ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
LONG NIGHT (Olivia-Oliver)


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hari berganti hari..


Oliver terlihat sedang sibuk di ruang kerjanya, sementara hari semakin gelap. Ia tidak sendiri, seperti biasa di temani asisten nya Javier.


"Tuan besok penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan milik tuan Elland. Namun tuan Elland akan di wakilkan orang kepercayaannya".


"Iya, Elland sudah menghubungi ku".


Oliver melihat kearah jam yang berdetak di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.


Ceklek..


Nampak Olivia yang membuka pintu. Oliv melihat masih ada Javier bersama suaminya.


"Maafkan aku mengganggu kalian, aku kira Javi sudah pulang", ujar Olivia hendak kembali menutup pintu.


"Kemari lah sayang, Javier sudah mau pulang. Besok saja kita lanjutkan di kantor. Kau pulanglah Javier. Untuk penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan Elland, wakilkan saja", perintah Oliver.


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi pulang tuan-nona. Selamat malam", ucap Javier dengan hormat.


"Malam Javier", jawab Olivia tersenyum ramah sebelum asisten suaminya itu menutup rapat pintu kayu berwarna coklat tua tersebut.


"Kemari Lah sayang", pinta Oliver pada Olivia sambil menepuk pahanya.


Olivia menyipitkan matanya. "Sekarang sudah malam Oli, kita ke kamar saja, aku sudah mengantuk. Aku sehabis menidurkan Asley. Sekarang ia sudah terlelap".


"Sebentar saja. Aku ingin memperlihatkan hasil kerja sama perusahaan kita. Lihatlah kau pasti senang", jawab Oliver memperlihatkan gambar melalui MacBook miliknya.


Terlihat gedung bandara yang sangat megah. "Apa pengerjaannya sudah selesai Oli?", tanya Olivia antusias. Ia menuruti Oliver duduk di pangkuan laki-laki itu.


"Ya. Sekarang tinggal finishing saja. Dalam jangka waktu satu minggu sudah selesai dan bulan depan sudah bisa di resmikan".


Oliver melingkarkan tangannya pada perut Olivia, memeluknya erat. Olivia dapat merasakan hembusan nafas suaminya.


"Aku salut dengan kinerja orang-orang mu. Ternyata sangat cekatan".


"Ya begitulah kerja kami, tuan Oliver. Selain Max, merekalah yang sudah membantu ku selama ini. Hingga aku bisa mendirikan perusahaan sendiri dan bisa bersaing dengan perusahaan mu yang sudah terkenal", ujar Olivia memuji kinerja anak buah yang ia miliki.


Jemari Olivia men-scroll foto-foto yang ada di layar MacBook, melihat satu persatu. Oliv puas dengan hasil yang nampak. Meskipun tak sekalipun ia melihat secara langsung pekerjaan itu, karena ia harus menemani Asley dan Oliver pun melarangnya pergi ke lokasi. Menurut Oliver cukup ia saja yang ke sana.

__ADS_1


"Begitu rupanya". Oliver menyampirkan rambut panjang bergelombang istrinya ke samping, menyandarkan dagunya pada bahu Oliv, mengecup leher jenjang istrinya.


Olivia tidak bereaksi apapun ia masih fokus melihat satu persatu gambar-gambar dilayar MacBook Oliver. Hingga usapan jemari tangan Oliver membuyarkan konsentrasi Olivia.


Jemari tangan kokoh itu mengusap paha bagian dalam Olivia, tindakan Oliver membuat tubuh Oliv bergidik dan meremang seketika. "S-ayang apa yang kau lakukan, ahh–"


"Menggoda istri ku, apalagi", jawab Oliver terdengar sangat lembut ditelinga, membuat tubuh bergetar Olivia bak tersengat aliran listrik tegangan tinggi.


Hingga jemari laki-laki itu menarik dagu Olivia dan me*umat lembut bibir ranum istrinya, menjelajahi rongga mulut hingga menyapu langit-langit.


Buaian Oliver sangat hebat, seketika melumpuhkan pikiran jernih Olivia. Oli mencium begitu liar. Lidah keduanya saling membelit satu dan lainnya.


Oliver menyandarkan punggungnya dan memutar tubuh Olivia menghadap nya agar lebih leluasa. Keduanya bertatapan dengan mesra.


Walaupun ciuman itu hanya sesaat tapi rasanya nya sangat memabukkan, Olivia sampai mengerang menahan gairah tubuhnya akibat ulah suaminya. Olivia menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Huh...Oli, kau membuatku sesak, aku tidak bisa bernafas", ucap Olivia dengan nafas masih terdengar terengah-engah.


Oliver menyandarkan punggungnya, sementara tangannya menurunkan jubah tidur berbahan lembut yang menutupi gaun tidur seksi istrinya hingga menampakkan pundak putih mulus Olivia.


Oliver seakan tidak dengar atas komplain istrinya. laki-laki itu semakin menjamah area sensitif tubuh Olivia.


