau sangat seksi".
Max menurunkan bibirnya menyusuri tubuh Elara, semakin kebawah. Dan berhenti di gundukan kembar yang begitu menantang.
Max tersenyum menatap banyak tanda merah di dada itu, ulahnya semalam. "Hm... sepertinya masih banyak tempat kosong, aku harus menambah cap pagi ini di tubuh mu".
Jemari Max meremas hingga mencubit puncak Ela. Membuat wanita itu meringis menahan rasa perih dan nikmat bersamaan.
__ADS_1
Ting..
Tong..
Bel di pintu berbunyi. Namun seakan tidak mendengarkan bunyi tersebut keduanya tidak menghentikan aktivitas mereka. Hingga terdengar lagi bunyi bel yang menyadarkan Elara.
"Sayang, apa kau sedang menunggu seseorang?"
Ting...
Tong...
Seakan menulikan pendengarannya, Max masih sibuk dengan pekerjaannya. Mulutnya mengulum penuh puncak Elara. Membuat tubuh Ela bergetar hebat.
"Akh.. S-ayang hentikan, aku tidak bisa kalau bel itu terus berbunyi–"
"Ah, shitt...berani sekali mengganggu ku! Awas saja akan ku pecat pelayan sialan itu!"
"Pelayan? Apa kau memesan sesuatu?"
"Aku memesan makan pagi kita", jawab Max kesal.
Elara tersenyum melihat suaminya kacau begitu. "Itu bukan salah mereka. Bukalah pintunya, aku akan mandi dulu. Kebetulan sekali perutku sudah sangat lapar", ujar Elara sambil berdiri, mengambil kemeja putih Maxxie yang teronggok di dekat tempat tidur. Memakainya menutupi tubuhnya.
Maxxie melompat menarik tubuh Elara. "Dengan begini, kau semakin memancing ku Ela. Aku semakin ingin menyelesaikannya! Aku janji tidak akan lama.."
__ADS_1
...***...
To be continue