ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
SEPI DAN RINDU


__ADS_3

Malam kian larut...


Olivia berdiri di balkon kamarnya. Menatap kelam nya malam. Setelah pulang dari menonton pertunjukan balet Elara, Olivia dan Asley langsung di antar pulang oleh Maxxie ke mansion mereka.


Namun sedari tadi mata Olivia tidak dapat terpejam sedikitpun. Tiba-tiba perasaan sepi dan sunyi yang sering di rasakan nya datang lagi. Apalagi tidak ada lagi celotehan Asley, karena anak itu sudah sejak tadi terlelap tidur di kamarnya sendiri.


Beberapa saat yang lalu, Olivia merasakan dadanya begitu sesak dan ingin menangis. Perasaan yang sering di rasakan nya selama ini kala merasa kesepian.


Sekilas ia mengingat Oliver. Sejak beberapa hari yang lalu Oliver kembali ke kota Houston, tak sekalipun laki-laki itu menghubungi Olivia. Setidaknya menanyakan keadaan Asley anak mereka.


Tiba-tiba kedua mata Olivia menghangat. Bahkan air matanya sudah menganak di sudut mata indah yang nampak sendu itu.


"Bahkan ia tidak merindukan Asley anaknya", lirih Olivia sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


Tiba-tiba Olivia tersentak, seketika membalikkan badannya ketika mendengar tangisan Asley. "Sayang ada apa?"


Cepat-cepat Olivia menghampiri anaknya yang menangis setengah menjerit.


"Nona, tuan Asley tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Ia bilang merindukan daddy-nya tuan Oliver".


Nampak Olivia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia segera menggendong tubuh Asley dan memeluknya dengan erat. "Kau lanjutkan saja istirahat mu, Anne. Malam ini anakku tidur bersama ku".


Baby sitter Asley menganggukkan kepalanya. "Baik nona, kalau begitu saya permisi keluar", ucap Anne sopan.


Beberapa saat setelah Anne pergi dari kamar, masih terdengar tangisan Asley. Anak itu memeluk erat leher Olivia sementara wajahnya bersandar pada bahu Oliv. Nampak tersengal-sengal.


Dengan penuh kasih sayang Oliv mengusap punggung Asley. "Sayang, sekarang tidur lagi ya, bersama mommy. Hari sudah malam", ucap Olivia dengan lembut. Ia membujuk Asley sambil duduk di tepi tempat tidur memangku dan memeluk erat tubuh anak itu.


Sejujurnya suasana hati Olivia sedang sedih saat tiba-tiba Asley masuk kamarnya dalam keadaan menangis. Terlebih Anne mengatakan Asley terjaga karena merindukan daddy-nya semakin membuat hati Olivia pilu.

__ADS_1


Sejujurnya ia pun menangis, Oliv merasa sangat bersalah pada anaknya itu.


Olivia sangat tahu bagaimana putranya. Tidak akan menangis jika perasaan nya tenang. Asley bukanlah anak cengeng. Sedari lahir anak itu jarang sekali menangis seakan-akan tahu suasana Olivia. Asley ingin selalu membuat sang mommy tenang.


Namun sekarang tepatnya malam ini Olivia merasa seperti di pecut hatinya, ketika ia dan Asley memiliki perasaan yang sama dalam waktu bersamaan pula.


Sama-sama merasa rindu pada satu orang. Yaitu Oliver.


"Apa Asley merindukan daddy Oliver?", tanya Olivia dengan lembut sambil mengusap punggung putranya. Sesekali Olivia menciumi harum rambut putranya itu.


Asley menyandarkan wajahnya pada dada Olivia, menganggukkan kepalanya pelan. Anak itu menghisap ibu jarinya. Asley Nampak lesu karena lelah sehabis menangis.


"Huhh.."


Olivia menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Hatinya benar-benar menangis sekarang. Bukan hanya hatinya yang menangis, buliran-buliran bening yang menganak di sudut matanya pun jatuh tanpa bisa di cegah lagi.


Olivia berusaha tegar, menghapus air matanya. "Apa Asley mau menemui daddy Oliver?", tanya Olivia dengan suara lirih dan bergetar.


Olivia tersenyum. Kemudian menciumi wajah menggemaskan anaknya itu. "Tentu saja mommy merindukan ayah mu, sayang. Besok mommy janji akan mambawa mu menemui daddy. Sekarang sayang mom tidur lagi ya", ucap Olivia dengan lembut sambil mengusap wajah Asley. Sekuatnya Olivia berusaha untuk tersenyum agar membuat Asley tenang.


"Benarkah mommy akan mengajak ku menemui daddy?"


Spontan Oliv menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja sayang. Kau bisa melepas rindu pada daddy. Mom janji akan selalu membahagiakan mu, nak", jawab Olivia tersenyum menatap anaknya.


Tiba-tiba Asley memeluk erat Olivia. "Aku menyayangi mommy".


"Mommy juga sangat menyayangi mu", jawab Olivia tidak bisa menutupi rasa harunya. Bagi Olivia sekarang adalah suasana yang membuatnya perasaannya menjadi sentimentil.

__ADS_1


Oliv memindahkan tubuh Asley ke tempat tidur. Ia pun merebahkan tubuhnya di sebelah Asley. Olivia memiringkan tubuhnya sembari mengusap-usap punggung anak kesayangannya itu.


"Mommy, apa kota Houston itu jauh dari kota New York?", tanya Asley polos. Nampak matanya sudah menahan kantuk. Bahkan sudah beberapa kali anak itu menguap.


"Jika menggunakan pesawat tidak lama sayang. Tapi jika menggunakan mobil tentu saja bisa sangat lama sampai di sana", jawab Olivia tersenyum.


"Mommy, apa kota Houston indah seperti kota New York?"


Lagi-lagi Olivia tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. "Tentu saja sayang, kota Houston sangat indah tapi tidak seramai kota New York", jawab Olivia.


Tidak ada lagi sahutan Asley. Olivia tersenyum melihat putranya sekarang sudah tertidur kembali. Ia nampak tenang, meskipun nafasnya masih tersengal-sengal sisa menangis tadi. Asley belum bisa lepas dari ibu jarinya. Ketika tidur itu pasti menghisap ibu jarinya.


Perlahan tangan Olivia menarik jemari mungil itu. Kemudian ia menyelimuti tubuh Asley.


"Mommy sangat menyayangi mu", bisik Olivia sambil mengecup lembut kening Asley yang sudah tertidur pulas.


Olivia tersenyum melihat pemandangan itu. Ia mengambil handphone miliknya di atas nakas.


Beberapa menit kemudian..


"Lyzbet, pesankan dua tiket first class ke Houston besok siang. Atas namaku dan putra ku!"


Tidak ada jawaban Lyzbet di seberang sana.


"Lyzbet...apa kau mendengar ku?"


"B-aik nona Olivia", jawab Lyzbet dengan suara serak ciri khas orang mengantuk".


"Maafkan aku mengganggu istirahat mu, tapi ini sangat penting".

__ADS_1


"Tentu saja tidak apa-apa nona Olivia", jawab Lyzbet dari seberang telepon yang sudah terdengar lebih tenang sekarang.


...***...


__ADS_2