Jemari-jemari itu meremas dan memainkan puncak kenyal Olivia. "Aku selalu menyukai dada mu, sayang. Milikku langsung berdiri hanya melihatnya saja", ucap Oliver dengan suara berat karena sudah dilingkupi hasrat yang membuncah dalam dirinya.


Lidah Oliver menyapu puncak berwarna merah muda, tepat berada di hadapannya. Bergantian me*umat puncak yang sudah mengeras itu.


Olivia melenguh panjang, wanita itu mengenadahkan wajahnya sembari meracau tak karuan. Ia menjerit kecil ketika merasakan perih bercampur nikmat saat Oliver mengigit pu*ingnya.


"Oh, sayang jangan di gigit. S-akit". Namun tangan Oliv semakin menekan kepala suaminya seakan meminta lebih.


Olivia menarik atasan yang di pakai suaminya hingga terlepas dari tubuh atletis Oliver. Jemari tangannya menyentuh dada bidang Oli. Kedua netra Olivia berkabut gairah. Tak berkedip menatap tubuh maskulin Oliver. Bahkan untuk menelan salivanya sendiri saja Olivia nampak kesulitan.


Tubuhnya semakin bergetar hebat ketika Oliver mengangkat nya ke atas sofa berwarna cokelat tua yang ada di ruangan itu.


"S-ayang apa kita akan melakukannya di sini?".


"Kenapa tidak. Aku sudah tidak tahan jika harus ke lantai tiga", jawab Oliver dengan suara berat sambil menurunkan joger pant yang di pakai nya sembari menatap tanpa kedip tubuh polos Olivia yang sudah terlentang di atas sofa.


"Sekarang sudah malam, Asley pun sudah terlelap. Tidak ada yang menganggu kita di sini".

__ADS_1


Olivia menggigit bibir bawahnya menatap sayu tubuh seksi Oliver. Ia tahu Oli sengaja menggodanya dengan berlama-lama berdiri seperti itu, sementara boxer yang menutupi intinya belum di lepas.


"Kau sengaja menggoda ku kan?", Protes Olivia sambil duduk di tepi sofa. Berinisiatif menurunkan kain terakhir yang melekat di tubuh suaminya.


Olivia menatap tak berkedip milik suaminya. Meskipun ia sering melihatnya namun selalu saja membuat mulut ternganga dalam keadaan diliputi gairah panas seperti ini.


Tanpa ragu, jemari lentik Oliv menyentuh milik Oliver dan mengusapnya perlahan-lahan, mengulum seperti lolipop kesukaan Asley.


Tindakan Olivia membuat pemiliknya mengeram tertahan sambil mengenadahkan kepalanya. "Ah, nikmat sekali sayang", racau Oliver sembari menekan kepala Olivia.


"****. Kau pintar sekali menggodaku, sayang".


Oliver mendorong tubuh istrinya kembali terlentang, jemari tangannya kembali meremas dan memilin gunung kembar Olivia.


Olivia semakin kacau. Mulutnya terbuka, tak henti mengeluarkan suara-suara merdu memenuhi ruangan kerja mewah tersebut. Tubuh Olivia kian menegang ketika jemari Oliver menggelitik miliknya. "Akh–"


Olivia memejamkan mata, menikmati sensasi yang di akibatkan sentuhan suaminya. Tangannya tak bisa diam, meremas rambut tebal Oliver. "Ahh, sayang...aku mohon".


Oliver tahu istrinya sudah mendapatkan pelepasan.


"Milik mu sudah sangat basah sayang", ucap Oliver sambil mengarahkan milik nya ke inti Olivia.


"Akh–"


Tanpa ampun Oliver langsung menghentakkan kuat-kuat miliknya hingga dalam. De*ahan, erangan hingga racauan kian berpacu tanpa jedah.


Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Meskipun ruangan itu sudah sangat dingin namun hawa panas seketika tercipta di sana menguasai tubuh olivia dan Oliver.


Bergantian memimpin, menghimpit dengan usapan-usapan lembut yang semakin memberikan sensasi gelenyar di sekujur tubuh keduanya. Hingga terdengar teriakan tertahan Olivia ketika merasakan cairan hangat milik Oliver menyembur memenuhi intinya.


Tubuh keduanya terkulai dengan nafas menderu. Oliver memeluk erat tubuh polos istrinya. "Semoga percintaan kita kali ini membuahkan hasil, bisa tumbuh menjadi janin di perutmu", bisik Oliver.


Olivia menautkan jemari tangannya ada jemari Oliver. "Iya sayang. Aku sudah sangat siap memberikan anak lagi pada mu", jawab Oliv pelan sambil memejamkan kedua matanya. Lelah dan rasa nikmat melebur menjadi satu malam ini bagi Olivia.


...***...


TO BE CONTINUE


Mau kumpulin like dan komen kalian dulu nih. Kalau banyak up lagi. Kalau sedikit kita lanjut besok lagi ya.

__ADS_1


__ADS_2