ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
LOUISA DAN LOUIS


__ADS_3

Hari berganti hari, waktu pun terus bergulir. Di sudut ruang rumah sakit mewah yang berada di tengah kota Houston nampak laki-laki hilir-mudik di depan pintu. Tepatnya di depan ruang operasi. Kedua netra silver milik laki-laki itu tak henti menatap lampu emergency yang ada di atas pintu, menandakan di dalam sedang ada operasi besar.


"Oliver, sebaiknya kau duduk. Tenangkan diri mu. Olivia akan baik-baik saja", ucap Ryan menenangkan temannya itu.


"Huhh... Aku sangat gugup Ryan melewati fase ini pertama kali bagi ku. Seperti yng yang kau tahu kala Oliv melahirkan Asley aku tidak ada di sampingnya, ia berjuang sendiri. Jujur, aku gugup. Rasanya jantung ku seperti mau berhenti sekarang", ucap Oliver.


Ryan menepuk pundak temannya itu.


"Lihatlah lampunya sudah hijau, menandakan istri mu sudah selesai di operasi. Tenangkan dirimu".


Oliver menganggukkan kepalanya sembari menghela nafas panjang bertepatan dengan pintu yang terbuka.


Terlihat para perawat mendorong ranjang pasien. Diatasnya tergolek lemah tubuh Olivia yang masih memejamkan matanya dengan jarum infus di sebelah kiri.


"Bagaimana keadaan istri ku?".


Perawat-perawat itu tidak menjawab apapun hanya tersenyum sambil berlalu membawa Olivia ke kamar observasi. Namun Oliver bisa mendengar tangisan bayi bersahutan. Ia mencondongkan tubuhnya melihat ke dalam.


"Oli, lewat sini. Anak mu juga harus melalui tahap observasi".


Oliver segera mengikuti Ryan masuk ke ruang observasi.


Tubuh Oliver tercekat di di depan pintu. Ketika melihat dua bayi mungil satu persatu di masukkan ke dalam box khusus.


Ryan menarik tangan temannya itu.


"Lihatlah anak mu", ucap Ryan.

__ADS_1


"Selamat tuan Oliver. Sepasang bayi kembar tuan, lahir dengan selamat tidak kurang suatu apapun. Bayi perempuan lahir terlebih dahulu", ucap dokter kandungan yang menanganinya persalinan Olivia dengan ramah.


"Nona Olivia masih harus di observasi beberapa jam kedepan, karena ia di bius total saat operasi", ucap dokter Chelsea yang merupakan teman Ryan dan Hillary istrinya.


Oliver menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Oliver tahu persis kejadiannya, kenapa sampai Oliv harus di bius total. Tadi setelah makan malam, tiba-tiba Olivia dikejutkan dengan cairan ketuban yang sudah membasahi pahanya. Terjadi kepanikan di mansion mereka.


Memang persalinan Olivia tinggal menunggu waktu nya saja. Dokter Chelsea pun sudah sering mengingatkan bahwa hamil kembar dan hamil biasa itu berbeda. Hamil kembar persalinannya akan maju dari jadwalnya itu adalah hal biasa.


*


Dua jam berlalu, sementara langit kian gelap ketika Olivia membuka matanya dengan sempurna. Suasana hening seketika di rasakan Olivia. Matanya langsung tertuju pada botol infus di sisi tempat tidurnya. Kemudian Oliv memperhatikan sekitar kamar, pandangannya terhenti pada dua buah box bayi yang tertutup tirai berwarna pink dan biru muda.


Olivia baru menyadari sekarang ia sudah berada di kamar rawat inap.


Di sebelah tempat bayi tersebut nampak Oliver tertidur dalam posisi duduk di atas kursi dengan kepala sedikit mendongak.


"Sayang..."


"Sayang...aku haus..."


Jemari Olivia hendak mengambil gelas yang terlihat sudah berisi air di atas lemari kecil di sampingnya. Namun ternyata tangannya tak sampai. Olivia ingin bangun tetapi bagian bawah perutnya masih terasa nyeri. Ia semakin berusaha untuk menjangkau gelas namum sia-sia, gelas itu malah jatuh.


"Prangg!"


Oliver tersentak. Matanya terbuka dan melihat Olivia sudah membuka matanya. "Sayang kau sudah sadar?"


Oliver menghamburkan memeluk tubuh istrinya. "Pengaruh obat biusnya kenapa lama sekali", ucap Oliver mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Akh... Oli, kau menyakiti ku. Perutku masih terasa perih", rintih Olivia. "Aku haus".


Oliver segera melepaskan dekapan nya menatap wajah Olivia yang meringis kesakitan karena nya. "Maafkan aku sayang. Aku terlalu senang dan bahagia melihat mu sudah siuman".


Oliver segera membantu istrinya minum, ia meninggikan punggung tempat tidur agar Olivia merasa nyaman. Oliv meneguk minuman hingga tandas, ia benar-benar merasakan haus.


"Sayang bagaimana anak kita, apa mereka baik-baik saja?"


Oliver duduk di tepi tempat tidur menatap penuh kasih sayang Olivia. "Anak kembar kita baik-baik saja".


"Lihatlah Louisa dan Louis, tertidur pulas. Mereka sehat tidak kurang suatu apapun", jawab Oliver menunjuk anak mereka di dalam box bayi.


"Louisa-Louis?"


"Iya. Aku memberi nama anak kita, Louisa Alexandra Lucifer dan Louis Alexander Lucifer. Bagaimana...apa kau menyukai nama pemberian ku, hem?"


Olivia melebarkan senyumnya sembari menggenggam erat jemari Oliver. "Tentu saja sayang, aku sangat menyukainya. Terimakasih sayang kau ada untuk kami", ucap Olivia terdengar lembut begitu bahagia.


"Aku yang harus berterimakasih pada mu, karena sudah memberiku dua anak lagi, Olivia. Kau telah berjuang mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anak-anak kita. Sungguh aku menyesal tidak bersama mu ketika Asley lahir. Tapi yakinlah aku akan menebus kesalah itu, aku akan selalu untuk kalian".


Perkataan Oliver tentu saja membuat perasaan Olivia menghangat. Namun menandakan sebuah kebahagiaan, bukan kesedihan. Olivia tidak merasakan perih bekas jahitan lagi, ia menghambur memeluk Oliver.


"Saat menjelang melahirkan Asley kala itu aku menangis. Aku benar-benar membutuhkan mu ada bersama kami, Oli. Hingga menjelang hari persalinan, acapkali aku memohon supaya kau hadir. Namun aku sadar itu hal mustahil terjadi".


"Siapa sangka beberapa tahun kemudian, doa-doa ku di kabulkan. Kau ada bersama kami. Kau menemaniku melahirkan", ucap Olivia sembari meneteskan air mata bahagia.


Oliver mengusap punggung Olivia dan mengecup puncak kepala istrinya itu. "Kita akan terus bersama sayang. Hidupku sudah lengkap sekarang. Memiliki istri sempurna seperti mu dan anak-anak yang sehat. I love you so much Olivia Quinta Ramírez..."

__ADS_1


...***...


Tinggal beberapa bab lagi IYT end ya. Malam nanti launching karya baru PERNIKAHAN PALSU IVANA, nantikan 🙏


__ADS_2