ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
PERASAAN MENDALAM


__ADS_3

"Maafkan aku", ujar Ela tertunduk sambil memutar-mutar cincin pertunangan mereka.


Entah apa yang ada di kepala Ela, tiba-tiba ia melepaskan cincin itu.


"Aku tidak pantas memakainya, aku sudah menyakiti mu", lirihnya dengan suara bergetar.


Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Ela tidak sanggup menatap kedua manik tajam Maxxie. Ia sadar betul, Max membencinya.


"Aku tahu kau menemui ku, untuk mengambil cincin ini, dan memutuskan hubungan kita", ucap Elara pelan nyaris tak terdengar. Tubuhnya pun gemetaran. Pikiran Elara begitu kalut. Ia meyakini apa yang ada di pikirannya. Max pasti akan memutus hubungan pertunangan mereka.


Ela memalingkan wajahnya saat Maxxie berdiri tanpa jarak dengan. Max menarik dagu Ela agar ia menatapnya. Sementara satu tangannya menggenggam jemari Ela yang memegang cincin.


Tanpa Elara sadari, air mata yang menganak di sudut mata jatuh menyentuh wajahnya. Dengan mata berkabut Ela menatap Maxxie.


"M-aafkan ak–"


Elara tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika mulut nya di penuhi mulut Maxxie. Bibir Ela terasa begitu dingin dan bergetar. Tubuhnya terasa lemah. Seandainya saja tangan Maxxie tidak memegangi nya sudah dipastikan Elara akan ambruk. Elara tidak membalas sedikitpun tautan bibir Maxxie. Ia hanya terdiam dengan tubuh gemetaran.

__ADS_1


Perlahan Maxxie melepaskan tautan bibirnya pada bibir Elara. Kedua matanya memancarkan rindu terpendam yang teramat sangat. Kedua jemari tangannya mengusap lembut wajah kekasihnya itu dan menghapus air mata yang terus-menerus membasahi wajah cantik Ela yang terlihat sangat pucat. Bahkan Maxxie bisa merasakan tubuh Elara bergetar.


Maxxie menarik tubuh Ela kedalam dekapannya.


"Maafkan aku sayang. Tentu saja aku tidak menginginkan kau pergi dari ku. Bagaimana mungkin kau berpikiran aku tidak mengharapkan kelanjutan hubungan kita. Aku menginginkan, bahkan menginginkan hubungan yang lebih serius lagi. Aku ingin segera menikah dengan mu, Ela", ucap Maxxie sambil mengusap lembut punggung Ela memberikan kehangatan dan menenangkan perasaan Elara.


Maxxie mengecup lembut pucuk kepala Elara. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku, sayang. Tidak akan aku biarkan. Aku mencintaimu Elara", ucap Maxxie penuh perasaan.


Seperti mendapatkan siraman air deras untuk lahan yang tandus, ketika mendengar ucapan Maxxie, detik itu juga Elara menangis haru dalam dekapan Maxxie.


Seakan tidak percaya apa yang didengarnya. Elara masih sangsi. "A-ku takut. Aku banyak melakukan dosa di masa lalu. Bahkan aku wanita yang begitu tega", lirih Ela bergetar.


Air mata Elara membasahi pakaian Maxxie. Max merasakan dada nya hangat. Namun Maxxie merasakan tubuh Elara begitu dingin dan gemetaran.


Maxxie melepaskan pelukannya dan menatap Ela yang terlihat begitu pucat. "Sayang...apa kau tidak apa-apa?"


Maxxie meraba wajah Elara yang begitu pucat. Ela menatap Maxxie dengan tatapan sendu. Tanpa pikir panjang Maxxie mengangkat tubuh kekasihnya itu masuk kedalam villa. Dan merebahkan tubuh itu di sofa yang terlihat oleh Max di ruang keluarga yang berukuran luas.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu. Jangan berpikiran macam-macam, sekarang aku ada bersamamu", ujar Max mengusap lembut wajah Ela dengan penuh perasaan.


Maxxie melihat tangan Elara terkepal menggenggam cincin pertunangan mereka. Max membuka tangan Ela, mengambil cincin itu dan memasangkan kembali di jari manis Elara. "Aku bisa menerima mu apa adanya. Kelebihan dan kekurangan mu. Cincin ini tanda cinta kita, jangan di lepaskan lagi", ucap Maxxie yang duduk di sofa yang sama di mana tubuh Ela rebahan saat ini.


Buliran-buliran bening tak terbendung lagi, kembali membasahi wajah Elara. "A-ku tidak mau lagi mengingat masa lalu ku. Aku tidak mau jika suatu hari nanti kau akan kembali mengungkit nya. Lebih baik biarkan aku sendiri", ucap Elara pelan.


"Tidak sayang. Ketika kau pergi malam itu, aku merasakan kehampaan di hati ku. Aku mengejar mu, tapi kau sudah berlalu. Aku menunggu di apartemen mu, kau tak kembali".


"Aku sudah mengambil keputusan yang tidak akan ku khianati. Aku tahu perasaan ku, aku menginginkan mu. Aku mencintaimu segenap jiwa raga ku, Elara. Aku bisa menerima masa lalu mu itu".


"Kemarin aku syok mendengar pengakuan mu, namun tak sebanding dengan perasaan cinta yang aku miliki untuk mu. Aku tidak mau kita putus. Aku ingin kau menjadi istri ku, Elara. Secepatnya menikahi mu".


Kedua netra Elara mengerjapkan kelopak matanya. Seperti mimpi mendengar penuturan Maxxie yang membuat perasaan menangis haru.


Jemari Max menghapus air mata Elara, perlahan wajah Max mendekati Elara, begitu dekat tanpa jarak.


"Aku mencintaimu Elara. Menerima mu apa adanya. Tidak ada yang bisa merubah perasaan ini pada mu. Aku janji tidak akan pernah mengungkit masa lalu mu lagi. Jangan pernah lagi berpikir untuk pergi dari ku Ela. Tempat mu di samping ku", bisik Maxxie lembut di telinga Elara.

__ADS_1


...***...


__ADS_2